Beranda Metropolis

Mengenal Tim Cyber Troop Polresta Bogor Kota

CEK RICEK: Anggota tim Cyber Troop memeriksa dan menyeleksi berita-berita yang beredar di media sosial.

BOGOR-RADAR BOGOR, Polresta Bogor Kota saat ini dipegang Kapolresta AKBP Andi Herindra, yang ikut mencetuskan  Cyber Troop. Tim ini bekerja memberi kebenaran agar masyarakat Kota Bogor tidak termakan kabar hoax. Bagaimana cara mereka bekerja?

Radar Bogor berkesempatan menengok aktivitas tim Cyber Troop di ruang Bagian Humas, Polresta Bogor  Kota. Beberapa anggota sibuk di depan layar komputer. Sebagian lainnya mencari referensi dengan sejumlah kabar pemberitaan yang tidak benar.

Teranyar, tentang seorang kakek warga Sempur, yang mencabuli anak di bawah umur. Setelah dilakukan penyelidikan, petugas membuktikan bahwa kabar tersebut tidak benar adanya. Keresahan masyarakat ini juga dibuktikan dengan pemeriksaan.

“Seperti yang sudah kami selidiki, bahwa tindak pencabulan itu tidak ada. Pelaku adalah orang dengan gangguan jiwa. Saat ini ditangani keluarganya,” ujar Kabag Humas Polresta Bogor Kota, AKP Yuni Astuti di ruangannya.

Akar mula tim Cyber Troop di Polresta Bogor Kota memiliki prestasi yang ditorehkan. Selain menjadi yang pertama di wilayah Polda Jawa Barat, juga mulai aktif menangkal kabar hoax. Tak sedikit portal penyebar hoax dibongkar dan ditutup.

“Seluruhnya adalah anggota intel yang sudah dilatih. Dan untuk peralatannya kami menginduk ke Bandung (Polda). Kami bertugas memastikan suatu berita itu benar atau hoax,” jelasnya.

Lebih jelas, Yuni mengatakan, kabar yang menjadi target tim Cyber Troop memiliki kriteria. Selain hoax, juga kabar yang menyudutkan institusi dan aparat serta pada klarifikasi. Tim ini nantinya menghimpun untuk informasi Kasubag Humas Polres se-Jawa Barat.

“Awalnya pak kapolres yang dulu membuat grup di Android. Agar laporan cepat pada saat itu juga, tidak perlu diantar petugas,” katanya. Untuk itu, pada saat itu perwira menengah (pamen) diwajibkan memiliki ponsel Android untuk bekerja.

Nah, baru-baru ini tim Cyber Troop juga dilengkapi media sosial.  Yuni menjelaskan, tim Cyber Troop ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Terutama, menangkal kabar hoax agar warga tidak mudah resah dengan berita bohong tersebut.

Mengambil contoh terbaru, kata Yuni, kabar pemberitaan ulama yang dianiaya di Jawa Barat. Sejatinya, yang benar kasusnya hanya ada dua. Itu pun murni tindakan yang dilakukan orang dengan gangguan jiwa.

“Sisanya bohong. Ini yang memicu masyarakat kemakan berita bohong. Nah, tugas kami membuat tenang masyarakat,” beber Yuni.

Cyber Troop sendiri masih berkaitan dengan bagian humas, terutama untuk mengontrol opini masyarakat agar tidak termakan hoax. Saat pertama kali dibentuk, Cyber Troop memiliki delapan anggota, dan empat di antaranya tim Cyber Troop.

Selain memerangi hoax,  tim ini juga melihat perkembangan dan menerima komplain masyarakat. Terutama, kabar yang terindikasi melibatkan oknum Polri yang berbuat tidak baik. Info ini digunakan untuk mencari anggota tersebut.

“Nanti anggotanya akan dipanggil provos, kalau benar bertanggung jawab dan diberi sanksi, kalau  berita bohong kami akan jelaskan,” tutur Yuni.

Untuk menghimpun pemberitaan, Cyber Troop juga dilengkapi Intel Mana­jemen Media (IMM). Sebuah jaringan yang meng­him­pun pemberitaan yang digunakan intelijen. Terkait kasus kejadian, selanjutnya tim cyber setiap hari melaporkan ke kabid humas.

Selain fakta di lapangan, data yang diberikan adalah referensi untuk menganalisa persoalan.  Oleh karenanya, lanjut Yuni, kepolisian tidak terburu-buru dalam membe­berkan suatu kasus tanpa disertai fakta yang ditemukan. Proses itu adalah nilai profesionalisme kepolisian.

“Kami tidak mengarang fakta, dan harus memakan waktu.  Kami bisa menjelaskan secara jelas kebenaran kasus kepada masyarakat. Jadi, kami tidak hanya berpatok pada kabar, melainkan juga fakta,” cetusnya. (don/c)

Baca Juga