Beranda Female

Metode CAPD, Alternatif Perawatan Gagal Ginjal

Banyak minum air putih jadi cara terhindar dari gagal ginjal (ilustrasi)

APA itu continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD)? Continuous berarti proses dialisis tidak berhenti atau secara berkesinambungan ”membersihkan” darah 24 jam sehari, setiap hari. Ambulatory bermakna bebas bergerak, tidak berhubungan dengan mesin. Yang dimaksud peritoneal adalah menggunakan rongga peritoneum yang bekerja sebagai filter untuk mengeluarkan sisa metabolisme dan cairan dari darah. Dialysis berarti menyaring dan membuang cairan berlebih serta sisa metabolisme tubuh.

Pada prinsipnya, proses penyaringan darah pada CAPD menggunakan membran peritoneum. Jika pada proses hemodialisis ada dialiser yang juga berisi membran untuk menyaring darah, pada proses CAPD cairan dialisat dimasukkan ke rongga peritoneum, lalu terjadi proses penyaringan darah.

”Kemudian, dialisat yang mengandung produk sisa dikeluarkan dari rongga peritoneum,” papar dr Jonny SpPD KGH MKes MM dalam seminar Meningkatkan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronis oleh KPCDI dan Baxter di Jakarta.

Proses awalnya, sebuah kateter dipasang di dalam perut melalui tindakan operasi ke rongga peritoneum. Setelah kateter terpasang, cairan dialisat berfungsi untuk membilas rongga peritoneum. Fungsinya menyaring darah sepanjang hari.

Pasien akan dilatih terlebih dahulu oleh dokter maupun perawat di rumah sakit. Setelah dipastikan mampu melakukan sendiri secara tepat, pasien dapat menjalaninya di rumah. Penggantian cairan dilakukan empat kali dalam sehari. Yaitu, saat pagi, siang, sore, dan malam. Pertama, proses memasukkan cairan dialisat sekitar 10 menit. Cairan tersebut dibiarkan dalam rongga perut 4–6 jam. Setelah itu, proses pengeluaran cairan berlangsung selama 20 menit. Kemudian, diganti dengan cairan yang baru.

Proses penyaringan ini berlangsung 24 jam dalam setiap harinya, 7 hari dalam seminggu, seumur hidup. ”Bila sudah terbiasa, akan menjadi mudah. Ada yang 15-20 tahun menjalani dan tetap bugar,” tuturnya sembari menambahkan, pilihan metode yang diambil, apakah hemodialisis atau CAPD hendaknya disesuaikan dengan ketetapan hati pasien.

Penggantian cairan bisa dilakukan di mana saja seperti di rumah, kantor, sekolah, atau tempat lainnya. Asalkan syarat higienis terpenuhi agar terhindar dari infeksi. Dokter dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta itu lantas menguraikan gambaran gaya hidup pasien dengan metode CAPD. Di rumah, pasien harus menyiapkan tempat yang nyaman dan bersih untuk melakukan pertukaran cairan.

Pasien CAPD tetap bisa beraktivitas seperti biasa. Misalnya, bekerja atau bersekolah. Sama dengan ketika di rumah, siapkan satu ruangan khusus untuk melakukan penggantian cairan. ”Bila tidak memungkinkan, dapat melakukan penggantian cairan dialisat di rumah pada jam makan siang,” lanjut dr Jonny.

Bagaimana apabila pasien CAPD ingin melakukan perjalanan jauh, seperti berlibur atau umrah? Rutinitas penggantian cairan dapat dilakukan di mana pun tempat berlibur. Cairan CAPD bisa dipesan sebelumnya untuk dikirim ke destinasi tujuan. Atau, jika hanya berlibur dalam waktu singkat, semua perlengkapan CAPD dapat disiapkan sendiri dan dibawa.

Dokter Jonny menguraikan keuntungan penerapan CAPD. Di antaranya, struktur kimia darah yang stabil karena terjadi pertukaran secara terus-menerus dari produk- produk sisa metabolisme atau toksin. Fungsi ginjal sisa akan terpelihara lebih baik. Terutama jika ingin dilakukan transplantasi ginjal. Kelangsungan hidup (survival) lebih baik jika dibandingkan dengan hemodialisis pada tahun-tahun pertama.

Selain itu, penularan hepatitis B dan C lebih sedikit daripada hemodialisis. Pasien lebih dapat mengontrol diri sendiri karena tidak membutuhkan mesin dan diet dapat lebih ”bebas”. Dialisis bisa dilakukan di rumah sehingga relatif nyaman dan tidak ada keharusan untuk datang ke rumah sakit 2–3 kali seminggu. Dengan begitu, pasien tetap bisa beraktivitas seperti biasa. ”Banyak pasien saya yang tetap aktif bekerja, tidak terlihat dari luar kalau dia pasien gagal ginjal,” tuturnya.(nor/c6/ayi)

Baca Juga