Beranda Berita Utama

Bogor-Soetta Bebas Macet, KA Bandara Tiap 15 Menit

BERBAGI
Setpres
SANTAI: Presiden Jokowi berpenampilan santai saat menjajal kereta bandara kemarin (2/1).

BOGOR–Warga Bogor calon penum_pang pesawat kini dimanjakan dengan keberadaan KRL khusus bandara. Tak perlu lagi berjuang menempuh macet tol Jagorawi. Cukup memarkirkan kendaraan di Stasiun Bogor, kemudian naik KRL untuk kemudian menyambung dengan kereta bandara.

KA menuju Bandara Soekarno Hatta bisa dinaiki di beberapa stasiun. Di antaranya: Stasiun Manggarai, Stasiun Sudirman Baru (BNI City), Stasiun Duri, serta Stasiun Batu Ceper. Rutenya hampir sama seperti menuju Stasiun Tangerang. Hanya, dari Stasiun Duri, KA Bandara berpisah arah dari Stasiun Batu Ceper.

Semisal menggunakan KA Bandara melalui stasiun Sudirman Baru. Setelah memarkirkan kendaraan di Stasiun Bogor, penumpang naik KRL jurusan Tanah Abang dengan membayar tiket Rp6.000 dengan jaminan kartu tiket Rp10.000 (uang jaminan dikembalikan di stasiun tujuan), dan turun di Stasiun Sudirman (perkiraan waktu tempuh 60-70 menit). Dari stasiun ini, penumpang keluar kawasan stasiun menuju Stasiun Sudirman Baru (BNI City), melalui jalur pedestrian khusus (jarak tempuh sekitar 200 meter).

Dari stasiun ini, penumpang kemudian membeli tiket seharga Rp70 ribu pada vending machine yang disediakan. Waktu tempuh dari Stasiun Sudirman Baru menuju Bandara Soetta sekitar 40–50 menit. Jadi, total perjalanan Bogor-Soetta menggunakan kereta yakni maksimal selama 120 menit atau dua jam perjalanan.

VP Komunikasi PT KCI Eva Chairunisa menjelaskan, PT Railink sebagai operator KA Bandara akan mengoperasikan secara penuh jadwal 82 perjalanan. PT KCI sebagai operator KRL pun akan melakukan penyesuaian jadwal KRL.

Di bagian lain, sejumlah target sudah menanti KA Bandara setelah beroperasi secara resmi kemarin (2/1). Baik jangka pendek terkait headway (keberangkatan) dan pengembangan stasiun, maupun jangka panjang berupa integrasi moda. Target utamanya, jumlah kendaraan pribadi yang masuk ke kompleks Bandara Soekarno-Hatta menyusut.

Kemarin (2/1) Presiden Joko Widodo meresmikan pengoperasian kereta bandara di Stasiun Bandara Soekarno-Hatta. Mengenakan kaus merah lengan panjang, celana jins, dan sepatu kets, penampilan kasual Presiden tampak kontras dibandingkan para menteri dan undangan yang rata-rata berpakaian formal.

Usai peresmian, Presiden bersama sejumlah menteri langsung menjajal KA bikinan INKA itu. Jalur yang dijajal adalah jalur baru antara Bandara Soekarno-Hatta sampai Staisun Duri, disambung dengan jalur existing antara Stasiun Duri hingga Stasiun Sudirman Baru.

Di antara para penumpang, tampak pula beberapa anggota Gerakan Aksesibilitas Umum Nasional (GAUN) yang ikut serta dalam uji coba. Rupanya, kursi roda ukuran standar tidak bisa lewat di dalam lorong kereta yang lebarnya sekitar 50 cm. ’’Kalau tipe sport seperti punya saya, lebih kecil, tapi ini sudah ngepres banget,’’ tutur anggota GAUN Retnowati saat menjajal lorong KA menggunakan kursi rodanya.

