Beranda Ekonomi

Pajak Terdongkrak Harga Komoditas

BERBAGI
IMPRESIF: Pengunjung melintas di salah satu mal di Jakarta kemarin. Meski daya beli ditengarai menurun, penerimaan PPN (pajak pertambahan nilai) yang sangat bergantung pada transaksi justru melampaui target.

JAKARTA–Selain perluasan basis pajak, pe­mu­­­lihan ekonomi tahun lalu menjadi faktor penentu penerimaan pajak. Dirjen Pajak Kemenkeu Robert Pak­pahan mengatakan, kontri­busi sektor pertambangan ter­hadap penerimaan pajak men­capai 5,3 persen. Pertum­bu­hannya mencapai 39,3 persen.

Sementara itu, sektor perke­bunan dan pertanian mem­berikan kontribusi 1,7 persen dengan angka pertumbuhan penerimaan pajak sebanyak 27,6 persen.
”Ini memang karena perbaikan ekonomi,” kata Robert.

Pertumbuhan penerimaan yang terbesar ketiga berasal dari sektor perdagangan sebesar 22,9 persen. Kontribusinya terhadap penerimaan pajak mencapai 19,3 persen.
Kemudian, di sektor manu­faktur, pertumbuhan pene­rimaannya juga lumayan. Yaitu, 17,1 persen dengan kontribusi terhadap penerimaan pajak sebesar 31,8 persen.
Robert menuturkan, dengan capaian penerimaan pajak tahun 2017 tersebut, dirinya optimistis dalam mencapai target penerimaan Rp1.424 triliun. Dia menekankan, fokus Ditjen Pajak pada tahun ini adalah mengamankan target penerimaan serta melanjutkan reformasi perpajakan untuk membangun kepatuhan jangka panjang yang berkelanjutan.

Secara umum, meski lagi-lagi tidak mencapai target, realisasi penerimaan pajak hingga 31 Desember 2017 lebih baik daripada dua tahun sebelumnya. Berdasar data Ditjen Pajak, hingga akhir tahun, total penerimaan mencapai Rp1.151 triliun atau 89,7 persen dari target dalam APBNP 2017 yang sebesar Rp1.283,6 triliun. Jumlah tersebut tumbuh 4,08 persen dari tahun sebelumnya.

Robert menambahkan, angka pertumbuhannya bisa lebih tinggi lagi jika tidak menyertakan tambahan penerimaan dari program pengampunan pajak. Pada 2016, tambahan penerimaan dari program tersebut mencapai Rp104,0 triliun. Selain itu, ada tambahan penerimaan dari revaluasi aktiva tetap yang sebesar Rp18,7 triliun. Sementara pada 2017, dari program amnesti pajak, terkumpul peneriman Rp12,0 triliun.

”Supaya apple-to-apple, kita akan keluarkan uang tebusan dari pengampunan pajak dan revaluasi aset. Kalau kita keluarkan pengeluaran tidak berulang itu, pertumbuhan PPh nonmigas adalah 15,27 persen. Sehingga sebenarnya cukup bagus pertumbuhannya kalau dibandingkan apple-to-apple,” papar Robert.

Pakar pajak dari MUC Consulting Group Wahyu Nuryanto menuturkan, ada beberapa sektor yang akan memberikan kontribusi besar tahun ini. Yakni, sektor pengolahan dan sektor perda­gangan, khususnya terkait pesatnya perkembangan e-commerce.

”Kemudian, sektor informasi dan teknologi juga pertum­buhannya akan bagus. Lalu, sektor transportasi juga cukup bagus tahun ini,” imbuhnya.(ken/agf/c10/sof)

Komentar Anda

Baca Juga