Beranda Metropolis

Hilangkan Kesan Tempat Mesum, Persiapan KRB Jadi Warisan Dunia

BERBAGI
NELVI/RADAR BOGOR
USULAN ke UNESCO: Kebun Raya Bogor diusulkan menjadi warisan dunia atau World Heritage Site UNESCO. Saat ini berbagai persiapan pun dilakukan LIPI dan ditargetkan 2020 bisa terwujud.

BOGOR–Jelang pengusulan Kebun Raya Bogor (KRB) menjadi warisan dunia atau World Heritage Site UNESCO, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan berbagai persiapan. Salah satunya menghilangkan berbagai image negatif soal KRB seperti tempat memadu kasih hingga tempat mesum.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati tak menampik bahwa KRB kerap digunakan sebagai tempat pacaran. Untuk itu, ke depan, ia bakal bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memperbanyak kegiatan di KRB. Hal itu diyakininya bisa meminimalisasi praktik pacaran di KRB.

“Sehingga yang pacaran jadi terganggu dan orang datang ke KRB karena mencari pengetahuan dan bermanfaat positif. Misalnya, dapat inspirasi untuk berinovasi di bidang teknologi,” jelasnya kepada Radar Bogor, kemarin (23/1).

Beberapa kegiatan yang sudah ia lakukan berupa pemaparan materi teknologi energi terbarukan dari sinar surya untuk menghasilkan energi penyiram pembibitan. Sehingga masyarakat menjadi familier atas penggunaan teknologi.

Malah, menurutnya, warga Bogor perlu mendukung penuh pengusulan itu. Caranya, bisa dengan menganggap KRB sebagai sumber pengetahuan tentang tumbuhan dan lingkungan. Kemudian menjaga ketertiban, kebersihan, dan keindahan di dalam maupun di luar KRB.

Klik Gambar

Seperti diketahui, tak lama lagi, LIPI akan mengusulkan KRB sebagai warisan dunia pada UNESCO. Jantung Kota Hujan ini diyakini memiliki segudang historis, sehingga dianggap layak menjadi warisan dunia.

Selain bernilai historis tinggi, beberapa latar belakang mengenai pengusulan tersebut juga lantaran dapat ‘menyelamatkan’ KRB dari pembaruan zaman, lebih unggul dari Singapore Botanic Garden (SBG), serta untuk meningkatkan nilai jual KRB.

KRB memiliki potensi kekayaan koleksi tumbuhan dan koleksi biji, yang terdiri atas 12.376 spesimen koleksi tumbuhan, serta 531 spesimen koleksi biji. Kemudian, di KRB juga terdapat 600 pohon berusia di atas 100 tahun.

Beberapa di antaranya, pohon kayu raja yang ditanam pada 1914, pohon jodoh (meranti dan beringin) yang ditanam 1866, serta pohon kembar (kapuk) yang ditanam pada 1913.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Bogor, Heri Cahyono menyambut baik rencana LIPI yang mengusulkan KRB sebagai warisan dunia. Namun, hal itu dirasa mengganjal jika keberadaan KRB masih kerap disalah-gunakan, seperti menjadi tempat pacaran.

Dia khawatir, jika kondisi tersebut masih sering terjadi, bisa-bisa ketika sudah ditetapkan status warisan dunia malah dicabut.

“Justru kalau menjadi warisan dunia maka akan dijaga. Karena kalau fungsinya berubah sebagai tempat pacaran, statusnya sebagai situs warisan dunia akan dicabut,” ujarnya.

Dengan menjadi warisan dunia, nama KRB akan semakin dikenal masyarakat inter­nasional, bahkan masuk dalam kategori sebagai tempat yang memiliki nilai tinggi. Dampaknya sudah terbayang, tempat legendaris tengah kota ini akan semakin banyak dikunjungi wisatawan. “Baik untuk keperluan penelitian ataupun untuk sekadar wisata,” paparnya.

Kondisi tersebut, menurutnya, jangan sampai disia-siakan oleh Pemkot Bogor. Sebab, dengan banyak wisatawan yang berdatangan akan mendong­krak perekonomian. Caranya, bisa dengan membuat pusat oleh-oleh, pusat kuliner, hotel, dan lain-lain.

Heri meminta pemkot terus berbenah. Selain dari segi perekonomian, persoalan infrastruktur juga terbilang penting. Pemkot Bogor perlu membuat Perda Transportasi yang mendukung lalu lintas agar berjalan lancar, serta Perda PKL untuk menata keberadaan PKL menjadi rapi.(fik/d)

Baca Juga