Perjalanan selama 55 menit itu tampak membuat presiden puas. ’’Keretanya bagus, nyaman, yang paling penting tepat waktu. 55 menit tet sampai,’’ ujar Jokowi setibanya di Stasiun Sudirman Baru.

Dia juga sudah menerima masukan dari GAUN, dan harus diakui fasilitas untuk penyandang disabilitas masih kurang. Baik di dalam stasiun bandara maupun di dalam KA. Sedangkan, di Stasiun Sudirman Baru sudah cukup baik. Terkait hal itu, Jokowi berjanji membicarakannya dengan menteri perhubungan.

Mengenai tarif, menurut Jokowi, masih dalam tahap penghitungan. ’’Rp70 ribu kita harapkan masih dipertahankan, tapi masih dihitung,’’ lanjutnya. Sebab, ada tujuan yang lebih besar dalam pembangunan KA Bandara. Yakni, mengalihkan pengguna mobil pribadi agar mau menggunakan sarana transportasi massal.

Targetnya, KA tersebut bisa menggaet konsumen yang tadinya menggunakan kendaraan pribadi untuk menuju bandara. Kendaraan-kendaraan pribadi itu akan ditampung di Stasiun Gambir atau Pacific Place, dan dari kedua lokasi itu disediakan layanan komuter menuju Stasiun Sudirman Baru.

Secara keseluruhan, KA Bandara merupakan bagian dari grand design transportasi massal khususnya di Jabodetabek. KA tersebut akan terintegrasi dengan KRL, bus TransJakarta, MRT, dan LRT yang bisa menjangkau Jabodetabek. Lebih luas lagi, integrasi akan ditambah dengan kereta cepat Jakarta-Bandung dan KA semicepat Jakarta-Surabaya.

Selain itu, integrasi transportasi massal tersebut juga akan menjadi alat untuk memindahkan kebiasaan masyarakat menggunakan uang tunai menjadi cashless. Untuk saat ini, memang masih disediakan loket untuk membeli tiket prepaid. Namun, dalam jangka panjang, penggunaan nontunai seperti uang elektronik, kartu debit, hingga kartu kredit akan diprioritaskan.

Jokowi mengatakan, transportasi massal yang aman, nyaman, dan tepat waktu di Jabodetabek sudah menjadi sebuah keharusan. ’’Karena kemacetan setiap tahun menghabiskan anggaran Rp67 triliun. Hilang karena macet,’’ tambah mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Sementara itu, Menhub Budi Karya Sumadi menuturkan, presiden meminta dua hal untuk dilakukan dalam jangka pendek. Pertama, konektivitas dengan stasiun Manggarai dipercepat sehingga semakin mudah dijangkau pengguna KRL. ’’Yang kedua, cepat ditingkatkan headway-nya, jadi 15 menit,’’ terangnya.

Saat ini, untuk sementara headway KA bandara berlangsung tiap sekitar satu jam. Setiap satu jam, satu rangkaian KA berisi enam gerbong berangkat dengan membawa maksimal 272 penumpang. Dalam sehari, bakal ada 42 headway dengan total penumpang yang terangkut maksimal 11.424 orang.

Meskipun demikian, berdasarkan skenario yang ada, sangat mungkin jumlah total headway riil hanya 37. Dari Sudirman, kereta pertama berangkat pukul 03.51 dan kereta terakhir pukul 21.51. Bila dihitung, menghasilkan 19 headway. Sementara, dari bandara, kereta pertama berangkat pukul 06.10 dan berakhir pukul 23.10, sehingga menghasilkan 18 headway.

Budi menambahkan, terkait tarif, pihaknya sedang mendiskusikannya dengan semua pihak, terpasuk PT Railink selaku pengelola. ’’Karena ini entitas bisnis, kita juga tidak bisa memaksakan mereka dengan income yang rendah,’’ tambahnya. Harus ada substitusi income, apakah berupa subsidi pemerintah atau sponsor.(byu/lum/fik)

Komentar Anda

Baca Juga