Beranda Ekonomi

Fintech dan Leisure Terus Tumbuh

BERBAGI
Frizal/Jawa Pos
MODERN: Aplikasi pembayaran ojek online banyak digunakan konsumen.

Perekonomian mungkin sedang lesu. Namun, segmen leisure atau waktu luang diperkirakan terus tumbuh pada 2018 ini. Hal itu sejalan dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang menjadikan liburan sebagai kebutuhan. Tak hanya itu, fintech juga diprediksi bakal semakin berkembang.

Pelesir memang menjadi tren baru. Mengikuti perkembangan era kekinian, aktivitas berwisata tersebut dibumbui aksi foto-foto, lalu diunggah ke media sosial. Tidak sedikit masyarakat yang pergi ke suatu tempat lantaran tertarik setelah melihat posting-an di media sosial.

Tren tersebut cukup berdampak positif terhadap peningkatan jumlah kunjungan wisatawan domestik. Terlebih, para pelancong, khususnya anak muda atau generasi milenial, tidak hanya datang ke tempat yang sudah populer. Mereka berani menciptakan tren tempat wisata baru. Mereka menggemari wisata petualangan maupun eksplorasi.

”Kami belum melihat berapa expenditure mereka. Sifatnya lebih pada backpacker, lebih pada low budget traveler. Tetapi, tidak apa-apa asalkan ada proteksi dari pemerintah,” kata staf ahli Pokja Pariwisata Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN) Sari Lenggogani. Ya, pemerintah harus bisa membuat regulasi agar wisatawan tidak merusak ekosistem di tempat yang dikunjungi.

Leisure economy mendongkrak tumbuhnya bisnis penginapan. Banyak guest house, apartemen, maupun rumah dengan harga miring ditemukan di aplikasi perjalanan. Meski, di sisi lain, pengusaha hotel harus menghela napas panjang. ”Saat ini untuk okupansi hotel yang paling bagus masih bintang 5. Sebab, persaingannya tidak sesengit dengan hotel di segmen lainnya,” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jatim M Soleh.

Tren leisure bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat di daerah. Mereka yang memiliki rumah ’’nganggur’’ bisa menyewakan kepada petualang sekaligus menjajakan makanan dengan cita rasa lokal maupun oleh-oleh khas daerah. Kuliner bercita rasa tradisional pun berkembang.

Sementara itu, pemerintah juga harus berbenah. Tujuannya, bisa menggaet para generasi milenial untuk meramaikan wisata di negeri sendiri. Sebab, maraknya tiket promo tak dimungkiri membuat wisatawan domestik lebih memilih terbang ke negara lain.

Selain leisure, industri financial technology (fintech) juga berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Cakupannya semakin luas. Bukan hanya jasa pembayaran dan pemberi pinjaman, bisnis start-up tersebut semakin luas hingga ke ranah arisan dan penyedia solusi.

Indonesia mempunyai potensi market yang luas untuk industri fintech. Di antaranya, generasi milenial usia 25–35 tahun yang jumlahnya sekitar 40 persen dari total populasi. Mereka adalah generasi technology savvy yang empuk bagi perkembangan pasar industri fintech. Mereka yang unbankable pun sangat menarik untuk ditawari pinjaman uang dari perusahaan fintech.

Managing Director PT Digital Artha Media Fanny Verona mengatakan, 2018 akan menjadi arena pertarungan bisnis yang sengit bagi industri fintech. ”Semakin banyak orang membayar listrik pakai ponsel. Orang yang tidak punya uang pun hobi mengajukan kredit buat beli ponsel tipe keluaran terbaru,” jelasnya.

Segala kemudahan dan kecepatan yang ditawarkan fintech mampu menarik konsumen untuk semakin mengenal teknologi. Terutama dalam memenuhi keperluan terkait dengan finansial.

Menurut Fanny, setelah Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatur fintech, industri pun semakin percaya diri untuk tumbuh. Sebab, ada pengawasan dan payung hukum yang menaungi.(rin/c25/vir/c7/fal)

Komentar Anda

Baca Juga