RADAR BOGOR | Berita Seputar Bogor

Ikonik Sholis Berguguran

ADA yang berbeda di tepian Jalan KH Sholeh Iskandar (Sholis), tepatnya di kawasan Plaza Indah Bogor, Kecamatan Tanahsareal. Restoran cepat saji McDonald’s yang selalu ramai dikunjungi kaum muda, kini sepi tanpa pengunjung. Tiang penanda berbentuk ‘M’ tak lagi nampak di depan plaza yang lebih dikenal dengan sebutan ”Yogya’’.

Selembar kertas putih bertuliskan ‘closed’ menempel di pintu masuk gerai yang terbuat dari kaca. Dari luar, kini sudah tidak bisa menerawang ke dalam, karena semua dinding kaca tertutup tempelan kertas. Petugas keamanan Yogya, Galih Subhana (37), mengatakan bahwa sudah sebulan lebih gerai McDonald’s tutup. Tapi ketika ada pengunjung bertanya, ia selalu mengarahkan untuk beralih ke McDonald’s di simpang Yasmin–Semplak, Kecamatan Bogor Barat.

“Sudah sebulan lebih yang di sini tutup. Pindah ke sana, ke Yasmin, ada McDonald’s juga di sana,” ucapnya sembari menunjuk ke arah Jalan Sholis menuju Yasmin.
Tak jelas musabab tutupnya gerai McDonald’s Yogya. Tak ada satu pun pihak di kawasan Plaza Indah Bogor yang sudi berko­mentar. Sementara, Asisten Manajer McDonald’s simpang Yasmin, Pujianto, mengatakan bahwa manajemen McDonald’s Plaza Indah Bogor dan simpang Yasmin berbeda.

”Kami beda manajemen. Tidak tahu saya juga tutupnya kenapa. Kita memang sama-sama berpusat di Jakarta, tapi kalau itu tidak tahu, masing-masing,’’ akunya.

Radar Bogor mencoba mengonfirmasi soal ini ke kantor pusat McDonald’s, melalui e-mail dan surat resmi. Namun hingga kemarin, permohonan konfirmasi yang dilayangkan Radar Bogor ke alamat Graha Rekso–Sentra Bisnis Artha Gading, Kav. A1 lantai 5, Jalan Boulevard Arthe Gading, Jakarta Utara 14240, belum berbalas.

Lantaran minimnya informasi, muncul spekulasi yang menyebut gerai itu tersandung masalah perizinan. Namun, Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bogor membantahnya. Kepala Bidang Perizinan Pemanfaatan Ruang pada DPMPTSP Kota Bogor, Rudy Mashudi, bahkan mengaku heran mengapa McDonald’s Sholis tutup. Pasalnya, gerai itu tidak tersangkut dengan masalah perizinan.

Izin mendirikan bangunan (IMB) lokasi tersebut pun hingga kini masih berlaku.“IMB berlaku selama tidak berubah fungsi dan bangunan. Kalau IMB-nya punya pengelola gedung. Yogya saja sewa,” jelasnya.

Yang pasti, menurut Rudy, pihak McDonald’s Sholis sudah memiliki tanda daftar usaha pariwisata (TDUP) dan surat izin penyelenggaraan reklame. Namun, belum diketahui pasti pengurusannya sejak kapan, karena hanya pengurusan di atas 2016 yang bisa diakses secara online. ”Belum elektronik waktu itu. Bisa diakses 2016 ke atas,’’ tukasnya.

Spekulasi lainnya adalah musabab proyek pembangunan jalan layang Tol Bogor Outer Ring Road (BORR). Penelusuran Radar Bogor, sejumlah tempat usaha di bilangan Sholis tampak tutup selama proyek pembangunan Tol BORR. Tak sedikit di antaranya yang mulai memampang spanduk ”dijual’’.

Ritel buah segar yang cukup terkenal di kawasan ini adalah Total Buah. Bangunan toko modern dengan kawasan parkir yang luas itu kini dibanderol Rp35 miliar. Sepekan terakhir, sudah tidak ada aktivitas di lokasi ini. Akses masuk menuju bangunan Total Buah ditutup sementara untuk pembangunan akses jalan turun flyover. “Luas lahan sekitar 2 ribu meter. (Dijual) karena ada perlu,’’ ucap pengurus Total Buah, Haryanto.

Tepat di samping bangunan Total Buah terdapat Rumah Makan Ampera. Restoran ini juga terkena pelebaran jalan Tol BORR Seksi IIB. ”Bangunan bagian depannya saja yang kena. Parkiraan mundur ke belakang, sekitar 29 meter yang kena. Dibayar lima kali NJOP atau sekitar Rp1,1 miliar,” ujar Manajer Rumah Makan Ampera Ahmad Ramto kepada Radar Bogor.

