Beranda Nasional

Kemenkominfo Peringatkan Kecanduan Medsos saat Seminar Kesehatan UIKA

SEMINAR: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor menggelar seminar kesehatan, kemarin (23/12).

BOGOR-Kecanggihan teknologi di era digital, khususnya media sosial (medsos), bagai pisau bermata dua. Dampak yang ditimbulkan tak hanya positif, melainkan juga negatif.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemkominfo Ismail Cawidu mengatakan, dari sisi positif, medsos meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, meningkatkan kecerdasan, memudahkan pekerjaan dan pelayanan, mengurangi kerja birokrasi, meningkatkan pere­konomian, mendekatkan yang jauh dan mempertemukan sahabat atau keluaga yang jauh.

”Sementara dampak negatifnya, banyak konten yang menyediakan gambar porno, dimanfaatkan untuk menipu, menyebar keben­cian, menyebar berita provokasi, dan menyebar radikalisme,” ujar Ismail dalam Seminar Kesehatan Nasional bertajuk Optimalisasi Penggunaan Media Sosial dalam Komunikasi di Masyarakat yang diseleng­garakan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, kemarin (23/12).

Ismail juga mengimbau agar masyarakat meningkatkan literasi media, sehingga kemampuan mene­laah membaca setiap infor­masi yang didapatkan tidak langsung di-share.

Saat membuka handphone dan masuk ke media sosial, menurut Ismail, otak akan memproduksi dopamin yaitu sejenis cairan hormon yang membuat kita merasa senang terima pesan, kemudian kita akan membalas pesan serta cek berapa yang like dan semakin banyak semakin ketagihan.

”Bila tidak ada atau kurang yang like akan merasa ada yang salah dan menjadi sensitif. Se­makin lama semakin kecan­duan. Dalam melakukan berbagai ke­giatan perhatian kita akan tertuju pada media sosial. Itulah awal sebuah kerusakan,” bebernya.

Ismail mengatakan, masyarakat juga harus cerdas menghadapi berita hoax. Sebab, karakteristik hoax menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan dan provokasi.

Selain itu, sumber juga tidak jelas, tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab dan klarifikasi, mencatut nama tokoh berpengaruh atau pakai nama mirip media terkenal, dan lain-lain. ”Bahkan minta supaya di-share atau diviralkan supaya terlihat ilmiah dan terpercaya,” tambahnya.

Tujuannya, kata dia, untuk menipu atau mengakali pembaca, mengecoh perhatian atau mendoktrin para pembaca, menyebar kepanikan dan ketakutan massal, merusak citra pemerintah dan negara, merusak nama baik seseroang, memancing timbulnya kerusuhan dan keben­cian antar-suku, agama dan ras, juga mencari keuntungan dari iklan. Solusi yang dapat dilakukan, kata dia adalah mengurangi ketergantungan pada handphone atau medsos.

Sementara itu, penanggung jawab penyelenggara seminar Asri Masitha Arsyati mengatakan, Seminar Kesehatan Masyarakat ini merupakan salah satu aktivitas dan rangkaian mata kuliah yang diharuskan praktik menyelenggarakan seminar bertaraf nasional dengan mendatangkan narasumber berkompeten pada bidangnya masing-masing.

”Semua tema ini berkaitan dan memang sesuai kebutuhan dan membahas permasalahan atau fenomena yang sedang terjadi dan kita memberikan solusinya,” ujarnya.

Selain Ismail, juga hadir narasumber Wakil Sekertaris Jenderal II Pengurus Harian IAKMI Ridhwan Fauzi, Kaprodi FIKES UIKA Andreanda Nasution, alumni FIKES UIKA Anif Yufroni dan mahasiswa FIKES UIKA Gilang Zahir Nurhaqqi.(cr6/c)

Baca Juga