RADAR BOGOR | Berita Seputar Bogor

Sholis Ditutup Lima hari

DITUTUP: Lajur di depan SPBU KH Sholeh Iskandar akan ditutup sebagian dan diterapkan sistem lawan arah selama lima hari mulai Rabu (15/11) besok. (Meldrik/Radar Bogor)

Lagi-lagi, warga Bogor diminta bersabar. Demi mempercepat pengerjaan Tol Bogor Outer Ring Road (BORR), pelaksana proyek, PT Wijaya Karya (Wika), terpaksa menutup satu lajur Jalan KH Sholeh Iskandar, arah Kedunghalang. Mulai Rabu (15/11) besok, petugas menerapkan contra flow pada jalur superpadat lalu lintas ini.

”Nanti malam (tadi malam, red) dan besok (hari ini, red) kita uji coba contra flow,’’ ujar Project Manager PT Wika, Ali Afandi kepada Radar Bogor kemarin.

Ali menjelaskan, titik penutupan lajur dan penerapan contra flow tepat di depan SPBU Sholis hingga belokan menuju At-Taufik. Di titik itu, arus kendaraan dari arah Parung menuju Kedunghalang akan dibelokkan dan melawan arus di ruas jalan sebaliknya. Penutupan itu terpaksa dilakukan untuk pemasangan erection box yang tak lagi menggunakan alat launcher gantry (LG) seperti sebelumnya.

”Kita menggunakan cara shoring, yaitu dengan ditopang beberapa rangka baja. Kalau zona 1 sama zona 2 pakai LG. Zona yang sekarang dikerjakan ini merupakan irisan dari zona 1 dan 2 yang posisinya berada di tengah-tengah,’’ jelasnya.

Penggunaan metode shoring merupakan pilihan terakhir. Pasalnya, jika tetap memaksakan menggunakan LG, harus menunggu masa pemasangannya selama satu bulan. Sedangkan, pembangunan Tol BORR Seksi IIB ditarget rampung 100 hari lebih cepat, yakni pada Maret 2018 mendatang.

”Shoring itu rangka baja yang dari bawah, terus diangkat pake crane. Kalau pakai itu waktunya tidak akan cukup. Kalaupun dipaksain baru bisa berjalan di akhir Desember,’’ kata Ali.

Walhasil, metode tersebut akan mengubah alur lalu lintas Sholis. Itu lantaran rangka baja yang digunakan untuk menopang beton-beton bakal memakan sebagian badan jalan.

Sebelum contra flow diberlakukan esok (15/11), Wika bersama Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor dan Satlantas Polresta Bogor Kota akan melakukan uji coba hari ini. Sistem contra flow akan berlaku selama 24 jam setiap hari selama lima hari ke depan. ”Ada kemungkinan tidak 24 jam, tapi untuk sementara kita kondisikan untuk 24 jam,’’ kata Ali.

Dia berharap, pemberlakuan contra flow tidak berlangsung lama. Para pengguna jalan bilangan Sholis diminta mengatur waktu tempuh saat penerapan alur contra flow. Pihaknya juga bakal melengkapi titik ini dengan rambu dan markah jalan.

”Paling hanya lima hari. Tidak akan lama. Ruas jalan yang belum dipasangi erection box kurang lebih panjangnya sekitar 150 meter. Kami sudah koordinasi dengan Dishub dan Satlantas,’’ tukasnya.

Soal rekayasa lalu lintas ini, Kepala Satlantas Polresta Bogor Kota, Kompol Bramastyo Priaji enggan berkomentar banyak. Pasalnya, Satlantas baru akan merapatkan contra flow di jalur Sholis, hari ini (14/11). ”Belum, jadi besok pagi (hari ini) baru mau dirapatin. Jadi belum bisa dijawab,’’ kata dia.

Senada, Sekretaris Dishub Kota Bogor, Agus Suprapto mengaku belum mengetahui rencana contra flow di bilangan Sholis. Menurutnya, hingga kemarin siang belum ada laporan masuk ke dirinya terkait hal itu. ”Saya belum mendapat laporan soal itu,’’ singkatnya saat dikonfirmasi.

Sementara itu, ada beberapa ruas alternatif yang bisa dilalui pengendara untuk menghindari Sholis jika mulai terjadi kemacetan panjang. Antara lain, dari arah Cilebut melewati Kayumanis kemudian tembus di ujung jalur Sholis, dekat Taman Sari Persada. Kemudian, dari arah Yasmin bisa melewati jalur Johar untuk menghindari Sholis.

Selama pembangunan tol BORR seksi IIB ini pun banyak keluhan dari sejumah pengendara. Terutama orang tua yang anaknya memang bersekolah di sekitar kawasan megaproyek itu. Salah seorang di antaranya, Kiki Saputra, warga Kelurahan Curugmekar RT 03/03, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Ia terpaksa mengantar anaknya yang bersekolah di SDN Sukadamai 3, berangkat lebih pagi. ”Biasanya saya antar anak pukul 06.15. Tapi sekarang harus lebih cepat 15 menit,” ujarnya.

Menurut Kiki, memajukan waktu 15 menit pun tidak bisa menghindari kemacetan. Sebaliknya, kemacetan semakin parah. Untuk mencapai SDN Sukadami 3, perjalanan memakan waktu lebih dari setengah jam.

Padahal, normalnya dari Kelurahan Curugmekar hingga Sukadami hanya membutuhkan kurang lebih 10 hingga 15 menit (menggunakan sepeda motor dengan mengambil jalur alternatif Johar-Cimanggu-At Taufik).

Ada beberapa titik kemacetan yang harus dihadapi wali murid seperti Sari. Yakni, simpang Yasmin, Bukit Cimanggu City, pertigaan ke sekolah Islam Bosowa Bina Insani, dan pertigaan UIKA (depan Plaza Bogor).

Di titik inilah banyak terdapat keluar masuk kendaraan, dan sekolah. Kiki juga mengeluhkan penutupan sejumlah U-turn di lokasi pembangunan. Memang, sekarang hanya ada dua U-turn yang dibuka, yakni di dekat Bukit Cimanggu City dan depan Plaza Bogor. Padahal, sebelumnya ada empat U-turn.

”Kalau sebelumnya dari Johar, dan keluar dari At Taufik bisa langsung belok. Sekarang harus memutar ke U-turn dekat Bukit Cimanggu City,’’ keluhnya.

Menurutnya, memang ada beberapa jalur alternatif dari Yasmin menuju SDN Sukadamai 3. Pertama, melalui jalan Johar ke At Taufik atau Johar-perumahan Cimanggu dan keluar di samping Plaza Bogor.

Atau bisa juga dari Yasmin-Bukit Cimanggu City-Kelurahan Sukadamai (keluar dari perumahan Sukadamai). “Tapi sama juga, pasti ketemu macet, karena harus memutar,” ketusnya.

Jalur alternatif lainnya pun bisa diambil dari Jalan Raya Cilebut (dari arah Kedunghalang), masuk ke jembatan Satu yang tembus ke SMAN 2 Bogor.

Pantauan Radar Bogor, sejak pembangunan ini berjalan, sejumlah jalur alternatif kerap dipadati kendaraan. Seperti Jalan Raya Cimanggu yang memang menghubungkan dengan Jalan Raya Kebon Pedes. Kepadatan terjadi di waktu pagi dan sore (jam pulang kantor).(rp1/dkw/d)

Komentar Anda

Konten ini Hanya Bisa diakses Pelanggan

Login Untuk Membuka Konten