Beranda Berita Utama

Pesta Demokrasi Bogor Dimulai, Koalisi Gemuk Vs Paket Sehat

BERBAGI
DAFTAR: Bakal pasangan calon Pilbup Bogor 2018, Ade Ruhandi-Inggrid Kansil dalam sesi foto usai mendaftar di KPU Kabupaten Bogor kemarin (10/1).

BOGOR–Pertarungan pilkada serentak dimulai. Terhitung sejak kemarin (10/1), Komisi Pemilihan Umum (KPU) resmi menutup masa pendaftaran bakal pasangan calon (bapaslon) kepala daerah, periode 2018–2023. Secara dramatis, lahir empat bapaslon di pilwakot dan lima bapaslon di pilbup Bogor.

Keempat bapaslon di Pilwalkot Bogor yaitu, Dadang Iskandar Danubrata-Sugeng Teguh Santoso; Bima Arya-Dedie A Rachim; Achmad Ru’yat-Zaenul Mutaqin; dan Edgar Suratman-Sefwelly Ginanjar Djoyodiningrat. Nama terakhir adalah bapaslon dari jalur independen.

Adapun, lima bapaslon di Pilbup Bogor yakni, Ade Yasin-Iwan Setiawan; Ade Ruhandi-Inggrid Kansil; Fitri Putra Nugraha-Bayu Syahjohan; Ade Wardhana-Asep Ruhiyat; dan Gunawan Hasan-Fickry Zulfikar Irama.

Peta koalisi yang terbentuk sebelumnya melalui drama lobi-lobi serta intrik yang menarik. Hasilnya, peperangan antara koalisi gemuk dan hemat mewarnai arena pilkada. Di Pilwalkot Bogor, petahana Bima-Dedie diusung koalisi gemuk yakni Partai Amanat Nasional (PAN), Golkar, Demokrat, Hanura, dan Partai NasDem. Mereka mengantongi dukungan 19 kursi di parlemen Kota Hujan.

Sejumlah kalangan menilai lawan terberat petahana adalah bapaslon Achmad Ru’yat-Zaenul Mutaqin. Bapaslon ini diusung koalisi kurus PPP, PKS, dan Gerindra dengan kekuatan 16 kursi di parlemen.

Seperti diketahui, pada pilkada 2013 lalu, Bima Arya mengalahkan Achmad Ru’yat dengan kemenangan tipis. Ru’yat yang saat itu petahana terjungkal dengan selisih 1.720 suara dari Bima Arya. Pengalaman saat itu diakui Ru’yat menjadi modal besar untuk merebut kembali kursi F1.

Kini Ru’yat sudah lebih siap. ”Saya ingat betul, pukul 14.30, saya ditelepon Diani Budiarto (wali kota Bogor saat itu, red), saya dinyatakan menang dan tim sukses saya semua digundulin dan saya digotong. Tetapi, terjadi pergerakan. Saya kalah dengan selisih 1.720 suara,’’ tuturnya.

Meski terpaut selisih yang sangat kecil, saat itu pasangan Achmad Ru’yat dengan Aim Halim Hermana tidak melayang­kan gugatan. ”Saya hormati dan memberikan kesempatan untuk kepemimpinan tersebut. Dengan rasa bahagia, mudah-mudahan pemerintah berjalan sebaik-baiknya, tapi faktanya kepe­ngatan,’’ akunya. Dengan selisih yang sangat tipis, ia kini berusaha untuk memenangkan pilkada. ”Target kami menang. Kami akan melampaui kontestasi di Pilkada Bogor,’’ cetusnya.

Sementara itu, bakal calon pendamping Ru’yat, Zaenul Mutaqin optimistis memenangkan Pilwalkot Bogor. Kepercayaan diri itu datang dari modal suara yang bakal dibawa masing-masing partai pendukung. ”Koalisi yang kami bangun, koalisi hati. Sama-sama ada kecocokan dari masing-masing partai,’’ ujarnya.

Koalisi manakah yang lebih efektif mendulang suara? Pengamat politik Yusfitriadi menilai tidak ada hubungan yang kuat antara koalisi gemuk dengan pemenangan pasangan calon. Karena dalam konteks pilkada atau pilpres, sosok figur yang lebih dominan atas kemenangan atau kekalahan dalam kontestasi tersebut. ”Namun tentu saja tidak seekstrem itu. Artinya, masih bisa dikalkulasi dan dianalisis terutama dalam konteks Kabupaten dan Kota Bogor,’’ ungkapnya.

