Beranda Berita Utama

Jembatan Bambu Wisata Rusa Ambruk, Dua Tewas, Puluhan Patah Tulang

EVAKUASI: Warga bersama pengunjung lainnya mengevakuasi korban ambruknya jembatan gantung menuju kawasan wisata WWPR, Kampung Girijaya RT 08/04, Desa Buanajaya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, kemarin (1/1).

BOGOR–Liburan awal tahun di Wana Wisata Penangkaran Rusa (WWPR), Kampung Girijaya RT 08/04, Desa Buanajaya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, berujung petaka. Jembatan gan­tung menuju kawasan penangkaran, ambruk. Dua orang tewas serta 30 lebih pengunjung mengalami luka berat dan ringan.

Sedari pagi hingga siang kemarin (1/1), jumlah pengunjung ke kawasan WWPR terus bertambah. Maklum, wahana wisata yang menawarkan panorama alam ini murah meriah.

Dari tempat parkir di Desa Buanajaya, pengunjung harus berjalan kaki, melewati jembatan gantung sepanjang 44 meter di atas Sungai Cibeet. Jembatan gantung yang terbuat dari bambu ringkih ini merupakan akses satu-satunya menuju kawasan WWPR.

”Ya awalnya berebut ingin cepat-cepat, buru-buru pulang, kan. Ada yang ngaturnya tuh di jembatan satu orang,’’ tutur Hendrik (34), mengingat detik-detik ambruknya jembatan gantung.

Hendrik saat itu berada di antrean paling belakang. Sore itu, menurutnya, para pengunjung hendak kembali pulang. Ia melihat persis bagaimana para pengunjung saling mendahului untuk cepat sampai di seberang.

Klik Gambar

”Petugasnya kewalahan. Tali besi pengait jembatan tiba-tiba putus. Astagfirullah, saya bilang, kan, saya lihat yang putus itu sling pengaitnya nyabet kepala saya. Saya langsung jatuh nyusruk ke bawah,’’ tuturnya.

Hendrik berharap pemerintah daerah turun tangan. Juga, pemilik lembaga konservasi tersebut harus turut bertanggung jawab. ”Diperbaiki lah fasilitasnya, jangan ambilin uang-uangnya saja. Fasilitas juga harus sesuai. Kalau sudah kejadian ini, kan kita mau salahkan siapa?’’ keluhnya.

Berdasarkan keterangan relawan Tagana Kabupaten Bogor, Okih Heriana, memang di hari pertama 2018 kemarin, pengunjung tak henti-hentinya merangsek ke kawasan WWPR.

Hingga sekitar pukul 14.20 WIB, terpantau puluhan orang berjejalan melewati jembatan bambu. Mereka adalah pengunjung yang hendak masuk dan keluar penangkaran. ”Tiba-tiba ambruk. Jembatan kelebihan muatan,’’ ujarnya kepada Radar Bogor.

Belum sempat menikmati kawasan penangkaran rusa seluas lima hektare di ketinggian 1.250-1.000 mdpl, puluhan orang di atas jembatan setinggi enam meter jatuh terempas ke sungai yang sarat bebatuan besar.

Beberapa dari mereka sempat tersabet dan terlilit tali penggantung jembatan. Di antara para korban tampak anak-anak, remaja dan lansia. ”Info sementara ada 33 orang jadi korban,’’ kata Okih.

Seketika, Tagana bersama warga dan pengunjung lainnya mencoba menyelamatkan para korban. Terpenting saat itu, kata Okih, adalah menyela­matkan korban dan jangan sampai terbawa arus sungai. Setelah itu, para korban langsung dilarikan ke puskesmas dan rumah sakit terdekat.”Sementara dibawa ke Puskesmas Tanjungsari, ada yang dibawa ke rumah sakit di Cianjur juga,’’ ungkapnya.

Hingga berita ini diturunkan, dua korban atas nama Heni (45) asal Jatiasih, Bekasi, dan Jaya (28) asal Bantargebang Bekasi, dikabarkan meninggal dunia. Keduanya diduga meninggal akibat luka di bagian kepala. Sementara puluhan korban lainnya diketahui mengalami patah tulang, luka ringan, dan beberapa sempat pingsan.

”Heni meninggal dalam perjalanan ke RSUD. Sementara Jaya, barusan (tadi malam, red) saya dapat kabar dari keluarganya, korban meninggal dunia,’’ jelas Okih.

Petugas Puskesmas Tanjungsari, Iwan Kustiawan, mencatat terdapat 34 orang dibawa masuk ke puskesmas dan diberi penanganan pertama pada kecelakaan (P3K). Lima di antaranya dirujuk ke rumah sakit karena mengalami luka cukup parah. ”Kebanyakan mengalami patah tulang,’’ terangnya.

Sementara itu, Kapolsek Tanjungsari Iptu Muhaimin menyebut korban Heni (45) warga Jatiasih, Bekasi, meninggal dalam perjalanan menuju RSUD Cileungsi. Muhaimin memastikan pihaknya akan mendalami musabab putusnya jembatan tersebut. ”Kami berkoordinasi dengan pihak pengelola Perum Perhutani KRPH Cariu soal kejadian ini,’’ tukasnya.(don/c)

Baca Juga