Beranda Female

Berbincang Seru dengan Konsul Jenderal Amerika Serikat di Indonesia

BERBAGI
KAYA PENGALAMAN: Heather Variava di ruang kerjanya. Dia bertugas sebagai konsul jenderal Amerika Serikat di Surabaya sejak Agustus 2015.

’’HALO, selamat pagi! Apa kabar, Anda?’’ sapa Konsul Jenderal Amerika Serikat di Surabaya Heather Variava antusias. Sapaan dan peluk hangat Heather menyambut wartawan Jawa Pos, Fahmi Samastuti pada Senin pagi (5/3). Obrolan bersama perempuan yang bertugas di Indonesia sejak Agustus 2015 itu berlangsung seru dan tanpa canggung. Dengan bahasa Indonesia yang fasih, Heather berbagi pengalaman sebagai diplomat.

Anda mengawali karier di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat sejak 1996. Sudah lama sekali, dong. Apa yang Anda rasakan?

Kalau dihitung-hitung, lama juga. Tidak terasa sudah 20 tahun. Sama sekali tidak terasa. Ada pepatah, you are always the same age inside. Yang artinya, umur di dalam hati Anda akan selalu sama saat menjalani hal yang disukai.

 

Apa yang membuat Anda tertarik menjalani profesi diplomat?

Well, sebelumnya saya juga sempat bekerja sebagai jurnalis koran lokal di Waterville, Maine. Buat saya, saya ingin menjadi diplomat karena saya ingin tinggal di negara lain. Kebetulan, saya kuliah di bidang jurnalistik dan hubungan interna sional. Ketika ada kesempatan masuk ke profesi diplomat dan tinggal di negara lain, saya langsung ambil.

 

Negara pertama tempat Anda bertugas?

Di India. Saya bertugas di Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Mumbai waktu itu, tahun 1996. Saya sangat suka India. Mereka juga punya kebudayaan dan sejarah yang panjang, mirip dengan Indonesia. India juga punya makanan pedas dan beragam di setiap daerahnya seperti di sini.

 

Bagaimana dengan di Indonesia?

Saya rasa, Indonesia, Amerika Serikat, dan tempat penugasan pertama saya India punya kesamaan. Ketiganya adalah negara demokrasi besar dengan penduduk besar. Ketiganya juga memiliki masyarakat dengan latar belakang beragam. Tentu saja, ketiganya punya perbedaan dan ciri khas masing-masing. Namun, ketiganya punya nilai keberagaman dan toleransi yang hampir sama.

 

Sebagai perempuan yang besar di Amerika Serikat, bagaimana Anda memandang posisi perempuan di Asia, terutama Indonesia?

Saya pikir, posisi perempuan di dunia secara umum sama. Ada perempuan yang bisa menjabat posisi strategis atau tinggi di pemerintahan, bisnis, dan organisasi. Namun, ada pula yang belum bisa mengakses hal-hal itu. Dalam menempuh posisi tersebut, perempuan Indonesia mengalami tantangan, yang saya rasa sama dengan di negara lain. Saya pikir, semua perempuan di dunia harus bekerja keras untuk meningkatkan derajat kaumnya. Ini adalah tantangan kita semua.

 

Menurut Anda, apa yang mengakibatkan perempuan sering ’’telat berkembang’’ jika dibandingkan dengan kaum pria?

Ada banyak hal yang membuat perempuan sulit mendapat kesempatan. Namun, bukan berarti tidak ada harapan. Kita harus bekerja sama memperbaiki sistem pendidikan, menyediakan lapangan pekerjaan untuk perempuan. Menurut pendapat saya, sekarang sudah ada kemajuan dan ada hal yang bisa diperbaiki.

Jika dibandingkan dengan saat awal Anda bertugas, bagaimana dengan sekarang?

Hanya 2–3 tahun, itu waktu yang sebentar. Untuk mencapai kesetaraan yang diinginkan, tentu butuh waktu lama. Tetapi, saya terkesan dengan perempuan yang saya kenal dan temui di Indonesia. Mereka punya peran sebagai pemimpin dan bekerja keras untuk mengabdi kepada masyarakat. Saya bisa beri contoh Ibu Risma (Tri Rismaharini, wali kota Surabaya), Martha Tilaar, dan banyak perempuan lain yang sukses di bidang bisnis. Semoga akan ada lebih banyak perempuan yang ada di posisi beliau.

 

Anda punya spesialisasi di bidang ekonomi. Seberapa besar peran perempuan dalam menggerakkan perekonomian bangsa?

Sangat besar. Makanya, saya berharap, perempuan bisa bersumbangsih lewat hal yang mereka kuasai. Baik lewat usaha kecil, bisnis, maupun di bidang kreatif. Mereka bisa ikut membantu keluarga dan negara, bahkan dalam skala besar, bisa mewujudkan keamanan dunia. Begini ilustrasinya, jika ibu bekerja, mereka akan memiliki penghasilan. Mereka bisa menyisihkan untuk kebutuhan seperti pendidikan. Kesejahteraan meningkat. Jika banyak perempuan yang ikut andil dalam bidang ini, tingkat kesejahteraan negara meningkat. Makin banyak orang yang bisa mengakses pendidikan tinggi.

 

Bagaimana dengan pandangan umum di Indonesia yang menekankan peran utama perempuan adalah sebagai ibu? Masih banyak perempuan umumnya dilarang bekerja di kantor.

Menurut saya, masih ada peluang. Kami berpartner dengan pemerintah dan perusahaan di bidang teknologi informasi untuk memfasilitasi mereka. Para ibu tetap bisa bekerja dari rumah dan merawat anaknya.

 

Menurut Anda, apa PR (pekerjaan rumah) yang harus dikejar untuk mewujudkan kesetaraan gender?

Ini tugas kita bersama. Langkah yang terpenting dan paling dasar ialah memberikan pandangan kepada anak-anak dan remaja bahwa laki-laki dengan perempuan sama. Perempuan bisa bekerja di bidang STEM (science, technology, engineering, math atau sains, teknologi, teknik, dan matematika) yang didominasi laki-laki. Sebaliknya, laki-laki juga boleh bekerja di bidang yang identik dengan perempuan. Saya rasa, contoh itu sudah muncul di Amerika Serikat. Dalam pandangan lama, dokter identik dengan laki-laki, sedangkan perempuan lebih ke profesi perawat. Sekarang laki-laki bisa menjadi perawat. Perempuan pun berhak menjadi dokter. Beri mereka kesempatan dan terimalah mereka berdasarkan kemampuan, bukan jenis kelamin.(*/c4/nda)

Komentar Anda

Baca Juga