Beranda Pendidikan

Terbitkan Ratusan Karya Guru

BERBAGI
LITERASI: Para guru saat mengikuti pelatihan menulis yang diadakan KAGUM.

BOGOR–Indonesia tertinggal jauh dari segi literasi dari Singapura, Malaysia, Australia, Jepang, Korea Selatan, bahkan Amerika Serikat. Hasil skor tes PISA (Programme for Inter­nastional Students Assessment) dalam 10 tahun terakhir, Indo­nesia berada di peringkat 60 dari 61 negara.

Hal tersebut menggerakkan sanubari Catur Nurrochman Oktavian untuk mendirikan Komunitas Gemar Menulis dan Membaca (KAGUM) Literat untuk kalangan guru. ”Saya mendirikan komunitas ini dilatarbelakangi masih minim­nya guru yang suka menulis sehingga buku dan karya mereka pun minim, padahal ini merupakan teladan bagi siswa-siswanya,” tutur Catur.

Ia tidak sendiri, melainkan bersama Pemimpin Redaksi Majalah Guneman Esep Muhammad Zaini. Keduanya gencar mengge­lorakan budaya literasi, khusus­nya di kalangan guru. ”Dalam perjalanannya saya juga me­ngajak Bu Wulan, yang sekarang merupakan Ketua IGI Kota Bogor untuk ikut serta, meski sekarang beliau tidak lagi bersama kami,” bebernya.

Pada 14 Februari 2016, Catur menuturkan, KAGUM Literat dibentuk di Rumah Makan Ayam Bakar KQ5. ”Saat itu, dikum­pulkan 12 orang yang mayoritas adalah guru untuk mendirikan KAGUM Literat ini,” jelasnya.

Pria yang juga mengajar di SMPN 1 Kemang ini menegaskan, KAGUM didirikan tidak hanya untuk kalangan guru, tapi juga menumbuhkembangkan budaya literasi di masyarakat umum.

”Kehadiran kami untuk membantu Disdik (Dinas Pendidikan) dan Disarpus (Dinas Kearsipan dan Perpus­takaan) dalam menyemarakkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sebagaimana amanat Permen­dikbud Nomor 23 Tahun 2015,” tambah Catur.

Hingga saat ini, banyak kegiatan yang dilakukan KAGUM Literat. Seminar dan lokakarya menulis, kelas menulis hingga empat angkatan, penerbitan buku-buku guru dan siswa yang awalnya hanya di wilayah Bogor Raya saja. ”Namun saat ini justru merambah ke daerah-daerah lain di Indonesia, terdapat guru-guru dari Kalimantan Tengah, Jawa Tengah, Riau, dan Jawa Barat yang telah menerbitkan buku di KAGUM,” bebernya.

Keanggotaan komunitas ini bersifat terbuka. Sehingga, lanjutnya, terdapat 160 orang yang tergabung dalam komu­nitasnya via online. “Karena kami berbentuk komu­nitas, bukan suatu organisasi kepro­fesian,” cetusnya.

Motivasi bergabung, menurut Catur, adalah ingin bisa menulis dan menerbitkan buku. “Jadi bukan hanya guru, kepala sekolah, pengawas, dan masih banyak profesi lainnya pun ikut bergabung,” tambahnya.

Ratusan karya guru pun telah diterbitkan KAGUM Literat. Catur berharap, di 2018 ini, komunitasnya dapat terus membantu pemerintah dalam memperbanyak penerbitan buku-buku yang berkualitas dan bermanfaat. ”Satu lagi harapan kami, yaitu mendirikan Taman Bacaan KAGUM di 40 ke­ca­matan,” harapnya.(cr1/c)

Komentar Anda

Baca Juga