Beranda Olahraga Arena

Genk Italia vs Pasukan Spanyol di Moto GP

Andrea Doviziosso dan Valention Rossi

SPANYOL-RADAR BOGOR,Sinyal kebangkitan itu digenapi munculnya Franco Morbidelli yang keluar sebagai kampiun Moto2. Sejak Valentino Rossi merengkuh gelar terakhirnya di MotoGP pada 2009 lalu, belum ada rider Italia baru yang datang menggebrak.

Dari delapan musim yang berjalan setelah itu, tujuh di antaranya dimenangi rider Spanyol.

Satu-satunya yang berhasil mencuri gelar di tengah dominasi pasukan matador itu hanyalah Casey Stoner pada 2011.

Pamor dunia balap Italia di ajang MotoGP seperti amblas selepas masa keemasan Rossi. Sementara, pasukan matador Spanyol, perlahan tapi pasti, menginvasi grand prix dunia. Berawal dari medio 1970-an dengan munculnya Angel Nieto. Pembalap yang meninggal dunia tahun lalu tersebut ditabalkan sebagi pendiri fondasi dunia motor sport di Spanyol.

Sampai masa pensiunnya di akhir musim 1984, Nieto mengoleksi 13 gelar juara dunia. Meskipun tak satu pun diraihnya di kelas tertinggi (500cc/MotoGP).

Sebelum dan di saat Nieto masih aktif, Italia begitu kuat di ajang grand prix dunia. Nama Giacomo Agostini menguasai hampir di semua kelas. Sampai saat ini rekor 15 gelar juara dunia belum ada yang bisa melewatinya. Bahkan diperkirakan tidak akan ada yang sanggup melampauinya.

Tampil impresifnya Andrea Dovi­zioso musim lalu seperti meng­hidupkan kembali daya tempur geng pembalap-pembalap Italia. Dovi adalah tangga menuju sebuah mimpi besar yang semua pembalap Italia ingin mewujudkannya. Menjadi juara dunia di atas motor Italia. Sebuah ambisi besar yang tidak pernah lagi terwujud setelah era Agostini. Apalagi, hanya Ducati yang saat ini punya kapasitas menum­bangkan dominasi raksasa-raksasa pabrikan Jepang.

Perang Italia kontra Spanyol di MotoGP tak memulu tentang saling serang di atas lintasan. Tapi juga pernah melebar sampai keluar.

Itu terjadi pada 2015 lalu ketika konflik segitiga terjadi antara Rossi, Jorge Lorenzo, dan Marquez. Rossi menuduh Marquez membantu mantan rekan satu timnya di Yamaha, Lorenzo menjuarai MotoGP 2015.

Puncaknya, di GP Malaysia Rossi dan Marquez yang sedang terlibat perang dingin bersenggolan di Tikungan 14. Akibatnya kakak Alex Marquez tersebut terjatuh. Sebagai konsekuensi, Rossi dijatuhi hukuman start dari posisi buncit di seri terakhir GP Valencia. Akibatnya, peluang Rossi untuk bertarung berebut gelar juara dengan Lorenzo musnah.

Konflik kemudian melebar kemana-mana. Sampai “perang” antar pendukung Rossi dan Marquez sempat terjadi. Kedua kubu saling ancam untuk menyerang jika mereka bertandang ke balapan yang digelar di sirkuit Italia atau Spanyol.

Dorna, sebagai penyelenggara MotoGP, juga menjadi sasaran kritik karena dinilai terlalu membela pembalap-pembalap Spanyol. Dorna sendiri memang bermarkas di Spanyol. Buntut dari konflik tersebut akhirnya Dorna sampai harus mengubah aturan mengenai penalti kepada pembalap yang dianggap melanggar aturan dalam balapan. Sistem poin penalti dihapus.(cak)

Baca Juga