Beranda Ekonomi

Hunian Vertikal Masih Jadi Tren

Dua tahun ­terakhir, kinerja properti ­secara umum belum ­mencatat pertumbuhan yang ­menggembirakan. Namun, ­developer ­properti tetap ­memandang ­tahun ­depan dengan ­optimistis. Hunian vertikal ­seperti apartemen dan ­kondiminium bahkan masih menjadi tren.

Seperti diketahui 2018 merupakan tahun politik. Meski demikian, peluang sektor properti untuk tumbuh masih terbuka. Kekhawatiran terhadap tahun politik hendaknya tidak menjadi kendala bagi pengembang.

”Berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, momen politik, termasuk pilkada, cenderung landai,” kata Senior Director PT Ciputra Development Tbk Sutoto Yakobus.

Untuk menjaga pertumbuhan, pihaknya menyiapkan program yang sebenarnya dijalankan sejak beberapa tahun terakhir. Yakni, skema cicilan uang muka jangka panjang.

Program tersebut dinilai masih relevan dengan kondisi saat tahun politik. Yaitu, ketika konsumen dibayangi kekhawatiran untuk membelanjakan dananya.

”Nah, dengan cicilan uang muka jangka panjang, risiko konsumen menjadi kecil. Harapan kami, mereka tidak takut menginvestasikan uangnya di properti,” tutur Sutoto.

Biasanya, jangka waktu cicilan uang muka yang diterapkan adalah 36 bulan atau tiga tahun. Dengan jatuh tempo yang panjang itu, cicilan uang muka bakal berakhir ketika pilkada selesai. Memang, untuk menerapkan skema tersebut, tidak semua developer mampu. ”Sebab, perlu modal kerja yang besar,” katanya.

Selain itu, dikembangkan apartemen yang menyasar segmen menengah. Adapun untuk komersial, pihaknya bakal melanjutkan pengembangan kawasan CitraLand CBD melalui lifestyle mal.

Wakil Presiden Direktur dan Chief Operating Officer PT Intiland Develop­ment Sinarto Dhar­mawan me­nuturkan, kinerja Intiland pada 2017 ter­tolong oleh bisnis kawa­san industri. Sementara itu, penjualan untuk residential dan office malah tidak setinggi tahun sebelumnya. ”Secara overall, masih baik dan mencapai target,” katanya.

Tahun depan, pencapaian target tidak lepas dari pedoman untuk memberikan nilai tambah pada tiap produk yang di­pasarkan. Dengan begitu, produk bisa berdaya guna untuk konsumen maupun masyarakat. ”Filosofinya, kalau produk itu berdaya guna, tentu bisa bertahan,” terang Sinarto.

Meski dibayangi penurunan penjualan pada hunian dan perkantoran pada 2017, tahun depan pihaknya berencana menyiapkan beberapa produk baru. Salah satu tujuannya adalah memperluas segmen pasar. Misalnya, di Graha Golf akan dikembangkan tahap ketiga setelah sebelumnya dipasarkan tahap pertama dan kedua.

Dengan kondisi lahan yang kian terbatas, daripada membeli lahan untuk membangun landed house, akan lebih baik dibelan­jakan apartemen atau hunian bertingkat lain.

”Jadi, kalau ada orang kaya yang sebenarnya mampu beli lahan, tapi memilih untuk membeli apartemen, harus dihargai,” lanjut Sinarto.
Sementara itu, pertumbuhan sektor properti bakal banyak ditopang segmen menengah. Sebab, segmen tersebut didominasi kalangan end user dengan kebutuhan terhadap hunian yang tinggi.

Senior Associate Director and Research Colliers Inter­national Ferry Salanto menga­takan, upaya menumbuhkan sektor properti tidak terlepas dari peran kebijakan peme­rintah. Suku bunga yang lebih rendah serta aturan yang ber­pihak pada kemudahan peri­zinan dan pertumbuhan, ter­­masuk pajak, bisa meme­nga­ruhi laju properti ke depan. ”Serta bagaimana daya beli masya­rakat bisa lebih mening­kat,” ujar Danny.

Sejauh ini, kebijakan LTV sudah cukup menarik dan dirasa tidak perlu dilakukan perubahan yang radikal. ”Yang lebih penting adalah menurunkan suku bunga pinjaman. Sebab, inilah sisi yang menghambat pertumbuhan properti, baik bagi konsumen maupun pengembang,” jelasnya.

Di sisi lain, kalangan perbankan memiliki strategi untuk ambil bagian dalam pertumbuhan sektor properti. Sejalan dengan gencarnya para pengembang meluncurkan produk baru, perbankan juga menyiapkan fasilitas kredit.

Senior Vice Presiden Regional Transaction & Consumer Head Bank Mandiri Region VIII Susatyo Anto Budiyono me­nyatakan akan terus memperluas kerja sama dengan para pe­ngem­bang perumahan.

”Rumah sudah menjadi suatu kebutuhan yang harus dipenuhi,” tuturnya.

Program suku bunga yang baru diluncurkan pada De­sem­ber lalu sebesar 5,99 persen untuk dua tahun pertama dan 6,75 persen untuk dua tahun berikutnya. Dari prog­ram tersebut, sudah ter­serap sekitar Rp450 miliar. Tingginya animo memung­kinkan program itu terus dilanjutkan tahun depan.(res/c25/fal)

Baca Juga