Beranda Female

Tantangan Guru Menghadapi Siswa di Era Digital

BERBAGI

 

HARUS KREATIF: Para guru BP/BK dari beberapa sekolah yang ada di Kota dan Kabupaten Bogor foto bersama narasumber

Tantangan pendidik menghadapi anak-anak zaman now tidaklah mudah, apalagi banyak godaan dari luar salah satunya kecanggihan teknologi. Bukan untuk dijauhi, tapi bagaimana pendidik bisa mengikuti kepintaran anak didiknya dalam memanfaatkan era digital ini.

Semua tantangan dan problema di era digital tersebut, terungkap dalam Cafe Female Radar Bogor dalam menyambut Hari Guru yang jatuh 25 November, hari ini.

Sebagai narasumber, Ninna Marlina menuturkan bahwa anak adalah tamu istimewa yang hadir dalam kehidupan kita atas kehendak dan persetujuan Tuhan. Setiap manusia lahir dengan fitrah yaitu suci dan berpotensi baik. Fitrah dibagi menjadi empat yaitu fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah perkembangan dan fitrah keimanan. “Anak harus diberikan stimulasi atau kegiatan untuk merangsang kemampuan dasar anak agar dapat tumbuh dan berkembang optimal,” tuturnya, yang mengembangkan ilmu hipnoterapi ini. di Graha Pena, Kamis (23/11).

Sebagian besar masalah perilaku anak justru bersumber dari orang tua, lanjutnya, cara berkomunikasi orang tua sangat berpengaruh pada anak. Jika berbicara dengan anak atau murid biasakan untuk tidak berteriak, sebagai orang tua ataupun guru ada baiknya selalu memberikan kesempatan anak berpendapat.
“Karena jika di rumah anak tidak dihargai dan di sekolah anak pun diperlakukan tidak adil seperti diberikan hukuman di depan teman-temannya, terkadang untuk beberapa anak akan melampiaskan dengan melakukan hal-hal yang negatif,” tuturnya.

Sebagai orang tua atau guru jangan membiasakan menyalahkan pihak lain, dan jika berusaha memberikan pengaruh tapi tidak berhasil maka ada yang salah di dalam upaya atau metode tersebut. “Apakah metode yang diberikan tidak sesuai, sehingga anak susah untuk diatur, kita harus introspeksi diri dan menyesuaikan dengan karakteristik anak,” jelasnya.

BELAJAR BERSAMA: Peserta Cafe Female saat mengikuti games yang dipandu narasumber, Nina Marlina di Graha Pena lantai lima,
Kamis (23/11).

Nina menuturkan, ilmuan terkenal Thomas Lickona menjelaskan sepuluh tanda kehancuran sebuah bangsa yaitu meningkatnya perilaku kekerasan dan merusak di kalangan remaja dan pelajar, penggunaan kata atau bahasa yang cenderung memburuk seperti ejekan, makian, celaan, bahasa slank dan lain-lain. Pengaruh teman jauh lebih kuat daripada orang tua dan guru.

Meningkatnya perilaku penyalahgunaan seks, merokok, obat-obatan terlarang di kalangan pelajar dan remaja, merosotnya perilaku moral dan meningkatnya egoisme pribadi atau mementingkan diri sendiri, menurunnya rasa bangga, cinta bangsa dan tanah air (patriotisme), rendahnya rasa hormat pada orang lain, orang tua dan guru, meningkatnya perilaku merusak kepentingan publik, ketidakjujuran terjadi di mana-mana dan berkembangnya rasa saling curiga, membenci, dan memusuhi di antara warga negara (kekerasan SARA). “Nah, sebagian besar tanda-tanda itu sudah terjadi di zaman now,” ujarnya.

Nina menuturkan masalah yang sering terjadi saat remaja adalah memaki, merokok, kejujuran, miras, pornografi dan bolos sekolah. “Tidak ada satupun anak yang dilahirkan memiliki niat merusak pikiran dan perilakunya sendiri. Melalui harmonisasi hubungan keluarga dan sekolah-sekolah yang berorientasi membangun moral bukan hanya angka-angka,” tuturnya. Menurutnya, ada beberapa sekolah yang memiliki sistem tidak menghargai anak-anak didiknya. Sehingga, anak-anak didiknya pun bersikap acuh dan berperilaku negatif.

Kata Nina, mengenali bahasa kasih anak, pertama waktu yang berkualitas, jika menghabiskan waktu dengan anak berikan sugesti hal-hal positif karena akan sangat bisa diterima anak di waktu berkualitas. Kedua kata-kata pujian atau pendukung, anak akan senang jika orang tua atau guru memberikan pujian. Ketiga pelayanan, keempat sentuhan fisik, kelima pemberian hadiah.

“Tidak perlu memberikan hadiah mahal, orang tua bisa memberikan kasih sayang agar dijadikan sebagai idola, dan berikan kontak mata agar anak merasa dihargai. Jika sedang berbicara dengan anak, usahakan jangan sambil melakukan aktivitas lain,” tegasnya. (cr6/c)

Komentar Anda

Baca Juga