Beranda Berita Utama

Makanan Hanya Dijatah Seminggu

BERBAGI
FOTO:nelvi/radar bogor
PASRAH: Para pengungsi anak-anak dan orang tua terpaksa harus tidur dalam satu ruangan di SDN Empang 2, kemarin. Hal ini membuat mereka rawan terserang berbagai penyakit.
BOGOR–Para korban kebakaran di RT 05/01 Kelurahan Gudang, Kecamatan Bogor Tengah, harus mulai mandiri. Sebab, Pemkot Bogor tak akan selamanya menanggung kebutuhan sehari-hari pengungsi yang kini berada di SDN Empang 2.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor, Ganjar Gunawan mengatakan, sesuai aturan kebencanaan, tanggap darurat berlaku selama tujuh hari.
Terhitung, kata dia, sejak kebakaran pada Minggu (25/12) hingga Minggu (31/12).
“Setelah tujuh hari, nanti akan diputuskan selesai atau kami perpanjang,” jelasnya kepada Radar Bogor, kemarin (26/12).
Hingga kini, bantuan logistik terus berdatangan. Bahkan, menurut Ganjar, bantuan pakaian layak pakai justru sudah mulai overload.
Untuk itu, ia mengimbau agar masyarakat yang berniat menyalurkan bantuan, memberikannya dalam bentuk lain. Ia menyarankan agar prioritasnya beralih pada bantuan pakaian dalam untuk balita serta alat-alat kebutuhan perempuan.
Selama tujuh hari itu, pihaknya berkewajiban memenuhi kebutuhan dasar korban, seperti tempat pengungsian, konsumsi, serta pelayanan kesehatan.
salah satu warga menangis saat melihat rumahnya sudah hangus, kemarin.
Selepas itu, rencananya setiap kepala keluarga (KK) diberikan biaya untuk menyewa tempat tinggal selama tiga bulan selanjutnya. “BPBD meng­upayakan dana pengontrakan hunian sementara bagi para kepala keluarga. Lokasinya kami serahkan pada masing-masing, pembiayaannya tanggung jawab kami,” terang Ganjar.
Selain kompensasi biaya untuk mengontrak, setelah tanggap darurat selesai, pihaknya bersama jajaran Pemkot Bogor kini tengah mengkaji terkait bantuan untuk rumah sebanyak 76 KK yang hangus terbakar. “Ada syarat-syarat tertentu, misalnya, terkait bukti kepemilikan lahan yang harus benar-benar diverifikasi,” ungkapnya.
Kebakaran hebat yang menghanguskan 50 rumah di RT 05/01 Kelurahan Gudang, Kecamatan Bogor Tengah, tak lain disebabkan oleh jarak rumah yang saling berdempetan.
Menurut Ganjar, di Kota Bogor ada sekitar 60 persen permu­kiman serupa yang padat penduduk dan rawan kebakaran.
Ia mencontohkan di Kecamatan Bogor Tengah ada Kelurahan Cibogor, Panaragan, serta Kelurahan Sempur di bagian Lebakkantin yang dikhawatirkan terjadi rentetan jika salah satu rumah kebakaran.  “Belum yang di kecamatan lain,” sebutnya.
Menanggapi soal pemberian bantuan rumah korban yang terbakar, Wali Kota Bogor Bima Arya ingin terlebih dahulu menelusuri status kepemilikan masing-masing warga.
Salah-salah, dana yang dikucurkan untuk bantuan tersebut bisa menjadi temuan. “Sementara saya juga meminta agar dinas terkait untuk mendata dulu semuanya. Kemudian meneliti status asetnya,” ujarnya saat meninjau lokasi bencana.
PEDULI: Masyarakat Kelurahan Ciwaringin membuka posko dan menyalurkan bantuan kepada para korban kebakaran
Jadi, menurut dia, jika status kepemilikannya sudah dipastikan legal, akan menjadi hambatan agar Pemkot Bogor turun tangan memberikan bantuan fisik. Meski begitu, ia sudah berkoordinasi dengan pihak sekolah, agar ketika pembelajaran sudah mulai dilakukan, aktivitas pengungsian masih tetap bisa berlanjut.
Terpenting, menurutnya, bantuan darurat kebencanaan seperti tempat penampungan sementara serta logistik sudah terpenuhi dengan baik. “Paling penting sekarang bantuan daruratnya adalah  penampungan sementara, kemudian kebutuhan mendesak seperti makanan, pakaian, dan obat-obatan,” kata Bima.
Sediakan Posko Dokumen Penting
Tak sedikit barang berharga milik korban kebakaran RT 05/01 Kelurahan Gudang yang ikut dilahap api. Termasuk, dokumen-dokumen penting. Namun jangan khawatir, Pemkot Bogor bersedia untuk memfasilitasi dokumen kependudukan yang ikut terbakar untuk dibuat kembali secara instan.
Kepala BPBD Kota Bogor Ganjar Gunawan mengatakan bahwa jajaran pemkot sudah merapatkan barisan menangani masalah ini.
Akhirnya, disepakati agar dokumen seperti KTP serta KK yang terbakar sudah dipastikan akan dibantu untuk menanggulanginya. “Prinsipnya, yang menjadi tanggung jawab pemkot, sudah sepakat kami bantu. Misalnya dokumen kependudukan yang hilang, KTP/KK terbakar. Itu pasti kami bantu,” jelasnya kepada Radar Bogor, kemarin.
Tak hanya itu, untuk ijazah khusus yang berkaitan dengan Kota Bogor juga tak luput dari bantuan Pemkot Bogor. Khusus ijazah, pihaknya menggandeng Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor untuk mengatasinya.
Namun, untuk mengurusi itu semua perlu ada landasannya, yakni surat keterangan yang dikeluarkan Polsek Bogor Tengah. “Pak Kapolseknya sudah siap kapan pun memberikan layanan itu. Harapan saya lebih baik secara massal. Jadi, kami sudah tekankan agar aparat kelurahan merekap dokumen penting yang hilang,” terang Ganjar.
Meski tanggap darurat hanya berlangsung selama tujuh hari sejak kejadian, Ganjar mengatakan bahwa untuk memproses dokumen-dokumen tersebut diberikan keleluasaan, sehingga tidak hanya dibatas selama satu pekan.
Di sisi lain, mengenai sertifikat tanah yang hangus terbakar, pemkot belum menemukan cara untuk mengulurkan bantuannya. Pasalnya, perlu koordinasi terlebih dahulu dengan Badan Pertanahan Negara (BPN) Kota Bogor. “Tapi terkait sertifikat perlu koordinasi dengan BPN,” tukasnya.
Sementara itu, bantuan dari berbagai lapisan masyarakat terus mengalir. Di antaranya,  dari warga Kelurahan Ciwaringin, Kecamatan Bogor Tengah memberikan dua karung dan empat dus baju, satu dus makanan bayi hingga popok bayi.(fik/c)

Komentar Anda

Baca Juga