Beranda Olahraga Kickers

Perang Apparel di Liga 1

BERBAGI

JERSEY merupakan lambang sebuah klub. Tak ayal, setiap klub berlomba mendesain jersey terbaik. Mereka pun tak segan menggandeng apparel ternama untuk menghasilkan jersey jempolan.

Hal itu juga yang dilakukan oleh 18 klub di Liga 1 musim 2018. Total, ada 11 apparel yang menjadi partner dari 18 tim Liga 1. Yang mengejutkan, apparel dalam negeri masih mendominasi.

Total, ada tujuh apparel lokal yang menjadi mitra tim Liga 1. Specs menjadi apparel yang paling diminati. Total, ada tiga klub yang menggunakan apparel tersebut. Mereka adalah Arema FC, Persipura Jayapura, dan Persija Jakarta.

Musim lalu, Persipura dan Arema sudah menggunakan jasa Specs. Hal itu berbeda dengan Persija Jakarta. Musim ini adalah kali pertama mereka menggunakan Specs. Musim lalu, tim Macan Kemayoran bermitra dengan League.

”Specs ini produk dalam negeri yang kualitasnya tak kalah dengan asing,” ungkap Direktur Utama Persija Gede Widiade saat ditanya mengapa akhirnya beralih ke apparel Specs. Selain itu, nilai kontrak yang besar juga menjadi alasan. ”Jumlahnya miliaran lah,” tegasnya.

Jika apparel dalam negeri didominasi oleh Specs, Umbro menjadi raja bagi apparel asing. Pencapainnya sama dengan Specs. Ada tiga klub yang menggunakan jasa apparel asal Inggris ini.

Tiga tim itu juga termasuk yang patut diperhitungkan di Liga 1. Yakni, PSM Makassar, Barito Putera dan juara bertahan, Bhayangkara FC.

Uniknya, ketiga klub tersebut baru menggunakan balutan Umbro pada musim ini. Musim lalu, PSM menggunakan jersey asal Spanyol, Kelme. Sementara Barito beralih dari brand lokal, Supperior ke Umbro

Sedangkan Bhayangkara sebelumnya bermitra dengan apparel asal Bandung, Vilour. Bhayangkara memiliki alasan kala memutuskan hijrah dari Vilour ke Umbro. CEO Bhayangkara Royke Lumewa mengatakan, Umbro sudah memiliki tradisi panjang dalam sepak bola dunia.

”Sehingga tradisi bagus itu kami harap dapat menular dalam tim,” tegasnya.

Hal itu jelas berbeda dengan Barito Putera. Kerja sama apparel termasuk dalam kerjasama bisnis strategis. Karena itu, mereka langsung meneken kontrak selama tiga tahun dengan Umbro.

”Ini bukti keseriusan manajemen untuk memenuhi kebutuhan bertanding bagi pemain. Umbro tak perlu diragukan lagi,” kata Manajer Barito Hasnuryadi Sulaiman.

Selain itu, datangnya Umbro juga membuat harga jersey original Barito Putera terkerek. Ada tiga level jersey yang dijual. Yakni pro dengan harga Rp599 ribu, tim Rp399 ribu dan replica Rp199 ribu. Praktis, harga jersey yang naik berpotensi membuat kas keuangan klub membengkak.

Perang uang antara Specs dan Umbro ternyata dikuntit oleh produk lokal, MBB. Apparel asal Bogor itu mampu menggaet dua tim Liga 1 musim ini. Mereka adalah Madura United dan PS TIRA.

Bahkan, PS TIRA sudah menggunakan jasa MBB sejak musim lalu. Keputusan Madura United menggandeng MBB juga bukan tanpa alasan.

Sebelumnya, tim berjuluk Laskar Spe Kerrab itu sudah menggunakan MBB pada Torabika Soccer Championship 2016. Kemudian beralih ke apparel asal Jepang, Mizuno pada Liga 1 2017. Sayangnya, kerja sama tersebut hanya berlangsung semusim.

”Kami memutuskan kembali ke MBB karena merasa nyaman saat di TSC lalu,” kata Presiden Madura United Achsanul Qosasi. Hal itu pula yang dirasakan PS TIRA. Sehingga memutuskan tetap bersama MBB.

Sementara apparel asing seperti Joma, Nike dan Forium masing-masing kebagian satu tim. Hal itu juga yang dialami apparel lokal selain Specs dan MBB. Mereka adalah Riors, Calci, DJ Sport, Sportama dan Noij.

Nah, di tengah pertarungan sengit itu, ada Persebaya dan Bali United malah memilih memproduksi jersey sendiri. Mereka tak menunjuk apparel resmi. Hal itu dilakukan sejak musim lalu. Padahal, Persebaya banyak ditawari apparel resmi untuk menjalin kerja sama.

”Tapi kami putuskan bertahan. Kami memilih produksi sendiri karena bisa mendesain jersey sesuai permintaan pemain,” kata Direktur Bisnis Persebaya Masany Audry.

Alasan berbeda dikemukakan oleh Bali United. Produksi jersey secara mandiri dinilai mampu menekan harga. Sehingga fans bisa lebih memilih membeli jersey original. Saat ini, harga jersey Bali United hanya Rp350 ribu.

”Kalau pakai apparel, harganya bisa Rp700 ribu,” jelas CEO bali United Yabes Tanuri.

Strategi itu dinilai berhasil. Sebab, sepanjang musim 2017, Bali United mampu menjual 7 ribu jersey resmi dari store-nya. Di sisi lain, meski produksi mandiri, namun kualitas jersey tak kalah apik.

Seperti jersey Persebaya Surabaya. Motif sisik buaya disematkan. Selain itu, jersey juga memiliki anti ultra violet. Bahkan, jersey dilengkapi dengan anti-bacterial untuk mencegah pemain bau badan.

”Kami pastikan jersey ini sangat nyaman,” tegas Masany. (gus)

Komentar Anda

Baca Juga