Beranda Berita Utama

Pemerintah Amerika Tutup Sementara

REUTERS/Joshua Roberts
KONTRA TRUMP: Senator AS, Chuck Schumer (D-NY) berbicara dalam sebuah konferensi pers di Capitol Hill, Washington, AS, (20/1) .

Negara kampiun demokrasi seperti AS juga bisa gagal mengelola dinamika politik­­nya. Dampaknya cukup fatal. Pemerintah tidak bisa bekerja. Pelayanan publik mandek.

Seharusnya, akhir pekan kemarin (20/1) menjadi hari yang membahagiakan bagi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Dia bakal merayakan pesta untuk memperingati setahun pelantikan dirinya sebagai orang nomor satu di AS. Tapi, pesta itu harus ditunda.

Trump urung ke resort-nya di Mar-a-Lago, Florida, untuk bersenang-senang. Sebab, pemerintah federal shutdown atau tutup untuk sementara waktu.

Kebuntuan politik itu terjadi karena Senat tak meloloskan stopgap spending bill atau rencana anggaran pengganti yang diajukan pemerintahan Trump. Usulan anggaran tersebut mengatur dana tambahan agar pemerintah federal AS bisa terus berjalan hingga 16 Februari mendatang. Sejak September tahun lalu, pemerintah sudah tiga kali mengajukan anggaran serupa. Dua usulan sebelumnya diloloskan oleh Kongres yang terdiri atas House of Represen­tative (DPR) dan Senat. Sedang­kan usulan terakhir tidak.

Batas akhir untuk menyetujui usulan anggaran tersebut adalah Sabtu pukul 00.00. Ternyata, tidak ada kata sepakat dari kedua kubu. Agar usulan anggaran itu bisa lolos, dibutuhkan persetujuan minimal 60 di antara 100 anggota Senat. Sejauh ini, hanya 50 anggota Senat yang mendukung.

Sejak 1976, pemerintah federal AS sudah 18 kali mengalami shutdown. Tapi, ini kali pertama shutdown terjadi saat partai yang sama berkuasa di Kongres. Partai Republik yang mengusung Donald Trump berkuasa di House of Representative maupun Senat. Meski begitu, Republik hanya memiliki 51 kursi di Senat. Mereka harus bisa mengubah pikiran setidaknya 9 anggota Demokrat jika ingin meloloskan usulan.

Belum diketahui shutdown bakal berlangsung sampai kapan. Pada 2013, penutupan peme­rintahan terjadi selama 16 hari. Kemarin, begitu hasil voting keluar, kedua pihak langsung saling menyalahkan. Pemimpin kelompok mayoritas di Senat Mitch McConnell langsung menyerang Demokrat.

”Yang kita saksikan saat ini adalah keputusan sinis anggota Senat Demokrat yang mengabaikan jutaan penduduk Amerika demi permainan politik yang tidak bertanggung jawab,” terang McConnell seperti dilansir Reuters.

Alotnya perdebatan di Senat dipicu isu imigrasi. Demokrat ingin rencana anggaran yang diajukan pemerintahan Trump men­cakup perlindungan per­manen untuk 700 ribu imigran muda yang masuk program Deferred Action for Childhood Arrivals (DACA). Namun, Trump dan anggota Partai Republik di Senat menolak.

Republik ingin kebijakan anti-imigrannya didukung. Termasuk pembangunan tembok perbatasan AS dengan Meksiko. Sebelumnya, Senat sudah membuat kesepakatan bipartisan tentang masalah imigrasi itu. Tapi, kesepakatan tersebut ditolak Trump. Dia bahkan menyebut negara-negara Afrika asal para imigran sebagai shithole countries atau negara yang sangat kumuh.

Kubu Republik dan orang-orang Trump sudah memper­kirakan shutdown bakal terjadi. Sebelum voting berlangsung, mereka menyatakan bersiap menyambut Schumer Shutdown. Istilah itu sekaligus tudingan bahwa shutdown yang terjadi saat ini gara-gara ulah Chuck Schumer, pemimpin Demokrat di Senat, dan barisannya. Gedung Putih juga menuding Demokrat lebih mementingkan politik jika dibandingkan dengan keamanan nasional, keluarga militer, anak-anak yang membutuhkan pengobatan, dan berbagai hal penting lain. (sha/c11/pri)

Baca Juga