Beranda Berita Utama

Semburan Abu Mencapai 3.380 Meter

BERBAGI
MELETUS: Semburan abu panas dari kawah Gunung Agung, Karangasem, Bali, mencapai ketinggian 3.380 meter.

KARANGASEM-Sejak kali pertama Gunung Agung erupsi Selasa (21/11), letusan susulan terus terjadi. Minggu (26/11), dalam tempo dua jam tidak kurang tiga letusan terdeteksi. Semburan abu vulkanik pun teramati semakin tinggi.

Berdasar pengamatan Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) ketinggian kolom abu vulkanik mencapai 3.380 meter di atas kawah puncak. Secara otomatis kondisi itu berpengaruh terhadap level Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA).

Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG I Gede Suantika menjelaskan, tiga letusan kemarin terjadi pukul 05.05 WITA, pukul 05.45 WITA, dan pukul 06.20 WITA. ”Secara visual, abu vulkanik semakin tinggi dan tebal. Tekanannya juga semakin kuat,” ungkap dia ketika diwawancarai di Pos Pengamatan Gunung Api Agung kemarin. Menurut dia, itu terjadi lantaran intrusi atau dorong magma kian tinggi. ”Debit per satuan waktunya semakin besar,” imbuhnya.

Mengacu pada peristiwa meletusnya Gunung Agung 54 tahun lalu, kata Suantika, besar kemungkinan letusan serupa yang terdeteksi beberapa hari belakangan terus terjadi sampai satu bulan ke depan. ”Kalau mengacu pada 1963, itu butuh sebulan untuk sampai ke letusan paling besar,” terang dia.

Letusan melalui semburan abu valkanik yang saat ini terjadi tidak ubahnya tanda yang diberikan oleh gunung tertinggi di Bali itu. Nantinya, bukan tidak mungkin letusan disertai keluarnya lava.

Harapan PVMBG lava keluar secara perlahan. ”Meleler ke bawah,” ujar Suantika. Sebab, ancaman semakin tinggi bila lava keluar disertai ledakan. Menurut dia, itu bisa saja terjadi jika pertambahan lava tidak sebanding dengan besar lubang di kawah Gunung Agung. ”Itu yang kami takutkan,” ujarnya.

Untuk itu, sambung dia, instansinya terus mengevaluasi kondisi Gunung Agung. Termasuk di antaranya kemungkinan untuk kembali meningkatkan status dari siaga menjadi awas.

Sampai kemarin sore, rekomendasi PVMBG masih belum berubah. Yakni, masyarakat diminta tidak beraktivitas pada zona berbahaya dalam radius 6 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung. Selain itu, perluasan sektoral ke arah utara–timur laut serta tenggara–selatan–barat daya sejauh 7,5 kilometer juga harus kosong.

 

Namun, dengan kondisi saat ini bisa jadi rekomendasi berubah. ”Radius masih mungkin ditambah,” ucap Suantika. Berkaitan dengan perubahan level VONA, Kasubbid Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG Devy Kamil Syahbana menjelaskan bahwa perubahan level VONA dari oranye ke merah terjadi apabila kolom abu vulkanik sudah mencapai ketinggian 6.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

”Bukan di atas kawah puncak,” ujarnya. Bila ketinggian Gunung Agung 3.142 mdpl dikalkukasi dengan ketinggian kolom abu vulkanik kemarin, angkanya mencapai 6.522 mdpl. Tidak heran level Vona ditingkatkan.

Seiring meningkatnya level Vona, pengaruhnya terhadap operasional bandara maupun jadwal penerbangan mulai tampak. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub mengeluarkan NOTAM B8868/17 untuk seluruh maskapai di Indonesia terkait penutupan Bandara Internasional Lombok. Notam tersebut berlaku kemarin pukul 17.55 WITA sampai dengan hari ini (27/11) pukul 06.00 WITA.

Penutupan Bandara Internasional Lombok dilakukan setelah dilaksanakannya rapat kordinasi dengan Otoritas Bandara Wilayah IV, Airlines, Ground Handling, Airnav Indonesia serta BMKG kemarin pukul 17.00 WITA. Selain itu adanya pengamatan dilapangan dalam bentuk Paper Test untuk mengetahui kondisi Volcanic Ash (VA) di area bandara.

”Pilot juga melaporkan adanya VA,” tutur Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso. Menurut Agus, pihaknya akan mengevaluasi penutupan bandara hingga hari ini. (lyn/syn/and)

BANDARA TUTUP: Kondisi Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, setelah Gunung Agung kembali menyemburkan awan panas kemarin, Minggu (26/11). Pemerintah Indonesia langsung mengeluarkan peringatan penerbangan. REUTERS/NYIMAS LAULA

Baca Juga