Beranda Berita Utama

Festival dan Pameran Burung Berkicau di Istana Bogor

BERBAGI
APRESIASI: Presiden Joko Widodo menyerahkan hadiah dalam Festival dan Pameran Burung Berkicau Piala Presiden Jokowi di Istana Bogor, kemarin (11/3).

BOGOR-RADAR BOGOR, Presiden Joko Widodo melepasliarkan 500 ekor burung di kawasan Kebun Raya Bogor, kemarin (11/3). Kegiatan ini merupakan bagian dari acara Festival dan Pameran Burung Berkicau Tingkat Nasional Piala Presiden Jokowi yang diikuti Komunitas Burung se-Indonesia.

Pada festival kali ini, Presiden Joko Widodo juga ikut ambil bagian. Burung murai batu milik Presiden mendapat nomor 36 dalam kontes ini. Sayangnya, burung yang ia ikut sertakan harus kalah dari peserta lain.

Festival ini sendiri diikuti oleh sekitar 4.000 ekor burung dari 700 pemilik. Ada 18 jenis burung yang dilombakan seperti murai batu, cucak rawa, madu pengantin (kolibri ninja), ciblek, dan sebagainya.

“Kalah. Gimana lagi? Berarti jurinya jujur. Juara pertama mau saya beli, tapi pemiliknya bilang nggak dijual,” ujarnya selepas perlombaan.

Presiden juga mengatakan bahwa sebenarnya yang lebih senang pelihara burung adalah Ibu Negara Iriana Joko Widodo dan Kahiyang Ayu.

“Saya cuma penikmat. Tapi yang paling saya ingat sekarang ini di Kebun Raya, di istana, burung semakin banyak. Sekarang ada kutilang, jalak suren, kemudian burung lain. Apalagi yang kecil-kecil. Ada prenjak kalau pagi sering kelihatan,” katanya.

Indonesia memiliki keanekaragaman burung yang sangat tinggi di dunia. Ada sekitar 1.660-an spesies burung, dan tercatat lebih dari 372 jenis burung endemik, yaitu jenis burung yang tidak dapat ditemukan di negara lain di dunia.

“Ini sebuah kekayaan besar yang diberikan Allah kepada kita. Oleh sebab itu, saya sangat menghargai tadi banyaknya penangkaran burung di daerah sekarang ini. Contoh penang­karaan jalak Bali dulu akan punah, sekarang setelah ditangkarkan jumlahnya jadi banyak sekali,” ujar Jokowi.

Menurut Presiden, kegiatan ini sangat positif untuk memberi ruang bagi penggemar burung, dan tetap dilakukan berbagai aksi pelepas liaran burung ke alam.

“Penangkaran seperti ini yang saya kira selain memberikan ruang bagi penggemar burung juga bisa menjaga spesies itu dari kepunahan,” tegas Jokowi.

Terpenting, kata dia, dari sisi perizinan harus berasal dari program penangkaran.

“Saya kira izin mulai akan dirapikan supaya lebih jelas,” imbuh Jokowi.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar mengatakan, kontes peraga dan kicau burung merupakan bagian dari budaya masyarakat Indonesia, yang berkembang sejak tahun 1970-an dan bernilai ekonomi.

Menurut perkiraan komunitas burung, putaran nilai ekonomi burung setahun dapat mencapai rata-rata Rp1,7 triliun dari tahun 2009 hingga sekarang. Hingga saat ini tercatat sebanyak 51 jenis burung telah ditangkarkan di Indonesia, sedangkan untuk burung kicau, ada sekitar 9 jenis yang sudah ditangkarkan.

Adapun jumlah penangkaran burung di Indonesia terdapat 428 unit, dari total 1.018 unit penangkar satwa. Sebagai syarat izin penangkaran, sebanyak 10 persen hasil tangkaran harus dilepaskan ke alam.

“KLHK akan melakukan pembinaan. Persyaratan protokoler harus dipenuhi menurut aturan nasional  maupun  konvensi internasional, sampai nanti betul-betul menjadi ajang kontes internasional yang bercirikan asli Indonesia,” jelas Siti.

Selain itu,  Siti juga mengimbau pada komunitas burung dan masyarakat, serta karyawan/ti kantor pemerintah untuk mulai melepas liarkan burung-burung ke alam.

“Ini akan dilakukan di seluruh Indonesia, dilaksanakan secara reguler mulai tahun ini.  KLHK akan merintis bersama-sama LIPI dan komunitas burung  se-Indonesia,” katanya.(tau)

Baca Juga