Beranda Metropolis

Kiat Guru Hadapi Kids Zaman Now

BERBAGI
BELAJAR DENGAN FUN: Para siswa SDN Sukadamai 3 berebut menjawab game ‘‘cepat pulang’’ yang diadakan guru SDN Sukadamai 3, Ridlo Ubaidillah, kemarin (24/11).

Menjadi guru di zaman now itu gampang-gampang susah. Gampang, karena segala informasi tersedia melalui internet. Susah, gara-gara internet siswa tidak betah belajar di kelas karena sibuk kepoin medsos. Nah, berbagai cara pun dilakukan agar siswa milenial tetap betah belajar di kelas. Mulai dari membuat game jadi media belajar hingga membuat grup diskusi di internet.

Guru SDN Sukadamai 3 Ridlo Ubaidillah mempunyai segudang cara agar para siswanya betah di kelas. Seperti yang dilakukannya kemarin (24/11). Dia membuat sejumlah game sambil belajar. “Mereka belajar dari pukul 07.00-16.00, tentu ada kejenuhan. Maka, solusinya adalah dengan me-refresh siswa dengan game,” ujarnya kepada Radar Bogor.

Game yang diberikan juga tidak yang berat-berat. Salah satunya game ”cepat pulang’’. Permainan ini menantang para siswa yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar, bisa pulang lebih cepat. Meski sederhana, permainan ini terbukti ampuh mengajak siswa tertawa sambil belajar. “Pertanyaan yang diberikan juga informasi umum, seperti nama presiden dan lain-lain,” ungkapnya.

Menurut dia, mengajar di tingkat sekolah dasar, metode yang digunakan sangat berbeda dibanding SMP dan SMA. Di sekolah dasar, metode yang digunakannnya lebih kepada pendekatan. ”Tak hanya game. Kami juga putarkan film, musik, agar anak itu refresh dengan hal-hal yang baik,” jelasnya.

Semisalnya, sambung Ridlo, saat belajar matematika yang dirasa membosankan. Jika ada anak yang kurang bisa menerima pelajaran, maka dibuatlah game dengan soal-soal matematika. Lalu saling melempar soal ke kelompok lain.

Dia juga memanfaatkan cara belajar jarak jauh melalui media internet. Jadi, dia sudah membuat milis (grup diskusi di Internet/e-mail) yang di dalamnya sudah terdata email masing-masing siswa. “Saya kebetulan sering tugas keluar kota. Jadi sering meninggalkan siswa, tapi mereka tetap dikasih penugasan dengan cara milis. Jawabannya pun melalui milis. Jadi anak-anak tetap bisa berkomunikasi meskipun jaraknya jauh,” bebernya.

Seusai menunaikan kewajiban­nya sebagai guru, Ridlo tak lupa menghabiskan waktu dengan keluarga. Sederhananya, berceng­kerama dengan kedua anaknya. “Kalau weekend ada rutinitas, antar-jemput sekolah sekalian hangout sama anak-anak, biasanya ke toko buku” ungkapnya.

Ridlo juga menyebut jika di kesehariannya, ia selalu menyalurkan hobinya membaca buku dan olahraga . “Targetnya tahun depan mudah-mudahan, insya Allah mau lanjut S3 kalau beasiswanya diterima,” pungkasnya.(wil/c)

Baca Juga