Beranda Metropolis

Sesi Make-up dengan Bride’s Robe

BERBAGI
ELEGAN: Salah satu desain bride’s robe karya Evi Dewi Soebiantoro. Sebagian besar menggunakan kain brokat, satin, dan chantilly. Kainitu dipilih karena ringan, adem, namun tetap cantik.

BRIDE’S robe atau jubah pengantin biasanya dikenakan calon pengantin ketika sesi make-up. Belakangan, sesi make-up itu selalu didokumentasikan untuk jadi kenang-kenangan sang pengantin.

”Sayang ya kalau bride-nya di video cuma pakai kaus. Jadi, harus pilih gaun yang cantik,” ungkap Evi Dewi Soebiantoro, salah seorang desainer jubah pengantin. Jubah pengantin biasanya didesain dari beberapa jenis kain.

Di antaranya, kain brokat, satin, dan chantilly. Ketiganya punya karakter ringan dan adem ketika dipakai calon pengantin. Sebanyak 70 persen kliennya masih menggunakan jenis brokat.

”Kelihatan elegan, tapi kalau difoto masih terlihat coraknya,” ungkap Evi.

Untuk membuat variasi model, Evi biasanya mengombinasikan kain brokat dengan satin. ”Misal, kain brokatnya di lengan atau di pundak. Bisa juga di ujung bawah dan jadi tali pinggang,” jelas perempuan berusia 25 tahun itu.

Pemilihan warna jubah pengan tin masih berkisar nuansa putih. Meski begitu, jubah pengantin masih jadi opsional bagi pengantin.

”Mungkin belum paham juga untuk apa. Dan banyak orang tua pengantin yang bilang tidak usah pakai,” jelas Evi.

Evi menjelaskan, jubah pengantin setidaknya mulai digunakan dalam dua tahun terakhir.

”Mungkin di Jakarta sudah banyak produksi. Di sini belum banyak,” tambah anak terakhir di antara dua bersaudara itu.

Menurut dia, jubah pengantin tidak hanya digunakan sekali. Calon pengantin bisa menggunakannya untuk sesi foto pre wedding.

”Setelah nikah juga bisa digunakan lagi untuk maternity shoot,” jelas nya.

Bukan hanya pengantin, bridesmaid juga punya jubah sendiri. Corak dan warna untuk jubah bridesmaid cukup berbeda. Corak yang diminta akan lebih simpel.

”Biasanya, satin polos yang dipilih,” ungkap alumnus UK Petra itu.(dya/c6/tia)

Komentar Anda

Baca Juga