Beranda Metropolis

Melihat Museum Tanah yang Kembali Dibuka untuk Umum

BERBAGI

KEMBALI DIBUKA: Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membuka dan meresmikan secara langsung Museum Tanah di Jalan Ir Djuanda, Bogor, kemarin (5/12). (Nelvi/Radar Bogor)

Sebagai tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, museum kerap kali mendapat stigma negatif. Misalnya, terasa kuno juga membosankan. Terlebih, anak zaman sekarang menganggap bahwa mengunjungi museum tidak terlalu penting. Hal inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi pengurus Museum Tanah Indonesia, hingga museum yang letaknya tak jauh dari Kebun Raya Bogor (KRB) ini diminati.

“Dengan kembali dibukanya Museum Tanah, kita dorong peneliti Indonesia untuk terus berinovasi. Seperti di Amerika sudah mengembangkan alat sensor untuk mengukur hara tanah,” ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di sela-sela pembukaan Museum Tanah Indonesia, kemarin (5/12).

Menurut Amran, alat sensor pendeteksi kandungan hara tanah tersebut dapat menghemat biaya untuk pemberian pupuk pada lahan pertanian. Sebab, selama ini alat pendeteksi masih manual, sehingga hanya menakar berapa kebutuhan natrium pada tanah atau bahan lainnya. “Saya beri waktu enam bulan, IPB maupun perguruan tinggi lainnya menciptakan alat sensor ini,” tantangnya.

Untuk diketahui, Museum Tanah Indonesia menyimpan sejumlah koleksi, di antaranya monolit tanah, peta sumber daya lahan, bantuan induk, peralatan survei lapangan, mesin cetak petak, biodiversitas organisme tanah, dan informasi perubahan iklim.

Museum ini terdiri atas empat gedung, yakni A, B, C dan D. Dua di antaranya (A dan C) merupa­kan bangunan cagar budaya yang berdiri sejak zaman kolonial Belanda. Arsitektur bangunan utamanya pun bergaya Eropa.

Menurut Kepala Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian, Prof Dedi Nursyamsi, cikal bakal berdirinya Museum Tanah Indonesia sudah dimulai sejak 1905 oleh peneliti Belanda.

“Awalnya dulu laboratorium geologi untuk mengetahui tentang tanah, dibuat untuk kegiatan penelitian tanah di Indonesia oleh peneliti Belanda,” katanya.

Di era kemerdekan tahun 1974, semua laboratorium terkait pertanian dan perkebu­nan termasuk lab geologi, diga­bung dalam satu wadah yakni Badan Penelitian dan Pengem­bangan Pertanian.

Selama di bawah Balitbangtan, Museum Tanah Indonesia sempat dipindahkan ke kom­pleks Cimanggu, selama kurang lebih dua tahun gedung Museum Tanah yang ada di Jalan Juanda ditinggal.

“Kini, bertepatan dengan Hari Tanah Se­dunia, Museum Tanah Indonesia dibuka kembali, untuk sarana pendidikan serta sosialisasi pemanfaatan tanah secara berkelanjutan,” pungkasnya.(ran/c)

Komentar Anda