Beranda Politik

Hanya Ade Yasin Kader NU di Pilbup Bogor

KHUSYUK: Bakal calon bupati Bogor Ade Yasin hadir dalam Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bogor yang bertempat di Sentul International Convention Center (SICC), kemarin (25/1).

CIBINONG–Kabupaten Bogor adalah daerah dengan mayoritas warganya sebagai pengikut Nahdlatul Ulama (NU). Dari berbagai hasil riset, populasi warga NU diperkirakan mencapai 70 persen dari total penduduk Bogor.

Kendati mayoritas warga Bogor NU, namun dalam ajang pemilihan bupati (Pilbup) 2018, dari empat pasangan calon, hanya ada satu sosok yang tercatat sebagai kader NU, yakni Ade Yasin. “Hanya Ade Yasin kader NU tulen yang bertarung pada Pilbup Bogor, 27 Juni 2018 mendatang,” ujar Wakil Sekjen Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Jawa Barat, Ahmad Fahir kepada wartawan di Cibinong, Rabu (24/1).

Ada tiga parameter yang menjadi dasarnya. Pertama, secara ideologis, Ade Yasin tercatat aktif berkiprah di lingkungan Nahdlatul Ulama, melalui wadah Muslimat NU Kabupaten Bogor. Ia juga aktif membina Fatayat NU Bogor maupun induk Jam’iyah NU. Kedua, secara genealogis atau biologis, Ade Yasin terlahir dari rahim kedua orang tua Nahdliyin, pasangan KH Yasin-Hj Nurhayati, yang membaktikan hidupnya untuk Jam’iyah dan jamaah NU. “Kader NU mana yang tidak mengenal sosok Haji Yasin? Bukan kader NU Bogor bila tidak kenal Haji Yasin,” kata Fahir.

Totalitas Haji Yasin dalam ber-NU menghadapi ujian serius saat rezim diktator Orde Baru berkuasa. Pada saat banyak kiai menjauh atau tiarap dari NU karena ditindas oleh rezim penguasa, ia tetap istikamah bersama NU hingga akhir hayatnya. “DNA NU pada diri Haji Yasin diwariskan pada putra-putrinya, termasuk diwariskan pada Ade Yasin,” papar mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bogor ini.

Parameter lainnya yang sangat penting, Ade Yasin diusung oleh dua mesin partai yang dilahirkan dari rahim Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan tentunya berbasis pemilih Nahdliyin, yakni Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). “PKB adalah qaul jadid alias pandangan baru, rumah baru warga NU. Sedangkan PPP adalah qaul qadim atau pandangan lama, rumah lama bagi warga NU,” beber Fahir.

Representasi NU di panggung politik hanya PKB yang NU atau setidaknya PPP, karena mayoritas sahamnya adalah NU. “Kedua qaul NU baik yang jadid maupun yang qadim kini menyatu dalam Pilbup Bogor. Tidak ada qaul lainnya,” tegasnya.

Dengan tiga alat ukur yang sangat jelas, lanjut Fahir, ia berharap semua warga NU Bogor guyub menyokong kadernya pada Pilbup Bogor 27 Juni 2018 demi memberikan yang terbaik bagi masa depan bumi Prabu Siliwangi tersebut. “Pemimpin Bogor ke depan harus mema­hami jiwa dan falsafah NU, karena mayoritas warga Bogor NU. Dan itu hanya akan terwujud bila kader NU yang dipilih, yang memiliki tiga parameter di atas,” pungkasnya. (ded/*)

Baca Juga