Beranda Ekonomi

Regulasi Kendaraan Rendah Emisi Terbit Tahun Ini

BERBAGI
CANGGIH: Salah satu mobil listrik yang dipamerkan beberapa waktu lalu.

TANGERANG – Pelaku industri otomotif telah menegaskan kesiapannya untuk mendukung penerapan kendaraan ramah lingkungan di Indonesia. Pabrikan tinggal menunggu pemerintah mengetok palu tentang regulasi low carbon emission vehicle (LCEV) supaya mimpi itu terealisasi. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan bahwa regulasi yang juga memayungi pengembangan mobil listrik tersebut selesai tahun ini.

Vice President Director of Marketing and Sales PT Nissan Motor Indonesia Davy J. Tuilan mengungkapkan, tantangan membawa masuk kendaraan listrik ke Indonesia adalah infrastruktur dan perpajakan. ’’Pertama jelas tentang charging station. Quick charging station di Jepang itu kira-kira 30 menit. Ini kita belum ada,’’ ujar Davy di sela pengenalan Nissan Note e-Power di ICE BSD.

Selain itu, pemerintah Indonesia belum merumuskan PPnBM (pajak penjualan atas barang mewah), bea impor, dan registration fee. ’’Berkaca di Jepang, registration fee EV (mobil listrik) itu nol. Ini apresiasi kepada pabrikan yang membantu pemerintah mengurangi efek rumah kaca,’’ kata Davy.

Secara jangka pendek, Davy menuturkan bahwa kendaraan listrik, khususnya yang berbasis full EV, masih butuh waktu untuk menemukan pasarnya. ’’Karena itu, kami ingin edukasi masyarakat Indonesia tentang nikmatnya mengendarai mobil listrik,’’ tutur Davy. Kemarin Nissan memamerkan produk kendaraan listrik, yakni Nissan Note e-Power. Pabrikan asal Jepang tersebut mengklaim pihaknya siap menerjunkan produk LCEV-nya di Indonesia.

Presiden Direktur PT Nissan Motor Indonesia Eiichi Koito menjelaskan, teknologi e-Power masuk ke pasar mobil listrik sejak 2010 di Nissan Leaf. ’’Sejauh ini produk tersebut merupakan produk mobil listrik best selling kami di Jepang,’’ ungkapnya. Konsep e-Power diharapkan Eiichi dapat menjadi jembatan transisi dari mesin konvensional menuju listrik. Mesin e-Power yang diusung Nissan menggabungkan efisiensi tenaga listrik yang dikonversikan dari mesin BBM. Efisiensi yang dihasilkan diklaim mencapai 30–35 kilometer per 1 liter BBM.

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto kemarin turut mencoba Nissan Note e-Power. Airlangga merespons positif teknologi canggih yang dipamerkan Nissan tersebut.(agf/c14/sof)

Baca Juga