Beranda Berita Utama

Aktivitas Korban Kebakaran di Pengungsian, Tak Punya Pakaian Ganti, Barang Berharga Hangus

Sofyansyah/Radar Bogor
PASRAH: Para pengungsi terpaksa tinggal di SDN Empang 2, tadi malam.

Seperti mimpi, Tak punya tempat tinggal dan harta benda, kini dirasakan 271 warga RT 05/01 Kelurahan Gudang. Mereka bahkan terpaksa hidup di pengungsian dengan fasilitas seadanya.

Laporan : Fikri Setiawan

Salah satu korban kebakaran, Yeti Aminah (41) masih bisa ber­santai di rumahnya, Senin (25/12) pagi. Namun, hal sebaliknya terjadi setelah api menghanguskan permukiman yang telah ditinggalinya selama bertahun-tahun. Mulai kemarin malam, ibu dua anak ini beserta ratusan tetangganya harus terbiasa tidur di pengungsian di SDN Empang 2 Kota Bogor.

Yeti bersama ratusan pengungsi lainnya bertambah pusing. Sebab, pengungsian hanya bersifat sementara dan sudah tidak ada persediaan uang untuk menyewa tempat tinggal.

Harapannya kini pada Pemkot Bogor. Bukan meminta tempat baru ataupun dana untuk membayar sewa kontrakan. Ia meminta perhatian untuk merapikan tempat tinggalnya yang kini sudah tak berbentuk. “Belum tahu, paling nunggu secepatnya bantuan perbaikan rumah. Soalnya kalau ngontrak, nyari ke mana, belum biayanya,” jelasnya ketika diwawancarai Radar Bogor di pengungsian.

Harta yang ia miliki pun sebagian besar sudah raib. Jelas saja, ia yang saat kejadian kebakaran bersama suami lebih milih untuk menyelamatkan diri.

Karena jika sibuk menyelamatkan barang-barang berharga, nyawa Yeti justru menjadi taruhannya. “Anak yang pertama sedang bekerja dan satunya lagi sedang main di luar rumah,” katanya.

Dengan berlinang air mata di wajahnya, Yeti nampak mondar-mandir. Bukan hanya tempat tinggal, rupanya, yang ia khawatirkan di kemudian hari. Pasalnya, pakaian yang ia kenakan itu menjadi satu-satunya pakaian yang ia selamatkan. Jadi, keesokan hari ia belum mengetahui akan menggunakan pakaian yang mana.

Sesaat sebelum kejadian, Yeti bersama suaminya baru pulang dari acara kerabatnya. Ketika itu, ia tiba di rumahnya pukul 12.00 kemudian menyempatkan untuk makan sebelum tidur siang.
Tapi, ketika pukul 13.00 Yeti terbangun. “Seperti ada yang bangunin. Kemudian saya berdiri depan rumah.

Tiba-tiba ada yang melihat asap dari rumah yang ujung,” ungkapnya sambil terisak. Rumahnya kemudian menjadi korban terbakar paling akhir ketika si jago merah kian membara lantaran diembus angin kencang siang itu.

“Begitu kejadian kebakaran, saya tarik suami yang ada di kamar. Angin kencang akhirnya ke atas, jadi yang di dekat rel atas kena juga,” kata Yeti. Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor, Fahruddin yang datang ke pengungsian mengatakan siap membantu para korban.

Meski tak lama lagi masa libur sekolah berakhir, kata dia, SDN Empang 2 Kota Bogor masih bisa digunakan sebagai pengungsian.

Sebab, ruangan yang kini digunakan masih baru dan belum diberdayakan untuk kepentingan belajar-mengajar. “Bisa diatur, sementara tiga ruangan itu bisa dipakai nonstop sampai kapan pun,” ujarnya.

Ia mengaku sudah berkoordinasi dengan kepala sekolah terkait penggunaan ruangan kelas untuk tempat pengungsian. Artinya, pengungsian tersebut akan berlangsung hingga masa pena­nganannya selesai.(fik/c)

Baca Juga