Beranda Politik

KPK atau Kada, Sama-sama Pengabdian

BERBAGI
Badra for Radar Bogor
SAPA WARGA: Dedie A Rachim menyalami warga pada masa sosialisasi pasangan calon Pilwalkot Bogor beberapa waktu lalu.

Belasan tahun Dedie A Rachim mengabdi kepada negara melalui lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pengabdiannya itu berawal dari keprihatinan atas kasus korupsi yang marak terjadi pada awal 2000-an. Demi pengabdiannya itu, Dedie rela melepas jabatannya sebagai complains manajer Microsoft Indonesia dan manajer Kartu AS Telkomsel.

”Saat itu saya baru membangun perusahaan bersama Guruh Soekarno Putra, yakni PT Mahacipta Indonesia yang pada saat itu sedang mengurus peringatan 100 tahun Bung Karno. Tapi begitu ada kesempatan gabung KPK, saya memilih KPK,’’ ujar Dedie Rachim mengenang masa-masanya di lembaga antirasuah.

Bagi Dedie, KPK merupakan lembaga yang sangat prestisius. Namun 13 tahun mengabdi di KPK dirasa cukup untuk tujuan yang lebih besar lagi.
Yakni mengabdikan diri kepada masyarakat dan negara.

”Ibu saya adalah orang pertama yang saya mintai izin untuk berhenti dari KPK. Harapannya, pilihan ini (mencalonkan diri sebagai calon wakil wali kota, red) bisa membantu masyarakat lebih banyak,’’ tuturnya.

Soal perbedaan waktu kerja, pria yang sempat ikut Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1986 ini mengaku tidak terlalu banyak berubah. Semasa di KPK, justru lebih ketat.

Pukul 06.00 pagi sudah harus berada di kantor. Lalu baru boleh meninggalkan kantor sekitar pukul 21.00 atau 22.00 WIB. Sehingga, jika ia diberi amanah untuk memimpin Kota Bogor, ia mengaku siap memberikan pelayanan kepada publik selama 24 jam.

”Dunianya memang pasti berbeda baik dari atmosfer kerja maupun struktur kelembagaannya. Tapi di manapun saya siap. Di KPK saja siap apalagi di Bogor,” pungkasnya. (gal)

Komentar Anda

Baca Juga