Beranda Berita Utama

Warga Nirmala Tunggu Kajian Tanah

BERBAGI
Sofyansyah/radar bogor
BERISIKO: Rumah rusak dan khawatir gempa susulan serta longsor membuat warga Kampung Nirmala mendirikan tenda seadanya. Hujan dan cuaca dingin harus diabaikan.

BOGOR–Nasib ratusan pengungsi terdampak gempa di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, masih terkatung-katung. Hingga hari ketujuh mengungsi kemarin, warga masih belum mendapat kepastian soal kondisi tanah permukiman mereka yang retak-retak. Apakah masih layak tinggal, atau justru berpotensi longsor.

Hingga Senin (29/1), sebagian besar warga masih bertahan di tenda-tenda pengungsian Kampung Nirmala, Desa Malasari. Sebagian lagi memilih pulang ke rumah karena sudah tak tahan hidup serba kekurangan dan kedinginan.

Mereka nekat kembali pulang, meski belum ada kepastian dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor terkait potensi bencana susulan.

“Ada beberapa yang pulang, ada juga yang masih mengungsi karena masih pada ketakutan. Tadinya 198 KK, sekarang sudah 145 KK yang masih mengungsi,” ujar Ketua RW 8, Kampung Nirmala, Desa Malasari, Pupud (45) kepada Radar Bogor kemarin.

Pupud mengatakan, mayoritas pengungsi khawatir longsor mengancam mereka suatu saat nanti. Terlebih, tebingan setinggi 300 meter di belakang Kampung Nirmala tampak retak-retak.

Keretakan juga dialami pada lantai-lantai rumah dan tanah warga Kampung Garung, Desa Malasari. Karena itu, warga sangat menantikan keputusan dari pemerintah dan instansi terkait, perihal kondisi tanah permukiman mereka.

Di tempat berbeda, Sekretaris Desa Malasari, Sukandar menyebut warga yang kembali pulang ke rumah hanya sementara di siang hari saja. Mereka kembali untuk mengambil keperluan atau merapikan barang-barang yang telah ditinggalkan. Tapi di malam hari, warga kembali tidur di pengungsian karena takut gempa susulan yang bisa mengakibatkan longsor.

”Malam tetap di tenda, siangnya kadang pulang ambil baju atau apa. Tidur mah, masih di sana (tenda, red),” ujarnya.

Sukandar mengaku bersyukur bantuan banyak berdatangan dari berbagai instansi ataupun komunitas dan para dermawan. Namun, menurutnya, logistik yang cukup banyak itu lambat laun juga bakal habis. ”Jadi, yang dibutuhkan warga itu kepastian soal kondisi tanah. Bahaya tidak?” imbuh Sukandar.

Meski telah dilakukan beberapa kali penelitian, menurut Sukandar, BPBD Kabupaten Bogor belum juga menyerahkan hasil penelitian tanah permukiman mereka. “Sudah dua hari meneliti dan mengunjungi ke kampung-kampung. Katanya sampai besok (hari ini, red). Makanya itu, yang kami tunggu sekarang hasil dan kepastiannya saja,” tukasnya.

Di bagian lain, bantuan untuk korban gempa bumi yang berada di Kampung Nirmala terus mengalir. Minggu (28/1), terdapat empat rombongan yang menyalurkan bantuan.

Rombongan pertama, Radar Bogor yang menyalurkan sumbangan pembaca melalui Dompet Kemanusiaan berupa 100 selimut, ikan kaleng 240 pcs, 1 ton beras yang akan dikirimkan hari ini (30/1), obat-obatan, pembalut, biskuit, susu anak, sabun, teh, kopi, gula, minyak, serta menghadirkan pendongeng Kang Didin untuk menghibur anak-anak.

Bantuan diserahkan langsung CEO Radar Bogor Grup Hazairin Sitepu kepada Kepala Dusun 4 Kampung Nirmala Oji Sadikin. Jarak tempuh ke perkampungan yang berada di perkebunan dengan ketinggian 1.900 Mdpl ini ditinggali 200 kepala keluarga (KK) dengan 1.081 jiwa.

Para pengungsi tersebar di beberapa titik, hanya menggunakan terpal seadanya. “Beras dikirim Selasa (30/1), karena info awal bahwa sudah banyak yang menyumbang beras. Ternyata dari kepala dusun, mereka justru sangat berharap bantuan makanan pokok tersebut, karena masih kekurangan,” ungkap Hazairin.

Selain dari Radar Bogor, pada hari yang sama juga Kapolres Bogor AKBP AM Dicky beserta Ibu Bhayangkari memberikan sumbangan sembako dan pengobatan gratis.
Tak ketinggalan, anggota DPR RI TB Soenmanjaya juga menyalurkan bantuan sembako, makanan ringan, popok bayi, obat-obatan, dan membuka posko kesehatan.

Saat beranjak sore, di lokasi yang sama, bantuan datang dari Kerukunan Warga Bogor (KWB) Kabupaten Bogor. KWB membawa logistik bantuan berupa beras, mi, dan pakaian yang masih layak pakai.

Selain itu, pasukan baret merah Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dan personel Kodim 0621 Kabupaten Bogor kemarin berbaur membantu masyarakat korban gempa di Kampung Citalahab, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung. Mereka juga membangun sarana ibadah masjid yang hancur terkena gon­­cangan gempa pekan lalu.

Anggota Kopassus Lettu Inf, Asrial mengatakan, bantuan sosial dan gotong royong pembangunan sarana ibadah ini merupakan bentuk kepedulian TNI kepada rakyat.

”Kami dari satuan tugas Kopassus bersama warga dan tokoh agama melakukan pembangunan masjid dengan dibantu 30 personel prajurit untuk mengangkat sisa kayu reruntuhan masjid yang hancur akibat gempa,” ujarnya.

Lettu Inf Asrial menjelaskan, pihaknya saat ini tengah memfokuskan pada kegiatan bakti sosial dan kerja bakti pembangunan masjid dan perbaikan fasilitas umum lainnya pada warga korban gempa. Saat ini para prajurit Kopassus tengah membangun kembali masjid yang ambruk akibat guncangan gempa.

Selain membangun masjid, Kopassus juga akan menggelar pengobatan massal terhadap sekitar 2.000 masyarakat, pada 20 Februari 2018.

Komandan Batalyon 14 Grup 1 Kopassus Mayor Inf Wahyu Winiartoto mengimbau agar setiap prajurit dalam melaksanakan tugas tetap menjaga kesehatan dan stamina, sehingga dapat terus melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.

“Tugas mereka di sana adalah membantu pemulihan kehidupan dan sarana prasarana masyarakat agar aktivitas warga kembali pulih seperti sebelum gempa terjadi. Hal itu merupakan target yang harus dicapai oleh prajurit dalam tugas penanggulangan bencana di lokasi gempa,” ujarnya.

Sementara itu, Kadus Nirmala, Oji Sajikin mengatakan sangat berterima kasih atas bantuan yang diberikan kepada warganya yang hingga saat ini masih menetap di bawah tenda yang hanya terbuat dari terpal dan plastik itu.

“Sementara ini bantuan kebutuhan sudah mencukupi bagi warga. Hanya menunggu kepastian apakah kampung kami aman atau tidak dari bencana alam longsor yang mengancam suatu saat.

Menunggu survei dari tim BPDB terkait keadaan retakan tanah di permukaan permukiman dan bukit di atasnya. Jika sudah jelas, warga bisa mendiami rumah masing-masing,” tutupnya.(ran/c)

Komentar Anda

Baca Juga