Beranda Berita Utama

Harga Berlipat di Pengecer

BERBAGI

ANTRE: Warga Bogor mengantre gas melon pada operasi pasar di kawasan Paledang, Senin (4/12). (Nelvi/Radar Bogor)

BOGOR–Ibarat peribahasa, sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah sulit dicari, begitu ketemu, harga elpiji 3 kg berkali lipat. Hal itu diakui Kepala Dinas Per­in­dustrian dan Perdagangan (Dis­perindag) Kota Bogor, Achsin Prasetyo. Har­ga yang dipatok Rp16 ribu, bisa dijual pengecer hingga Rp26 ribu.

“Sebenarnya dari pangkalan itu harganya sekitar Rp16 ribu. Tapi saat sampai di pengecer, itu yang susah dikendalikan,’’ ujar Achsin kepada Radar Bogor kemarin (5/12).

Achsin mengaku langsung bergerak begitu mengetahui adanya kelangkaan gas melon. Disperindag segera berkoor­dinasi dengan Hiswana Migas dan Pertamina untuk menggelar operasi pasar.

”Memang sejak pekan kemarin sudah men­desak,’’ akunya.

Selain karena faktor cuaca, kata Achsin, tingkat konsumsi gas melon di penghujung tahun ini cukup tinggi. Penyebab lainnya, tabung kosong dari pengecer sangat lambat masuk ke pangkalan.

“Di Bogor ada 25 agen dan 430 pangkalan, baru ke pengecer. Jadi, pangkalan agen baru ke SPBE, baru diputar lagi. Kami berupaya memantau terus,’’ kata dia. Ketika ditanya kemungkinan adanya aksi penimbunan, Achsin mengaku belum mendapat laporan.

Selama dua hari berturut-turut di awal pekan ini, Disperindag terus menggelar operasi pasar di 15 titik di Kota Hujan. Setiap titik diberi jatah 560 tabung gas melon.
“Kami coba dua hari dulu, kalau sudah stabil kami stop. Kalau masih (langka, red), kami coba operasi pasar lagi,” tuturnya.

Soal ini, Wali Kota Bima Arya meminta anak buahnya cepat tanggap. Namun, Bima mengakui, kelangkaan gas melon karena banyak faktor, termasuk konsumsi meningkat pada momen-momen agenda masyarakat. ”Ada hajatan dan sebagainya. Belum lagi dengan konsumsi di luar. Kita lihat kebutuhannya, beberapa hari ke depan mudah-mudahan kembali normal, karena cuaca baik,” sebutnya.

Di sisi lain, masih banyak in­dustri dan restoran yang menggunakan gas melon. Seperti diungkapkan Ketua Hiswana Migas Bogor, Bahriun Sinaga. Dia menjelaskan, hingga kini penggunaan elpiji melon oleh pedagang masih cukup tinggi. Dari hasil investigasinya di lapangan, tabung gas melon tampak digunakan dalam berba­gai acara. Termasuk di sentra-sentra kuliner di Kota Bogor.

“Dampaknya, penjualan meningkat dan penggunaan elpiji juga bertambah. Pecel lele saja lima tabung sehari, tukang bakso 15 tabung per hari,” ungkapnya.(wil/c)

Komentar Anda