Beranda Metropolis

PDAM Tambah Kapasitas Produksi

BERBAGI
DIBERSIHKAN: Petugas PDAM sedang membersihkan tempat pengolahan air.

BOGOR –Pasokan air bersih di Kota Bogor kini sangat pas-pasan. Tak jarang, ketika terkendala cuaca buruk, pelayanan PDAM Kota Bogor dikeluhkan lantaran debit air yang masuk ke pela­nggan sangat kecil. Kini, permasalahan tersebut tengah diatasi seiring dibangunnya Water Treatment Plant (WTP) di Katulampa, Bogor.

“Mudah-mudahan bisa mening­katkan kapasitas. Supply dan demand kita sangat seimbang. Jadi, sangat sensitif jika adanya sampah yang menumpuk di intake (pengo­lahan air). Itu yang kadang membuat pendistribusian kita terganggu,” ujar Dirut PDAM Tirta Pakuan, Deni Surya Senjaya.

Rencananya, dari WTP Katulampa yang diprediksi rampung pada pertengahan 2018 itu, PDAM Tirta Pakuan akan mendapat pasokan air tambahan sebanyak 300 liter air per detik. “Kami dapat bantuan pemerintah pusat dan Pemkot Bogor. Mudah-mudahan pertengahan 2018 bisa beroperasi, sehingga supply dan demand bisa teratasi,” terangnya.

Kemudian, jika sudah rampung dibangun, akan ada WTP serupa di tempat yang tak jauh dari WTP Katulampa dan sama-sama mengambil air baku dari Sungai Ciliwung. “Nanti dibantu lagi satu lagi bangunan WTP, usulannya sudah masuk. Kalau yang ini dari 2014 sudah diusulkan, harusnya 2016 dibangunnya,” kata Deni.

Namun begitu, tak lantas pekerjaan rumah PDAM Tirta Pakuan selesai. Pasalnya, PDAM pertama kali mengambil air baku dari Sungai Ciliwung. Deni memprediksi, kualitas air baku dari Ciliwung tidak lebih baik dari Sungai Cisadane yang selama ini memasok air ke WTP Dekeng.

“Tingkat gangguan kuali­tas­nya lebih tinggi di Ciliwung, karena sudah banyak perumahan di hulunya,” papar dia.
Ketika debit air Cisadane meluap, air yang masuk ke sodetan atau titik pengambilan air PDAM bercampur dengan sampah dan lumpur. “Sodetan itu berada di Desa Ciherang­pondok, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor,” kata Direktur Teknik PDAM Tirta Pakuan, Ade Syaban Maulana.

Menurut Syaban, dalam kondisi normal, rata-rata air bersih yang dihasilkan sebesar 1.500 liter per detik, dengan kadar kekeruhan antara 50-70 Nephelometric Turbidity Unit (NTU). “Tapi kalau sedang meluap, kekeruhannya bisa meningkat puluhan kali lipat,” jelasnya kepada Radar Bogor.

Dia menjelaskan, ketika debit Cisadane sedang tinggi, kadar kekeruhan bisa mencapai 2.000 NTU, bahkan 5.000 NTU. Kondisi itu membuat proses penjernihan oleh tim PDAM kian berat. Nah, ketika kadar kekeruhan Cisadane mencapai 1.000 NTU, maka debit air bersih yang dihasilkan akan menurun. Yakni, 1.200 liter per detik.
“Karena PDAM wajib menjer­nihkan air sungai menjadi 1 NTU. Air minum yang aman untuk dikonsumsi tingkat kekeruhannya minimal 5 NTU. Ambang batas yang ditetapkan Departemen Kesehatan (Depkes) segitu. Kalau di atas itu, tidak layak minum,” paparnya.

Selain kadar kekeruhan, ada juga kadar keasaman yang perlu diperhatikan. Air bersih yang layak diminum memiliki kadar keasaman di atas 6,5 pH. Jika di bawah itu, tidak layak minum. Syaban menyebutkan, rata-rata kadar keasaman air yang disalurkan PDAM berkisar 7–8 pH.

“Kami juga sedang kejar target, 2019 nanti bisa melayani 100 persen masyarakat Kota Bogor, atau 180.000 rumah. Hingga kini PDAM baru bisa menjangkau 85 persen dari total keseluruhan, yakni sekitar 148.000 rumah. Jadi, masih butuh mengalirkan sekitar 32.000 rumah,” bebernya.

Untuk bisa mencapai target itu, PDAM masih kurang pasokan air sekitar 500 liter per detik. Karenanya, PDAM akan menambah pasokan air dari Sungai Ciliwung. Lokasi pengambilannya berada di Desa Pasirangin, Kecamatan Mega­mendung, Kabupaten Bogor. Sodetan yang bakal mengalirkan air bersih sekitar 300 liter per detik itu akan bisa dimanfaatkan tahun depan.

“Tahun ini pembangunannya. Andai saja alirannya mencapai 600 liter per detik, kebutuhan air bersih untuk seluruh warga Kota Bogor akan terpenuhi,” tukasnya.

Untuk mengatasi ini, Syaban meminta seluruh lapisan masya­rakat turut menjaga sumber air dan lingkungan di sekitarnya. Salah satunya menjaga kawasan hulu Sungai Cisadane dan Ciliwung, agar tak terkontaminasi sampah.(fik/c)

Komentar Anda