Beranda seni budaya

Warisan Keris di Aeng Tong-Tong

ALLEX QOMARULA/JAWA POS
MEMBENTUK KERIS GODOKAN: Pandai besi Desa Aeng Tong-Tong Zainal Arif (kiri) dan Rusdi menempa besi yang akan dijadikan keris. Di sini besi dilunakkan lantas dilipat-lipat hingga akhirnya membentuk pamor keris.

SETELAH menembus ladang jagung sejauh 2 kilometer, gerbang putih berhias keris terasa mendekat. Suara dentingan besi yang saling beradu dan bunyi gesekan gerinda sudah terdengar dari rumah pertama saat Jawa Pos mengunjungi Aeng Tong- Tong, Selasa lalu (9/1).

Semakin masuk ke desa, suara itu semakin bersahut-sahutan. Meski ada lebih dari 400 perajin keris di Aeng Tong-Tong, tempat pandai besi hanya ada dua. Salah satunya milik Zainal Arif.

Dari tempat itu keris-keris setengah jadi (godokan) yang ditempa dikirim ke ratusan perajin untuk diukir. Siang itu Zainal membengkokkan lempengan besi tipis sebanyak 12 kali hanya dengan berbekal palu. Besi yang saling tumpang tindih itu lalu dipanaskan dalam bara api. Arang semakin membara saat blower dinyalakan. Peralatan modern itu menggantikan pompa angin yang terbuat dari batang pohon yang dilubangi.

Pompa tradisional tersebut sudah tak lagi digunakan karena pesanan keris semakin meningkat. Setelah lima menit, besi sudah menyala merah merekah. Dua pandai besi lainnya, Rusdi dan Heri Jaknal, sudah bersiap untuk bergantian menempa besi itu. Besi lunak tersebut dipukul bergantian secara konstan. Pukulan pertama mengeluarkan bunga api yang menyebar ke segala penjuru. Besi yang ditekuk-tekuk itu kian merekat.

Proses diulangi terus-menerus hingga besi menyatu. Cara itu dilakukan untuk membentuk pamor keris. Dari proses tersebut didapatkan guratan-guratan tipis layaknya sidik jari berpola acak. Karena itulah, pamor keris berbeda satu dengan yang lainnya.

”Jenis pamor ada ratusan. Kalau mau bahas keris tidak cukup satu hari, satu bulan, atau satu tahun. Tidak ada habisnya,” jelas Zainal setelah menyelesaikan tempaan itu.

Untuk pembuatan keris suvenir, proses penempaan tidak butuh ritual khusus. Dalam hitungan hari, keris selesai dikerjakan. Sedangkan untuk membuat keris pusaka, para empu harus menjalani serangkaian ritual yang diajarkan turun-temurun. Mulai pencarian tanggal pembuatan yang cocok dengan pemesan hingga aneka sesajen dan doa-doa.

”Sesajen ini ada maknanya. Misalnya, nyiur (kelapa, red) melambangkan pohon yang bisa tumbuh di mana saja. Diharapkan pemilik keris ini bisa membaur di semua kalangan masyarakat,” jelas Sanamu, salah seorang tokoh keris di Aeng Tong-Tong.

Setelah melihat proses penempaan, Sanamu mengajak kami berkeliling melihat proses finishing keris. Keris-keris tersebut diukir para perajin yang ratusan jumlahnya. Setelah keris dipahat, proses selanjutnya ialah pewarangan.

Bilah keris direndam di campuran bahan kimia dan jeruk nipis untuk menciptakan efek kuno. Setelah direndam, besi halus tersebut berubah menjadi kasar kehitaman seolah sudah berusia ratusan tahun.

Para perajin tidak hanya membuat keris khas Sumenep. Mereka juga sudah dipercaya membuat pesanan keris khas Solo, Jogjakarta, hingga Palembang. Keris-keris tersebut bahkan telah diekspor hingga Eropa. Ada yang meyakini bahwa sejak zaman para raja Sumenep, Aeng Tong-Tong sudah dipercaya menjadi tempat pembuatan keris para raja.

Namun, belum ada catatan sejarah yang menyebutkan secara spesifik mengenai hal tersebut. ”Kisah itu diceritakan secara turuntemurun dari nenak moyang kami,” ujar Sanamu.

Sanamu kini berjuang mencari fakta-fakta yang menguatkan cerita para leluhurnya itu. Sebab, banyak para tokoh penting yang berperan penting dalam sejarah Keraton Sumenep yang dimakamkan di Aeng Tong-Tong. Sanamu berupaya mengumpulkan sumber-sumber dan bukti sejarah itu untuk jadi rujukan para wisatawan yang datang.

Selain itu, dia ingin menanamkan rasa bangga kepada warga desa bahwa di darah mereka mengalir darah yang sama dari empu-empu keris terdahulu.(Salman Mu hiddin/c10/dos)

Baca Juga