Beranda Female

Kiprah Sutradara Perempuan Indonesia

BERBAGI
TUAI APRESIASI: Mouly Surya (kiri) dan Marsha Timothy sebagai pemeran Marlina dalam film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak. Film tersebut bersinar di berbagai festival internasional.

Untuk film yang segera tayang di bioskop untuk kali pertama, Sekala Niskala (The Seen and Unseen), apa pesan film ini?

Saya ingin menggambarkan inner-relasi antara hubungan manusia. Sedangkan kita tahu anak kembar itu kan punya koneksi yang spesial, yang mungkin kita yang nggak kembar itu nggak punya koneksi seperti itu. Hubungan inner-relasi itu yang sebenarnya ingin saya tangkap yang mana sebenarnya tidak bisa dijelaskan, bahkan digambarkan secara visual. Tapi, itu justru tantangan buat saya. Bagaimana cara memvisualisasikan sesuatu yang sebenarnya ada di dalam yang koneksinya itu tidak terlihat.

Tantangan terbesar saat menjadi sutradara perempuan?

Iya, saya sadar sebenarnya profesi ini adalah profesi yang sangat maskulin. Apalagi perempuan yang sudah jadi ibu. Terlebih, profesi ini juga nggak punya waktu yang jelas karena selalu berhadapan dengan waktu yang tidak terbatas, seperti melakukan syuting dari pagi sampai pagi.

Selain itu, kita juga melakukan traveling ke tempat yang kadang kita nggak tahu itu di mana. Yang jelas, ini bukan profesi yang sangat ramah untuk perempuan, apalagi saat kita harus menjalani parenting. Tapi, saya sangat bersyukur saya punya orang-orang yang mengerti apa yang ingin saya buat dan sangat mendukung visi saya.

Apa yang menjadi ciri khas dan kekuatan film-film yang Anda buat?

Mungkin hal-hal yang harus relate ke diri saya. Karena saya akan selalu mencari celah untuk memasukkan diri sendiri ke dalam pieces-pieces film yang saya buat. Selain itu, film saya juga selalu lebih ke negara Timur. Kenapa? Ya, karena saya selalu tertarik dengan kultur di negara Timur ini yang punya banyak budaya.

Kenapa lebih memilih mempromosikan film lewat festival di luar negeri daripada di Indonesia?

Sebenarnya banyak alasannya. Pertama, seperti film Sekala Niskala (The Seen and Unseen). Film ini memiliki audiens yang lebih banyak di festival. Kedua, film ini termasuk film independen yang sangat mikrobujet. Kita sadar nggak punya bujet untuk promosi film. Kalau ke bioskop, butuh bujet promosi yang besar.

Kalau lewat festival, promosi bisa terbantu. Selain itu, bisa masuk ke penjualan dan mendapat pendanaan juga. Yang ketiga, nggak gampang dapat tanggal di XXI atau 21. Dan untuk sampai di sana butuh waktu yang lama.(md/c19/nda)

Baca Juga