Beranda Berita Utama

Mengunjungi Korban Kebakaran di SDN Empang 2

MOTIVASI: Mahasiswa UI dan Dinkes memberikan semangat kepada para pengungsi, kemarin. (Nelvi/Radar Bogor)

Pasca kebakaran di Kelurahan Gudang, Kecamatan Bogor Tengah, Senin (25/12) lalu, para pengungsi yang kini berada di posko pengungsian SDN Empang 2 harus segera meninggalkan tempat tersebut.

Laporan:  Meldrik dan Rani Puspitasari

Pemkot Bogor mengaku sudah menyiapkan beberapa solusi untuk meringankan beban warga. Di antaranya, penampungan, makanan, obat-obatan serta pengurusan surat–surat secara darurat.

Kepala BPBD Kota Bogor, Ganjar Gunawan mengatakan, anggaran bantuan yang diberikan sebesar Rp750 ribu selama lima bulan. Untuk satu kepala keluarga (KK) akan mendapatkan sebesar Rp3.750.000, dan bantuan tersebut diberikan untuk 62 KK korban yang terdampak atau rumahnya ludes terbakar.

“Logikanya, setelah kami berikan dana kontrakan, artinya para korban terdampak ini diberi kesempatan untuk menentukan sendiri mencari di mana dan seperti apa. Kami terbatas karena status tanggap darurat juga hanya tujuh hari,” jelasnya.

Tak hanya itu, pemkot masih akan melakukan kajian untuk bantuan lainnya. “Nanti setelah itu kami mengusahakan ada solusi yang permanen,” ungkap Wali Kota Bogor Bima Arya kepada Radar Bogor di pengungsian, Kamis (28/12).

Terkait keinginan warga perihal pembangunan rumah, Bima menuturkan, pihaknya mengusahakan agar warga bisa kembali lagi di tempatnya. Tapi, stasusnya harus jelas terlebih dahulu.

Ia mengungkapkan, jika lahannya bukan milik PT KAI berarti nantinya untuk sewa bisa ke Pemkot Bogor. “Nanti dibantu untuk mengurus semuanya, kami komunikasikan dengan PT KAI terkait pengaturannya bagaimana, warga bisa sewa itu pun sangat dimungkinkan,” katanya.

Lurah Gudang, Heri Eryadi mengaku, adanya kemungkinan tanah yang dijadikan tempat bermukimnya para warga merupakan tanah milik negara maupun daerah aliran sungai (DAS). Tapi, tidak menutup kemungkinan juga bahwa ada tanah yang merupakan hak milik warga. “Sedang kami cek dengan tim dari Pemkot Bogor saat ini, warga di situ kurang lebih sudah tinggal 30 tahun lamanya,” kata Hery.

Ketua RT 05 RW 01, Endang Suwarna mengatakan, dirinya bersama puluhan warga lainnya berharap agar Pemkot Bogor bisa membangun kembali rumah yang terkena dampak kebakaran.

Terkait dana bantuan untuk mengontrak, para pengungsi pun tidak bisa berdiam lama di posko pengungsian saat ini. Sebab, beberapa hari lagi akan kembali pada fungsi asalnya yaitu sekolah. “Nanti saya belum pikirkan untuk mengontrak di mana, belum tahu. Kalau dikasih kontrakan, tetap saja warga inginnya dibangun kembali ke situ. Saya juga masih tanya-tanya bagaimana itu nanti,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Kota Bogor, Heri Cahyono mengatakan, Pemkot Bogor harus mendata rumah yang terbakar di Kelurahan Gudang. Untuk mereka yang kepemilikan lahannya memang atas nama pribadi, pemkot juga diharapkan membangun kembali dengan dana bencana.

“Masyarakat lainnya, yang ingin meringankan beban para korban yang terkena musibah diharapkan juga menanyakan kepada satgas di lokasi terkait kebutuhan warga, jangan sampai menumpuk dan tidak terpakai,” ucap Heri.

Di bagian lain, Dinas Kesehatan Kota Bogor bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) menemukan kurang lebih 90 persen korban kebakaran Gudang alami gejala depresi atau stres.

Kepala Seksi P2PTM, Kesjiwa dan Kes Olahraga Dinkes Kota Bogor, Firy Triyanti mengatakan, dari mata dan ekspresi warga sudah sangat jelas menunjukkan bahwa mereka terbilang setres. “Tak semangat, hopeless,” ucapnya di lokasi pengungsian.

Dinkes yang dibantu oleh mahasiswa pascasarjana perawat kejiwaan menyebarkan kuesioner ke 58 orang. Hasilnya, sebanyak 52 orang mengalami gejala depresi, 6 lainnya terbilang normal.

“Itu sudah ada pakemnya, apa saja pertanyaannya. Dari 20 pertanyaan, mereka menjawab ’ya’ untuk 8 soal saja itu sudah termasuk stres. Ini tadi mereka menjawab ’ya’ bahkan lebih dari 10,” kata Firy.

Perwakilan FIK UI, Prof Budi Anna Keliat menambahkan, setelah mengisi kuesioner mereka dibentuk lima kelompok untuk sharing membicarakan hal-hal positif dari apa yang dimiliki sampai saat ini.

Seperti banyaknya bantuan, berupa makanan, baju,  dan keperluan lainnya. “Mereka juga masih memiliki anggota tubuh lengkap, tidak kurang, masih kumpul dengan keluarga,” tambahnya.

Sebelum itu, kata Budi, mereka pun diajak melakukan streching atau menggerakkan tubuh agar hal-hal negatif yang mengalir dari lemahnya tubuh hilang berganti jadi asupan positif, sehingga bisa kembali semangat.

“Terlihat, sebelum mereka mengikuti trauma healing, tampangnya hopeless, tidak ada semangat. Tapi setelah ini, mukanya kembali cerah, ada harapan, semangat lagi,” ucap Budi.

Ke depan, hal ini akan terus dipantau melalui puskesmas dibantu dengan mahasiswa keperawatan jiwa UI setiap harinya. Dengan menampung berbagai keluhan mereka yang akan dilaporkan ke Dinkes nantinya.

Selama dua minggu pemantauan, lanjut Budi, mereka mendapatkan tugas individu untuk memasak, menjaga kesehatan lokasi pengungsian. “Jadi kami ajak mereka gerak, ada yang di dapur, jaga kebersihan, agar mereka tidak diam dan meratapi kejadian,” tegasnya.

Budi membeberkan, tindakan trauma healing ini tentu dilakukan sebagai antisipasi agar mereka tidak mengalami depresi. Pasalnya, dua minggu setelah musibah, jika korban tidak dila­kukan tindakan seperti trauma healing, jangka waktu tersebut bisa menyebabkan korban mengalami depresi. “Makanya, ini hari keempat, kami mulai agar tidak dibiarkan berlarut-larut mereka meratapi nasib,” pungkasnya.(cr1/ran/d)

Baca Juga