Beranda Metropolis

Melongok Museum Tanah, Satu-satunya di Indonesia

BERBAGI
BERSEJARAH: Staf Museum Tanah memperlihatkan galeri aneka bebatuan yang menjadi koleksi museum.

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Begitu syair lagu Kolam Susu milik Koes Plus. Lirik lagu tersebut, nyata menggambarkan hasil bumi Indonesia yang melimpah. Dari 12 jenis tanah di dunia, sepuluh di antaranya ada di Indonesia.  Begitulah pelajaran yang dipetik saat berkunjung ke Museum Tanah, Kementerian Pertanian Bogor, di Jalan Juanda.

Setelah belasan tahun mati suri sejak 1988, Museum Tanah kembali diresmikan pada 5 Desember 2017 lalu oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Sebelum diresmikan,  lokasi ini merupakan kantor Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian. Dalam catatan sejarah, gedung ini menjadi saksi kompeni, pemerintahan Belanda di Buitenzorg.

Staf Kesejarahan Museum Tanah, Asep Maulana menuturkan, lokasi yang masih berdekatan dengan Kebun Raya Bogor ini, didirikan Laboratorium voor Agrogeologie en Grond Onderzoek pada 1905. Di era berakhirnya Belanda, gedung ini menjadi Bodemkundig Instituut pada 1942, dan di masa kependudukan Jepang diberi nama Dozyoobu.

Saat Negara Republik Indonesia baru saja diproklamirkan, nama Bodemkundig Instituut kembali digunakan.

“Masa kemerdekaan,  gedung ini menjadi Balai Penelitian Tanah (Balittanah) yang meneliti teknologi dan informasi sumber daya dan pengelolaan tanah,” ujarnya kepada Radar Bogor, kemarin.

Sejak 29 September 1988, Balai Penelitian Tanah meresmikan pendirian Museum Tanah bekerja sama dengan International Soil Reference and Information Centre (ISRIC),  Wageningen Belanda. Museum Tanah  ini, kata Asep,  menyimpan berbagai model contoh tanah sebagai koleksi di Indonesia. Dengan tujuan, pengetahuan sumber daya tanah untuk mendukung pembangunan pertanian.

“Indonesia merupakan negara yang memiliki Museum Tanah. Lainnya Belanda, Dubai, Thailand, India, dan ini hanya satu di Indonesia,” katanya.

Bangunan bernuansa zaman kolonial seakan membawa pengunjungnya melewati zaman.  Di dinding terpajang foto-foto pemimpin institusi sejak zaman Belanda. Beberapa di antaranya warga Indonesia.

Seperti namanya, lokasi ini memang untuk mengetahui museum sebagai  sarana edukasi masyarakat mengenal tanah.  Wartawan koran ini juga didampingi staf penjelas jenis tanah, Listna Setyarini.

Listna menjelaskan setiap detail jenis tanah. Menurutnya,  Indonesia merupakan negeri nan kaya subur dan makmur. Ungkapan itu, terbukti bahwa dari 12 jenis tanah di dunia, sepuluhnya berada di Indonesia.

Tak heran, kata dia, jika segala apa pun bisa tumbuh di Indonesia.

“Di sini ada seluruh sampel tanah setiap wilayah di Indonesia. Ke depan kami akan lebih mikro lagi, tidak per pulau atau provinsi, tetapi per kecamatan atau desa,” katanya.

Listna juga menjelaskan awal proses pembentukan tanah, klasifikasi tanah, hingga  pemaparan pemanfaatan tanah atau lahan sesuai fungsi dan peruntukannya.

“Di sini ada monolith tanah, peta tanah kuno, biodiversitas organisme tanah, diorama ekosistem, soil test kit. Seperti lahan gambut yang terbentuk dari tumbuhan dan sulit memadamkan apinya, atau memberi pupuk pada jenis tanah vulkanik.  Jika kita kenal tanah, maka kita bisa tahu cara mengelolanya,” jelasnya.

Sejak diresmikan, museum ini padat pengunjung setiap akhir pekan. Mereka rata-rata adalah pelajar, yang ingin belajar tentang ilmu tanah. Selain pelajar, kata Listna, pengunjung umum juga banyak datang ke sini.

“Kami belum memiliki tiket karena nanti ditentukan oleh bagian Apaja. Masih gratis,” katanya.

Wartawan ini dipandu berkeliling di kompleks Museum Tanah. Di lokasi ini terdapat empat gedung, dengan satu gedung utama museum. Pada gedung A, sebuah galeri aneka ragam tanah dan bebatuan ada di sana.  Selanjutnya, gedung B untuk pertemuan, dan penginapan tamu undangan ada di gedung C.

“Kami sedang kembangkan gedung play ground dan cinema. Di sana ada pasir kinetik, agar pengunjung tahu jenis tanah bisa dipegang langsung,” jelas Listna.(*/c)

Komentar Anda