Beranda Berita Utama

Trump Ancam Indonesia

REUTERS/Jonathan Ernst
ULTIMATUM: Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan ancamannya kepada negara-negara yang membantu Palestina, di gedung putih, Washington, Amerika Serikat, kemarin (21/12).

JAKARTA–Gelombang kecaman negara-negara dunia atas pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel membuat Presiden Amerika Serikat Donald Trump belingsatan. Trump lalu mengancam pemutusan bantuan keuangan kepada negara-negara yang mendukung resolusi PBB untuk menentang Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Termasuk Indonesia.

“Mereka mengambil jutaan dolar dan bahkan miliaran dolar dan mereka memberi suara yang menentang kita,” katanya kepada para wartawan di Gedung Putih.

“Biarkan mereka bersuara menentang kita. Kita akan menghemat banyak. Kita tidak peduli,’’ kata Trump disampaikan menjelang pemungutan suara di Majelis Umum PBB, Kamis (21/12), untuk sebuah resolusi yang menentang pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Sebelumnya, Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, memperingatkan negara anggota PBB bahwa Presiden Trump memintanya untuk melaporkan ‘siapa yang menentang melawan kita’ pada pemungutan suara pada Kamis waktu New York. Untuk diketahui, status Yerusalam merupakan isu utama dalam konflik Israel-Palestina.

Israel menduduki kawasan timur kota itu -yang sebelumnya dikuasai Yordania- saat Perang Timur Tengah tahun 1967 dan menganggap seluruhnya sebagai ibu kota yang tidak bisa dipisah-pisahkan.

Sementara Palestina mengklaim Yerusalem Timur sebagai ibu kota dari negara masa depan dan berdasarkan Kesepakatan Oslo tahun 1993 maka status akhirnya akan ditetapkan dalam tahap berikut perundingan damai Israel-Palestina.

Sebanyak 193 anggota Majelis Umum PBB akan menggelar sidang khusus yang tidak biasa hari Kamis atas permintaan negara-negara Arab dan Islam yang mengecam keputusan Presiden Trump yang mengubah kebijakan AS selama beberapa dekade.

Palestina mendesak pertemuan khusus digelar setelah AS memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang menegaskan bahwa setiap keputusan mengenai status Yerusalem ‘tidak berlaku dan ditiadakan’ serta mendesak semua negara agar ‘menahan diri dari pembentukan misi diplomatik di kota suci’.Selain AS, 14 anggota Dewan Keamanan mendukung rancangan itu. Namun, Nikki Haley menyebutnya sebagai ‘penghinaan’.

Resolusi yang tidak mengikat itu diusulkan oleh Turki dan Yaman untuk dibawa ke pemungutan suara di Majelis Umum dengan mencerminkan rancangan DK PBB yang diveto AS.

Pengamat permanen Palestina di PBB, Riyad Mansour, mengungkapkan harapan akan mendapat ‘dukungan meluas’ atas resolusi itu.

Namun, Selasa (19/12), Haley memperingatkan dalam sebuah surat ke belasan anggota PBB agar mereka tahu bahwa ‘presiden dan Amerika Serikat melihat pemungutan suara sebagai hal pribadi’.

“Presiden akan mengamati pemungutan suara dengan hati-hati dan sudah meminta saya melaporkan tentang negara-negara yang menentang kami. Kami akan mencatat masing-masing semua suara dalam malasah ini,” tulisnya, seperti dilaporkan wartawan yang sudah melihat surat itu.

“Pengumuman presiden sama sekali tidak akan memengaruhi perundingan status akhir, termasuk perbatasan khusus atas kedaulatan Israel di Yerusalem,” tambahnya. “Presiden juga membuat jelas dukungan atas status quo (keadaan saat ini) dari lokasi-lokasi suci Yerusalem,” ucapnya lagi.

Haley menegaskan kembali peringatannya lewat pesan Twitter, “AS akan mencatat nama-nama.”

Menanggapi ini, Menteri Luar Negeri Palestina, Riyad al-Maliki, dan rekannya dari Turki, Mevlut Cavusoglu, menuduh AS melakukan intimidasi.

“Kita melihat bahwa Amerika Serikat, yang ditinggal sendirian, kini beralih ke ancaman. Tidak ada negara terhormat dan bermartabat yang akan tunduk pada tekanan ini,” tegas Cavusoglu dalam konferensi pers bersama al-Maliki di ibu kota Turki, Ankara, sebelum terbang ke New York untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB.

Sebelumnya, Majelis Umum PBB kemarin (20/12) menggelar sidang darurat terkait dengan status Kota Yerusalem. Amerika Serikat, satu-satunya negara yang tidak menghendaki Resolusi Yerusalem gol, menebar teror. Menjelang pemungutan suara di markas besar PBB, Duta Besar AS Nikki Haley mengintimidasi negara-negara lain.

Melalui akun Twitter resminya, diplomat keturunan India itu memperingatkan negara-negara anggota PBB tentang jasa AS. ”Selama ini, kami selalu diminta untuk berbuat dan memberikan lebih banyak (daripada yang lain, red).

Kini, saat kami menuruti keinginan rakyat Amerika tentang lokasi kedutaan besar kami, kami tidak mengharapkan reaksi negatif seperti ini,” cuitnya seperti dilansir Al Jazeera.

Haley juga menyatakan, selama voting berlangsung, Presiden AS Donald Trump akan memantau dari jauh. Setelah itu, Washington akan mencatat siapa saja yang tidak mendukung kebijakannya soal Yerusalem. ”AS akan menulis nama kalian,” tegas perempuan 45 tahun tersebut. Dia berharap tekanan itu membuat negara-negara anggota PBB yang punya hubungan baik dengan AS sungkan.

Sementara itu, Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis menyebut ancaman Trump sebagai langkah gegabah orang yang tersudut. ’’Saya pikir kita tidak perlu takut dengan ancaman itu,’’ ujarnya kepada pewarta.

Dalam membela kebenaran, kata Cholil, tentu saja akan ada beberapa gangguan. Hanya saja, dia berkeyakinan, yang dibela dan yang diyakini Indonesia adalah suatu kebenaran sehingga pada akhirnya akan mendapatkan kemenangan.

Oleh karena itu, sambung Cholil, MUI bersama seluruh rakyat Indonesia khususnya umat Islam akan terus mendukung kebijakan dan ketegasan Presiden Jokowi dalam membela Palestina. Apalagi, dalam mendukung kemerdekaan Palestina ini, ujar Cholil, merupakan amanah konstitusi.

’’Kami mendukung terhadap langkah pemerintah, untuk terus konsisten membela Palestina, kemerdekaan Palestina. Yerusalem timur adalah bagian dari Palestina dan Amerika adalah penjajahan era modern,’’ ujar Cholil.(hep/c11/any)

Baca Juga