Beranda Berita Utama

Waspada, Cincin Api Pasifik Aktif

BERBAGI
MEMBAHAYAKAN: Gunung Mayon di Filipina memuntahkan lahar pada Selasa malam lalu. Akibat letusan itu, 56.000 warga harus diungsikan.

JAKARTA –Dalam tiga hari terakhir, kawasan cincin api pasifik (pacific ring of fire) terekam aktif dengan serangkaian gempa dan aktivitas vulkanis. Dampaknya, sejumlah negara yang berada di lempeng Pasifik merasakan gempa dalam waktu hampir bersamaan. Tidak terkecuali Indonesia, di mana dalam dua hari terakhir sejumlah gempa terjadi di barat daya Jawa dan barat Sumatera.

Cincin Api Pasifik merupakan daerah seismik paling aktif di dunia. Bentuknya seperti tapal kuda, dan memanjang 40.000 kilometer mengelilingi Samudra Pasifik. Cincin api itu melintasi lebih dari 15 negara dan meliputi 452 gunung api. Tidak heran, berdasarkan statistik, 90 persen gempa di dunia terjadi di area tersebut.

Khusus Indonesia, hampir seluruh wilayahnya berada di atas zona patahan Cincin Api Pasifik. Tercatat empat gempa besar dan dua letusan gunung berapi terjadi sejak Selasa (23/1) hingga kemarin (24/1). Selasa dini hari pukul 00.31 waktu Alaska, gempa berkekuatan 7.9 Skala Richter (SR) terjadi di 175 km tenggara Pulau Kodiak. Gempa ini menyebarkan kepanikan di Kodiak dan Kota Anchorage, Amerika Serikat (AS). Alarm tsunami berbunyi di sepanjang pantai barat AS.

Sehari sebelumnya, Gunung Mayon di Pulau Luzon Filipina meletus dan memancarkan abu dan awan panas. Mengiringi aktivitas Gunung Agung di Bali dan Gunung Sinabung di Sumatera Utara.

Menyusul kemudian letusan Gunung Api Kusatsu-Shirane di Prefektur Gunma, Jepang, pada Selasa pukul 10.00 waktu setempat. Satu orang tewas dan 11 lainnya terluka.

Tiga jam setelah Kusatsu meletus, giliran Indonesia yang diguncang gempa berkekuatan 6,1 SR di lepas pantai selatan Jawa bagian barat, 81 km di barat daya Kabupaten Lebak, Banten. Gempa ini juga menggoyang bangunan-bangunan tinggi di Ibu Kota Jakarta dan menimbulkan kepanikan. Ratusan bangunan rusak sepanjang Banten dan Bogor dan beberapa orang terluka.

Badan Kebencanaan PBB United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR) pun langsung mengeluarkan peringatan. Dalam pengumuman yang disiarkan via Twitter pada Selasa pagi waktu AS, UNISDR menyebut bahwa Cincin Api Pasifik sedang aktif.

Gempa masih terus berlanjut hingga Rabu (24/1). Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan setidaknya dua gempa besar. Satu terjadi sekitar pukul 08.49 WIB, satu lagi terjadi pukul 13.32 WIB.

Meskipun tidak sekuat gempa pertama, kedua gempa juga terasa sampai Jakarta. Terutama bagi penghuni gedung-gedung tinggi. Gempa pertama pada pukul 8 pagi terekam berkekuatan 4,2 SR, dengan episentrum di 67 km barat daya Kabupaten Lebak, Banten. Dengan kedalaman 67 km.

Berdasarkan sebaran guncangan (shakemap), gempa terasa dengan skala III-IV modified mercalli intensity (MMI) di beberapa kecamatan pesisir di Lebak seperti Bayah, Panggarangan, dan Malingping.

Sementara gempa pada pukul 13.00 siang harinya, berkekuatan 5,0 SR dengan episentrum di 72 km barat daya Lebak dengan kedalaman 44 km.

Shakemap menunjukkan getaran skala II hingga III MMI terasa di daerah Cimandiri, Panggarangan-Lebak, Cikande-Serang, Ujung Genteng, Curug, Kembar, Kota Sukabumi, Jakarta, Tangerang, dan Bekasi. Sementara Bogor, Cianjur, dan Depok merasakan guncangan dengan skala II MMI.

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono mengatakan bahwa kedua gempa tersebut merupakan gempa susulan (aftershock) dari gempa sebelumnya (23/1). Daryono menjelaskan, kedua gempa termasuk dalam klasifikasi gempa bumi berkedalaman dangkal akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. “Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi tidak berpotensi tsunami,” katanya.

Hingga Rabu, kata Daryono, BMKG telah mencatat 46 kali gempa bumi susulan. Menurut Daryono, sulit untuk memastikan apakah ada keterkaitan antara berbagai event vulkanis maupun tektonis yang terjadi tiga hari terakhir. “Gempa bumi itu sangat tinggi ketidakpastiannya,” ujarnya.

Bagaimanapun, ada teori seperti dynamic stress. Bahwa satu pergerakan di lempeng tektonik mampu memicu pergerakan di wilayah lempeng tektonik yang lain. Meskipun jaraknya berjauhan. “Tapi tetap saja, sulit dibuktikan,” katanya.

Peneliti gempa bumi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dani Hilman Natawijaya mengatakan, rentetan peristiwa tektonik dan vulkanik yang terjadi memang satu hal yang biasa. “Cincin Api Pasifik memang aktif terus. Nggak pernah nggak aktif,” katanya.

Serentetan gempa yang dialami Jawa dan Banten tiga hari terakhir juga bukan fenomena yang aneh menurut Dani. Sejak ratusan tahun lalu rentetan gempa sudah sering terjadi. “Indonesia kan memang negara gempa, jadi, kita harus terbiasa,” ujarnya.

Dani mengatakan, peningkatan kewaspadaan harus terus dilakukan. Masih belum bisa diprediksi apakah wilayah lain akan menyusul dengan aktifnya Cincin Api Pasifik ini.

Masyarakat Pulau Jawa khususnya harus lebih ekstra waspada. Sebab, menurut Dani, wilayah selatan Jawa menyimpan potensi gempa raksasa (sunda megathrust).

“Perlu waspada untuk megathrust di selatan Jawa dan di Mentawai,” katanya.

Senada, pakar gunung api Surono menjelaskan bahwa antara gempa dan letusan gunung api di sejumlah negara tidak secara langsung berkaitan. ’’Ya pas kebetulan sama-sama (terjadi) saja,’’ terangnya saat dikonfirmasi semalam. Kondisi tersebut memang biasa terjadi di daerah yang rawan gempa. (tau/byu)

Komentar Anda

Baca Juga