Beranda Metropolis

Cara Kementan Cegah Kematian Sapi

BERBAGI
INOVASI: Kepala Badan Litbang Pertanian Muhammad Syakir bersama Kepala Balivet Indi Dharmayanti.

BOGOR-RADAR BOGOR,Balai Besar Penelitian Veteriner (Balitvet), Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian belum lama ini meluncurkan inovasi teknologi veteriner dalam mendukung upaya khusus sapi indukan wajib bunting (Siwab). Teknologi ini, rupanya, menurunkan angka kematian sapi bunting dan meningkatkan petumbuhan sapi.

Laporan:
M. Aprian Rhomadoni

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, Muhammad Syakir MS mengatakan, untuk mendukung keberhasilan Siwab perlu inovasi bagi seluruh peternak dan warga Indonesia.

Syakir menjelaskan, di bidang perternakan, seluruh komponen harus bekerja keras menggunakan pengembangan peternakan, antara lain dalam rangka menyukseskan Siwab.

“Karena itu, teknologi yang dihasilkan oleh Kementerian Pertanian digunakan untuk men-support semaksimal mungkin keberhasilan Siwab ini,” ujarnya.

Tentunya, lanjut Syakir, dibutuhkan teknologi penunjang, misalnya, mempersiapkan indukan sapi agar siap untuk dibuahi. Juga teknologi agar persentase inseminasi buatan (IB), menghasilkan hasil yang baik.

“Fase lainnya bagaimana setelah kebuntingan itu induknya tetap sehat. Berikutnya, tingkat kelahirannya tinggi dan mengurangi keguguran, dan tingkat kematiannya bisa ditekan,” jelasnya.

Sambung Syakir, aspek inovasi teknologi yang dimiliki Kementan terbilang masih tinggi. Artinya, tingkat keberhasilan IB berpeluang untuk terus ditingkatkan. Saat ini, dari 80 persen keberhasilan akan ditargetkan menjadi 90 persen. “Kenapa kami sosialisasi itu, karena tingkat kematian ternak sapi saat ini masih tergolong tinggi,” jelasnya.

Oleh karena itu, aktifnya litbang menyosialisasikan menerapkan teknologi ini berpengaruh pada upaya yang dilakukan. Upaya teknologi juga sudah dilakukan melalui penyuluhan berbasis android yakni Teknologi Android Kesehatan Sapi (Takesi).

Sejak diluncurkan tahun lalu, aplikasi Takesi ini disambut peternak di Indonesia. Kendati demikian, tidak seluruh peternak mudah menerima dan menggunakannya. Untuk memaksimalkannya, litbang menyosialisasikan secara masif kepada beragam profesi di Indonesia.

Teknologi veteriner sendiri kini sudah masuk pada izin edar Direktorat Teknis Kementan. “Ada 36 se-Indonesia. Dalam waktu singkat penggunaan teknologi itu termasuk vaksinnya gratis seluruh Indonesia,” katanya.

Kepala Balivet Indi Dharmayanti menjelaskan, diseminasi ini masih skala riset dan masih menunggu izin edarnya. “Sapi itu harus sehat saat medical check up, sehingga sapi bebas penyakit sebelum dikawinkan,” jelasnya.(/c)

Komentar Anda

Baca Juga