Beranda Metropolis

Upaya Dinkes Kota Bogor Menekan Angka Kematian Ibu dan Anak

BERBAGI
PEDULI IBU DAN ANAK: Perwakilan dari berbagai organisasi yang tergabung dalam forum Nga-Emas yang dibentuk Dinkes Kota Bogor.

BOGOR-RADAR BOGOR, Menekan angka kematian pada ibu dan anak, Dinas Kesehatan mengajak 20 organisasi wanita yang ada di Kota Bogor untuk membentuk satu forum bernama Nga-Emas (Expanding Maternal and Neonatal Survival) di gedung BKKBN Dinkes, kemarin.

Emas sendiri merupakan program dari Dinas Kesehatan yang bertujuan mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Nga-Emas merupakan sebuah forum masyarakat yang terdiri atas individu dan organisasi atau lembaga swadaya masyarakat yang peduli terhadap kesehatan ibu dan anak. Terutama pada upaya penurunan angka kematian ibu melahirkan dan bayi yang baru dilahirkan.

Dalam paparannya, Dr Erna mewakili Dinas Kesehatan Kota Bogor, menyatakan bahwa memang untuk data dari tahun ke tahun, angka kematian ibu menurun di tiga tahun ke belakang. Tercatat pada 2015, jumlah kematian ibu di Kota Bogor sebanyak 21. Sedangkan pada 2016, jumlahnya meningkat sebanyak 22 kasus. Tapi, di 2017, jumlah kematian ibu menurun drastis, sejumlah 6 orang.

Untuk kematian bayi baru lahir, kisaran umur 0–28 hari, pada 2015 sebanyak 51 anak, pada 2016 sebanyak 43 anak, dan pada 2017 meningkat hampir 100 persen, yaitu 64 anak.

Untuk jumlah kematian bayi usia 1–11 bulan, pada 2015 sebanyak 14 anak, pada 2016 dan 2017 sebanyak 10 anak. Kematian pada anak balita umur 1–5 tahun, pada 2015 sebanyak 7 anak, naik di 2016 sebanyak 9 anak, dan kem­bali meningkat 100 persen pada 2017 sebanyak 18 anak.

Total keseluruhan, jumlah kematian bayi umur 0–1 tahun yaitu berjumlah 65 di tahun 2015, menurun di 2016 menjadi 53 anak, dan kembali meningkat di 2017 menjadi 74 anak. Sedangkan jumlah total kematian balita usia 0–5 tahun di 2015 sebanyak 72, menurun di tahun 2016 menjadi 62, dan kembali meningkat di 2017 menjadi 92 anak.

“Penyebab­nya bermacam-macam. Untuk bayi baru lahir, masalah bayi berat badan rendah (BBLR) menjadi faktor yang paling banyak menyebab­kan bayi meni­nggal dibandi­ngkan penye­bab lainnya. Yaitu seba­nyak 40,6 persen,” ungkap Erna.

Sementara pada bayi lebih banyak masalah pneumonia sebanyak 20 persen diban-dingkan penyebab lainnya. Dan, diare menjadi penyebab kematian paling banyak pada balita dengan persentase 22 persen dibandingkan faktor lainnya.

Untuk penyebab kematian pada ibu, banyak ditemui karena pendarahan, hipertensi dalam kehamilan, dan gangguan sistem peredaran darah. Erna mengata­kan bahwa sebetulnya akses pelayanan ibu dan bayi di Kota Bogor sudah cukup baik. Namun demikian, masih ditemukan angka kematian ibu dan bayi.

Target Dinas Kesehatan Kota Bogor adalah menuju zero atau nol kematian ibu dan bayi. Namun, permasalahan yang terjadi masih ada di tingkat pemberdayaan masayarakat, pelayanan kesehatan primer, pelayanan rujukan, dan pembiayaan.

Forum Nga-Emas ini, lanjut Erna, diharapkan dapat mem­bantu Dinkes untuk mencapai target tersebut.

“Dalam pertemuan ini, diharap­kan lahir kader-kader baru yang merupakan ujung tombak terca­pai­nya target yang dimak­sud. Mereka adalah para per­wakilan organisasi wanita yang diundang hadir dan memiliki konsen dan kepedu­lian yang sama akan isu kesehatan ibu dan anak,” tegasnya.

Dalam pertemuan tersebut, juga dirumuskan program-program yang akan dikerjakan dalam setahun ke depan. Misalnya, sosialisasi forum Nga-Emas, edukasi tentang kesehatan ibu dan anak via jejaring media sosial, pelatihan untuk MKIA (motivator kesehatan ibu dan anak), pelaksanaan kelas ibu hamil di posyandu, pendampingan dan advokasi ibu hamil dan bayi, serta mengawal maklumat pelayanan rumah sakit rujukan dan puskesmas yang ada di Kota Bogor.

Salah seorang kader yang merupakan perwakilan dari organisasi Wanita Hindu Darma Indonesia (WHDI) Kota Bogor, Ni Luh Puspasari, mengaku sangat antusias dengan program Nga-Emas tersebut.

Kata dia, program-program Nga-Emas bisa diterapkan pada komunitas mereka. Yaitu, bisa melakukan pendekatan dengan melakukan pendam­pingan kepada calon mempelai untuk melakukan edukasi terkait isu kesehatan ibu dan anak.(*/c)

Komentar Anda

Baca Juga