Beranda Female

Tanamkan Pemahaman Etika sejak Dini

BERBAGI

PENTING bagi orang tua memberikan pendidikan karakter kepada anak untuk membangun kecerdasan moral. Termasuk menanamkan pemahaman etika sejak dini ketika bersosialisasi atau berada di ruang publik. Orang tua harus memberikan contoh nyata sehingga anak terbiasa. Tidak sulit kok. Mulai dari hal-hal sederhana yang lekat dengan kegiatan sehari-hari.(nor/c7/nda)

Ucapkan Terima Kasih

Ketika di sekolah, mal, atau ruang publik mana pun, kemudian menggunakan toilet, setelah selesai ucapkan ”terima kasih” kepada petugas toilet. Merekalah yang membersihkan toilet agar nyaman digunakan oleh pengunjung. Hal kecil, tapi bernilai besar.

”Memberikan apresiasi untuk orang lain,” tutur Ajeng. Begitu pula ketika bapak sekuriti membukakan pintu atau petugas parkir membantu menunjukkan tempat parkir. ”Ketika orang tua mengucapkan terima kasih, anak akan mencontoh hal serupa,” lanjut fasilitator di Talkinc Jakarta serta pengajar di Look Modeling School, Jakarta, tersebut.

Kebiasaan sederhana itu membentuk karakter anak untuk menghargai siapa saja, tidak membeda-bedakan orang dari latar belakang profesi atau ”kelas” sosial mereka.

Tertib Antre

Di banyak tempat, kita harus mengantre. Sebut saja, membeli tiket di loket, membayar di kasir, ataupun saat berada di wahana permainan. Hal yang sama berlaku ketika mengantre akan menggunakan toilet, membeli makanan, dan lain-lain. Bagaimana kalau ada yang menyerobot antrean? Bisa diingatkan secara baik-baik dengan nada suara halus.

”Ikuti antrean, ya.”

Dengan memberikan contoh seperti ini kepada anak-anak, mereka akan terbiasa antre sesuai urutan. Kebiasaan baik tersebut sekaligus mengasah kesabaran mereka.

”Orang tua harus memberikan contoh nyata, apa yang dilihat anak akan meresap dengan kuat sehingga mereka terdorong untuk melakukannya,” kata ibu dua anak tersebut.

Buang Sampah di Tempat Sampah

Imbauan untuk membuang sampah pada tempatnya digaungkan sejak dulu. Tapi, kenyataannya, masih banyak yang tidak punya kesadaran itu. Termasuk orang dewasa. Ups! Lihat Revino dan Yubi yang dengan tertib membuang sampah di tempatnya. Apalagi, di sekolah mereka, SD Menteng 01 Jakarta, tersedia tempat sampah sesuai jenisnya. Ada tempat sampah untuk plastik, kertas, kaleng, dan sampah lain-lain.

”Eh, itu yang plastik masukkan ke warna kuning,” kata Revino yang mengingatkan Yubi, temannya. ”Oh iya,” sahut Yubi.

Apa yang mereka lakukan menjadi contoh buat teman-teman lainnya. Ketika melihat ada sampah yang tercecer, tidak ada salahnya untuk mengambil dan membuangnya ke tempat sampah.

”Kalau bersih, kan jadinya bagus. Nggak kotor,” ujar Revino.

Baguuuss, yang masih anak-anak saja tahu pentingnya membuang sampah di tempat yang sudah disediakan. Kalau darurat, misalnya setelah makan permen, bungkusnya dimasukkan saku dulu ya. Nanti begitu bertemu tempat sampah, buang ke situ.

Dahulukan yang Keluar

Dahulukan yang keluar terlebih dahulu. Kita sering melihat orang bergerombol di depan lift, tidak memberikan ruang kepada mereka yang akan keluar dari lift. Coba terapkan berdiri di sisi kiri dan kanan pintu sehingga orang-orang yang akan keluar dari lift tidak kesulitan. Kemudian, tidak perlu saling berdesakan. Setelah orang-orang keluar dari lift, barulah masuk.

Demikian pula ketika keluar-masuk bus, kereta api, dan kendaraan umum lain. Beri kesempatan kepada penumpang yang turun, barulah kita naik. Tapi, yang perlu diperhatikan, ada hal-hal yang urgen dan perlu didahulukan. Misalnya, ambulans, penyandang disabilitas, lansia, dan orang yang sedang sakit.

Ambil contoh, ketika sedang menunggu lift, di belakang kita ada penyandang disabilitas. Kemudian, ketika lift terbuka, ternyata hanya cukup untuk satu orang lagi. Persilakan dia masuk lift terlebih dahulu.

”Hal itu akan melatih kepekaan dan rasa empati anak,” tutur Ajeng.

Tumpuk di Tengah

Belakangan banyak yang menyuarakan gerakan #TumpukdiTengah. Gerakan itu mengajak kita semua untuk menumpuk bekas wadah makan-minum di tengah meja. Yang tadinya piring, gelas, sendok, tersebar berantakan di meja (apalagi ketika makan beramai-ramai) jadi terkumpul di satu titik.

Tujuannya apa? Agar pramusaji resto lebih mudah dalam membersihkan meja. Kelihatannya sederhana, tapi dengan begitu kita turut membantu memudahkan pekerjaan pramusaji sehingga pelanggan yang datang setelah kita akan lebih cepat dilayani.

Ajeng Raviando Psi, psikolog Teman Hati Konseling, mengungkapkan, cara paling mudah dan ampuh untuk mengajarkan kebiasaan-kebiasaan baik itu kepada anak adalah memberikan contoh langsung. Kebanyakan keluarga di Indonesia memiliki asisten yang membantu melakukan pekerjaan rumah tangga.

Namun, alangkah baiknya bila anak-anak sedari kecil dilatih untuk melakukan beberapa tugas sesuai kemampuan usianya. Misalnya, dimulai dengan membereskan kamar sendiri dan membawa piring bekas makan ke dapur. Hal-hal sederhana itu pada akhirnya akan membentuk kebiasaan mereka untuk menjaga kebersihan.

”Ketika nanti saatnya mandiri, mereka bisa melakukannya sendiri,” lanjut Ajeng.

Kebiasaan #TumpukdiTengah juga membentuk karakter peduli terhadap sesama. ”Kepekaan anak dilatih untuk meringankan tugas orang lain,” ucap alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Jakarta itu. Yuk, jadikan kebiasaan mulai sekarang. Luangkan waktu beberapa detik sebelum beranjak dari meja resto untuk membereskan piring bekas makan, lalu #TumpukdiTengah.

Baca Juga