Pengamat ekonomi, Syaifuddin Zuhdi memprediksi kawasan bisnis akan mati ketika dilalui oleh flyover. Pasalnya, masyarakat lebih banyak memilih lewat flyover ketimbang jalur bawah untuk menghindari kepadatan lalu lintas.

”Saya amati di beberapa tempat. Apabila daerah bisnis dilewati oleh jalan layang. Itu akan mati. Karena menurunkan penjualannya,’’ ujarnya.

Artinya, kondisi tersebut juga akan berangsur pasca ram­pungnya jalan layang yang membentang di sepanjang Jalan Sholis. Memang faktor sepinya masyarakat yang mampir ke pertokoan di tepian Jalan Sholis akan menurunkan pendapatan para pemilik toko. “Penjualan juga jadinya akan menurun otomatis. Setelah jalan layang itu jadi, akan turun. Kecen­derungan di tempat-tempat lain juga begitu,” terang Zuhdi.

Ritel Harus Upgrade Teknologi

Di bagian lain, Zuhdi menilai pola hidup masyarakat modern ingin segala sesuatunya serba instan. Terlebih, dengan perkem­bangan teknologi membuat barang-barang konsumsi bisa mudah didapat hanya dengan ”memainkan jempol’’. ”Karena sekarang ini yang manual di dalam pemasaran sudah ketinggalan, lama-kelamaan akan habis,’’ ucapnya.

Apalagi, bukan hanya pemesanan yang bisa dilakukan secara online. Saat ini, berbagai transaksi juga bisa dilakukan di dunia maya. Kondisi itu, menurutnya, harus terus dipelajari oleh para marketing ritel agar produk mereka tetap diburu pelanggan.

”Dari sisi sistem pembayaran sudah mulai berkurang. Seperti marketing digital, jadi, masyarakat sudah memanfaatkan seperti delivery order,’’ terangnya.
Zuhdi memprediksi metode penjualan konvensional akan terus tergerus, seperti halnya sejumlah ritel yang belakangan tutup, tergulung tsunami toko online.
”Sekarang Matahari, Ramayana juga sudah banyak yang tutup. Karena sekarang orang berbelanja online lebih praktis,” kata Zuhdi.

Dia mengingatkan, tutupnya sejumlah ritel tidak terkait dengan daya beli masyarakat. Karena dalam pengamatannya, hingga kini daya beli masyarakat masih stabil. Tapi, lain halnya jika memasuki tahun politik 2018 mendatang.

”Perekonomian kita sampai akhir tahun ini masih stabil. Kecuali nanti di musim politik. Akan ada gejolak di 2018 dan 2019,’’ imbuhnya.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira menuturkan, para toko ritel itu perlu menyesuaikan kemajuan teknologi. Sebab, perubahan pola bisnis akan terus terjadi seiring kemajuan zaman. “Mereka harus adaptasi, haruas inovasi ke online ya,” ujarnya kepada JawaPos.com belum lama ini

Meski demikian, Bhima justru merasa tutupnya toko ritel konvensional lebih disebabkan oleh kondisi perpolitikan dalam negeri, serta daya beli yang me­mang tidak begitu bergairah.

Bukan tanpa sebab pria asal Pamekasan, Madura, itu mengatakan hal demikian. Pasalnya, toko-toko ritel di Inggris justru mampu bertahan lebih lama. Padahal, sebagian dari mereka juga telah membuat ritel online.

“Poin yang lainnya saya kira negara seperti di Inggris yang shifting online terjadi sudah cukup lama. Dia di Inggris itu juga masih ada ritel yang konvensional dan dia bisa bertahan sampai sekarang,” tuturnya.

“Jangan-jangan ritel yang berguguran sekarang momentumya salah. Karena memang daya beli masyarakat lagi ada penurunan, dan jelang tahun politik semua nahan konsumsi,” sambungnya.

Kendati demikian, Bhima menyebut kondisi itu tak akan berlangsung lama. Menurutnya, pada 2019 mendatang daya beli masyarakat akan kembali meningkat tajam. Hal itu tentu akan mendorong per­tum­buhan perbaikan ekonomi bagi toko ritel.

“Setelah 2019 ada 260 juta penduduk dan 4 juta kelahiran bayi setiap tahunnya, itu tidak butuh popok, tidak butuh baju? Dan porsi ritel online baru 1 persen ke bawah. Artinya, kalau tahun 2019 Matahari, Lotus itu ekspansi lagi, saya kira walaupun yang offline itu bakal naik lagi, ini hanya temporer,” pungkasnya.(rp1/d)

Komentar Anda

Konten ini Hanya Bisa diakses Pelanggan

Login Untuk Membuka Konten