Beranda Metropolis

Kenali Depresi demi Cegah Bunuh Diri

BERBAGI

BOGOR–Kasus bunuh diri belakangan ini kian marak. Di Kota Bogor saja, sepanjang 2017, ada tiga kasus bunuh diri yang mayoritas melibatkan korban usia muda. Teranyar, kasus bunuh diri pegawai BUMN yang loncat dari apartemen lantai 10 di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Psikiater RS Marzoeki Mahdi (RSMM), Lahargo Kembaren menuturkan, setiap fenomena bunuh diri selalu meninggalkan perenungan, memunculkan pertanyaan mengapa hal itu bisa terjadi.

Dampak yang disebabkan juga bukanlah hal yang ringan karena kehilangan orang yang dikasihi. “Seorang yang melakukan atau mencoba bunuh diri sebenarnya tidak sungguh-sungguh ingin mengakhiri hidupnya,” ungkapnya.

Laharga yang juga adalah kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RSMM, menjelaskan, mereka (korban bunuh diri) sebenarnya ingin penderitaan atau konflik yang dialaminya cepat berakhir. Hanya, sayangnya, bunuh diri yang menjadi pilihan karena seolah tidak ada bantuan lain yang bisa diharapkan. “Ada beberapa tanda dan gejala bunuh diri yang perlu diketahui agar bisa melakukan pencegahan,” jelas Lahargo.

Antara lain, mereka yang ingin bunuh diri biasanya berbicara tentang keinginan untuk mati atau ingin bunuh diri, berbicara tentang perasaan kosong, hampa dan tidak punya alasan untuk hidup.

Jika ditemukan tanda dan gejala tersebut, sebaiknya segera menghubungi profesional kesehatan jiwa seperti psikiater, psikolog, perawat jiwa, dokter umum terlatih, dan pekerja sosial.

“Setiap orang memiliki risiko untuk melakukan bunuh diri. Tidak memandang jenis kelamin, suku budaya, latar belakang pendidikan, dan pekerjaan,” bebernya.

Perilaku bunuh diri, kata dia, disebabkan oleh berbagai faktor yang kompleks dan tidak ada penyebab tunggal. Di antaranya, depresi, gangguan jiwa lain, nyeri kronis, dan adanya kekerasan dalam rumah tangga. “Terpapar perilaku bunuh diri yang dilakukan oleh orang lain juga bisa menjadi pemicu,” jelasnya.

Lahargo menegaskan, perlu diperhatikan bahwa perilaku bunuh diri adalah tanda adanya suatu stres yang berat yang dialami oleh orang tersebut. Setiap pikiran dan perilaku bunuh diri harus dianggap sebagai suatu hal yang serius dan segera mendapatkan pertolongan.

“Jika terdapat tanda, gejala, dan faktor risiko mengenai perilaku bunuh diri, perlu segera dilakukan penanganan. Mulai melakukan komunikasi dan pendampingan yang intensif untuk memastikan apa yang dikhawatirkan tidak benar,” cetusnya.(wil/c)

Komentar Anda

Baca Juga