Beranda Metropolis

Macet Bisa Pengaruhi Kejiwaan Anak

BERBAGI
TAMBAH PARAH: Kemacetan jalur Sholis sore kemarin (23/2) kian parah akibat arus lalu lintas yang dialihkan sementara selama pemasangan box girder seberat 40 ton.

BOGORRADAR BOGOR, Para orang tua diminta mengawasi dan mengedukasi anak agar memahami kondisi macet di Jalan Sholis, tepatnya di jalur proyek tol Bogor Outer Ring Road (BORR). Jika tidak, kemacetan bisa memicu gangguan kejiwaan pada anak.

“Kemacetan berpengaruh pada kejiwaan, tapi ini pun tergantung kondisi mental anak,” ujar  Dokter Spesialis Kejiwaan Konsultan Psikiatri Anak dan Remaja pada Rumah Sakit Marzoeki Mahdi, Ira Savitri Tanjung kepada Radar Bogor, kemarin  (13/3).

Lebih lanjut Ira menjelas­kan, kondisinya tergantung pada mental dan kapasitas orang tua. Selain harus kuat, orang tua mesti memberi edukasi kepada anak dalam menyikapi macet. Dengan mengantisipasi, misalnya, datang ke sekolah atau menjaga kecemasan anak bahwa macet tidak akan apa-apa.

“Namun berbeda bagi anak yang rentan, ditambah lingkungan sekolah yang disiplin. Bisa menimbulkan kecemasan pada diri anak,” jelas Ira.

Kata Ira, dalam psikiatri tidak ada faktor tunggal pemicu gangguan psikiatri. Gangguan jiwa itu masuk dalam tiga roda aspek. Biologis, psikologis, dan sosial anak. Oleh karenanya, selain orang tua, kejiwaan dan mental anak tidak hanya dipengaruhi satu faktor. Misalnya, kemacetan  dan lingkungan. Kondisi itu tergantung variabel anak berpengaruh atau tidak. Mulai sekolah dan dari orang tua itu juga berpengaruh.

Kemacetan juga berdampak pada penurunan daya tangkap ingatan anak. Meski dalam waktu yang cukup panjang, tergantung seberapa sering anak tersebut mengalami kemacetan. Faktor lainnya, seberapa besar hukuman ayng didapat, atau seberapa besar pengaruh yang membuat anak tidak mau ke sekolah.

“Itu kembali pada kapasitas mental anak. Seperti anak yang mengalami patah hati karena putus dengan pacar yang belum waktunya. Rasanya ingin mati saja, dan merasa hidup tidak berguna lagi. Tapi ada juga yang sudah cuek. Jadi, tergantung kondisi mental sang anak,” jelasnya.

Gangguan kejiwaan anak dapat dilihat dari seberapa sering anak mengalami hendaya depresi. Hendaya itu halangan yang tidak bisa dilakukan. Contohnya, pada saat proses belajar mengajar siswa mengalami hendaya.Untuk solusinya, kata Ira, harus ada porsi orang tua untuk memperbaiki cara mendidik dan pola asuh terhadap anak. Sedangkan secara medis, tentu harus dibawa konsultasi ke psikiater anak.

“Tergantung nanti, dilihat apakah perlu obat atau tidak. Kalau hanya anaknya diperbaiki, lingkungannya tidak, juga salah,” pungkasnya.(don/c)

Komentar Anda

Baca Juga