Beranda Politik

Pilih Puti, Andalkan Trah Soekarno

Pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur resmi Syaifullah Yusuk dan Puti Guntur Soekarno maju di Pilgub Jatim mendeklarasikan diri di kantor PDIP Jawa Timur (Dite Surendra/Jawapos)

PDI Perjuangan (PDIP) sangat yakin nama besar keluarga Presiden Soekarno masih ampuh untuk menarik suara dalam pemilihan kepala daerah (pilkada). Berbekal keyakinan itu, mereka akhirnya menunjuk Puti Guntur Soekarno Putri sebagai calon wakil gubernur Jatim.

Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, penunjukan Puti dilakukan setelah mendengar masukan dari banyak pihak. ”PDIP konsisten menyiapkan pemimpin untuk rakyat,” terang dia seusai perayaan HUT Ke-45 PDIP di Jakarta Convention Center (JCC), kemarin (10/1).

Puti memiliki nama lengkap Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri. Perempuan 46 tahun itu lahir di Jakarta. Ia merupakan cucu Presiden Soekarno dari anak pertamanya, Guntur Soekarnoputra. Saat ini Puti menjabat anggota DPR.

Di Jawa Timur nama Puti belum cukup dikenal. Maklum, dia lebih sering berkiprah di Jawa Barat. Meski demikian, Hasto mengatakan bahwa hal tersebut bukan masalah. Menurut dia, semua wilayah adalah bagian dari Indonesia. Baik Papua, NTT, NTB, Sulawesi, Kalimantan, maupun daerah lain. ”Semuanya satu kesatuan wilayah Indonesia, tidak dibeda-bedakan,” tutur politikus kelahiran Jogjakarta itu.

Modal mengusung pasangan calon, Hasto mengatakan, bukan hanya elektoral, tapi juga keyakinan. Menurut dia, Puti merupakan sosok pemimpin yang teruji. Dia sudah melalui proses pengaderan. Puti juga sosok yang memahami hati rakyat. Anggota DPR itu mengatakan, selain menetapkan Puti sebagai pengganti Azwar Anas, partainya menunjuk Ahmad Basarah, wakil sekretaris jenderal (wasekjen) DPP PDIP, sebagai ketua tim pemenangan pasangan Gus Ipul-Puti.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPP PDIP Bambang D.H. mengatakan bahwa wilayah pengabdian kader PDIP berlaku di seluruh Indonesia. Setiap kader disiapkan untuk mengabdi di semua wilayah dan di berbagai jenjang. Menurut mantan wali Kota Surabaya itu, penunjukan Puti sudah melalui kajian dan survei. Namun, dia tidak bisa membukanya ke publik. ”Ini menyangkut dapur kami,” ungkapnya. Yang jelas, lanjut dia, nama kelua­rga besar Bung Karno menjadi modal utama untuk mendulang suara di pilkada. Kata dia, potensi mendulang suara luar biasa.

Dia mencontohkan sosok Guruh Soekarnoputra. Anggota DPR dari dapil Jatim 1 itu selalu meraup suara cukup besar di setiap pemilihan anggota legislatif. Munculnya nama Puti juga bisa memecah suara pemilih perempuan di Jatim. Bambang mengatakan, itu juga sudah dipertimbangkan sejak awal. ”Setiap aspek kami perhitungkan secara matang,” ucap dia.

Sementara itu, Partai Gerindra juga memberikan dukungan kepada Gus Ipul-Puti. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Puyuono menyatakan, pertimbangan utamanya adalah keberadaan Puti. ”Puti memang diinginkan Partai Gerindra untuk diusung sebagai calon kepala daerah. Karena Puti itu trah Soekarno asli,” kata Arief.

Menurut dia, pasangan Gus Ipul-Puti dinilai bisa menarik suara pemilih di Jatim. Sebab, kombinasi nahdliyin dan nasionalis berpotensi menjaring suara beragam. Apalagi, Soekarno adalah tokoh bangsa kebanggaan rakyat Indonesia, khususnya masyarakat Jatim. ”Puti bisa menjadi kekuatan bangkitnya Soekarnoisme di Jawa Timur,” ujarnya.

Di tempat terpisah, PAN menjelaskan pilihan mereka untuk mendukung pasangan Khofifah-Emil. Sekretaris Jenderal DPP PAN Eddy Soeparno menyatakan, PAN selama ini memiliki komunikasi yang intens dengan Khofifah. Dalam beberapa kesempatan, PAN juga sempat menyiratkan dukungan terhadap sosok yang baru saja mundur dari jabatan menteri sosial itu. ”Beliau (Khofifah) adalah srikandi pejuang yang tidak kenal lelah memperjuangkan kesejahteraan sosial masyarakat,” kata Eddy saat dihubungi.

Sementara itu, hingga hari terakhir pendaftaran calon kepala daerah di pilkada kemarin (10/1), nasib Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa di Kabinet Kerja tidak kunjung jelas. Meski sudah mengirim surat pengunduran diri untuk kali kedua kepada Presiden Joko Widodo, hingga kemarin belum ada respons.

Presiden menyatakan belum sempat membaca surat kedua yang dilayangkan Khofifah. ’’Suratnya sudah sampai di meja saya, tapi belum saya baca,’’ ujarnya setelah membuka Rakernas Kementerian Agraria dan Tata Ruang di Jakarta kemarin.(jp)

 

Baca Juga