Koalisi gemuk yang menjadi pengusung Bima-Dedie, menurut Yus, akan dilemahkan oleh figur Bima-Dedie itu sendiri. Pasalnya, beberapa parpol yang mengusung petahana dinilai kemungkinan terpaksa karena intervensi dari pusat. ”Sehingga bukan tidak mungkin mesin partai yang banyak itu tidak akan bergerak. Bahkan akan membebaskan para konstituen untuk memilih pasangan sesuai seleranya,’’ ujarnya kepada Radar Bogor.

Di bagian lain, perang koalisi gemuk versus koalisi hemat juga terjadi di pilkada Kabupaten Bogor. Bapaslon Ade Ruhandi-Inggrid Kansil maju dengan dukungan 24 kursi parlemen dari Partai Golkar, Demokrat, NasDem, PKS, dan PAN. Sedang­kan lawan bapaslon ini dengan koalisi hemat, yakni bapaslon Ade Yasin-Iwan Setiawan, dengan dukungan PPP, Gerindra, dan PKB. Total kekuatan kursi di parlemen sebanyak 16 kursi.

Mengambil contoh koalisi Ade Yasin-Iwan Setiawan. Walaupun kurus, kata Yus, koalisi itu memiliki basis-basis massa yang sama sekali tidak terlalu berhubungan dengan parpol. Seperti basis-basis keislaman yang ada irisannya dengan PPP dan PKB. Mulai pesantren, para ulama, hingga majelis taklim.

Sementara pada koalisi pendukung pasangan Ade Ruhandi-Inggrid Kansil, Partai Demokrat tidak mengusung kader asli Bogor. Sehingga sangat mungkin konstituennya dibebaskan untuk memilih siapa pun. Begitu pun dengan PKS, sangat mungkin konstituennya akan mengadakan pengeroposan pemilih di dalam partai koalisi.

”Tapi, Ade Ruhandi sudah sejak lama membangun basis pemilih. Misalnya dengan para agamawan, alim ulama, ormas kebangsaan dan kepemudaan. Bukan tidak mungkin melalui struktur dan simpul-simpul ASN,’’ ujarnya.

Yus juga melihat barter politik di pilbup dan pilwalkot Bogor antara PKS dan PPP tidak berjalan mulus. Dia mengendus aksi ”khianat’’ yang dilakukan PKS di Kabupaten Bogor. ”Logikanya, kesepakatan sudah dibangun antara PPP dan PKS di Kota dan Kabupaten Bogor. Tapi di Kabupaten Bogor, PKS malah mendukung Golkar,’’ kata dia.

Yus menyebut kondisi itu sebagai pelanggaran etika politik yang sudah disepakati bersama. ”Ini harus dijadikan warning bagi pasangan Jaro Ade-Inggrid. Sebab, sangat mungkin PKS akan kembali berkhianat dengan modus operandi apa pun. Misalnya, dukungan diberikan kepada Jaro Ade dan Inggrid, tapi konstituen diinstruksikan untuk memilih Ade Yasin dan Iwan Setiawan,’’ sebutnya.

Namun, pandangan Yusfitriadi dibantah para penggawa PKS Kabupaten Bogor. Alasan meninggalkan PPP di Kabupaten Bogor diklaim sebagai titah dari dewan pimpinan pusat. Ketua DPD PKS Kabupaten Bogor, KH Agus Salim menyatakan bahwa pihaknya menyerahkan arah dukungan partai kepada DPP.

”Kemudian kami ikhtiarkan sampai tadi malam. Allah SWT belum mengizinkan kami untuk mengusung dari kader sendiri,’’ jelasnya kepada awak media saat konferensi pers di kantor DPD PKS Kabupaten Bogor, kemarin (10/1).

DPP PKS, menurut Kiai Agus, kembali menginstruksikan untuk tetap mengusung pasangan calon bupati dan calon wakil bupati yang sudah siap. Untuk itu, PKS Kabupaten Bogor memilih pasangan Ade Ruhandi–Inggrid Kansil lantaran persamaan visi misi.

Tak begitu saja memberi dukungan, DPD PKS Kabupaten Bogor juga meminta duet pasangan tersebut untuk merealisasikan beberapa hal. Pertama, mengedepankan dak­wah keislaman dan pendidikan Islam di Kabupaten Bogor. Kedua, komitmen untuk mengentaskan kemiskinan, memakmurkan dan menyejahterakan masyarakat Bogor. Terakhir, agar melakukan pembangunan dengan mengedepankan kelestarian lingkungan.

”Kami tidak ingin kemudian kosong saja. Kami titipkan apa yang menjadi amanah dari kami terkait keumatan untuk bisa diwujudkan,’’ cetusnya.(ded/fik/d)

Komentar Anda

Baca Juga