RADAR BOGOR | Berita Seputar Bogor

Disemprot Obat Nyamuk dan Dibekap Plastik Balita Tewas Di Tangan Ibu Kandung

JAKARTA-Tragis benar nasib bocah lima tahun, Greinal Wijaya alias GW. Hanya gara-gara kerap mengompol, GW disiksa ibundanya bernama Novi Wanti (30) hingga tewas. Daripemeriksaanpolisi terungkap, penyiksaan yang dilakukan sang ibu sungguh biadab.

Pembunuhan itu terjadipada Sabtu (11/11) petang, sekitar pukul 18.00 WIB, di kamar kos pelaku di Jalan Asem Raya No 1 RT 06/08,Kelurahan DuriKepa, Kecamatan Kebon Jeruk,Jakarta Barat. Meski sempat dilarikan ke rumah sakit oleh pelaku, nyawa bocah malangitu tidaktertolong lantaran luka-lukanya yang teramat parah.

KapolresJakarta Barat, Kombes Pol Roycke Langie, menerangkan bagaimana NW melakukan aksi kejinya. NW menyemprotkan racun serangga itu ke muka anaknya yang masih balita agar tak terus menangis. Agar tak berontak, tangan dan kaki GW lebih dulu diikat sang ibu. “Menurut pemeriksaan sementara, pelakumenggunakan ini (racun serangga) untuk mendiamkan. Disemprot supaya dia diam.Padahal kita tahu sama-sama ini racun,” jelas Roycke saat menggelar rilis di Mapolres Jakarta Barat, Minggu (12/11).

Yang lebih mengerikan lagi, NW disebut menutup kepala anaknya dengan kantong plastik merah. Jelas sang bocah hanya bisa menghirup racun yang baru saja disemprotkan ke mukanya. “Semua barang bukti ditemukan di TKP dan sinkron dengan keterangan pelaku,” sebutnya.

Meski begitu,polisi belum bisa memastikanapakah GW meninggal karena racun dari obat nyamuk atau karena kepala yang ditutup kantongplastik. Penyebabkematian masih didalamitimforensik dan Biddokkes. Kepada penyidik, Novi mengaku kesal kepada anaknya sendiri lantaran kerap mengompol dan menangis.

”Dari keterangan tersangka, korban sering ngompol atau aktif, sehingga pelaku kesal, lalu melakukan tindakan atau hukuman di luar batas yang berakibat fatal. Karena pada tubuh korban kami temukan tanda-tanda hukuman yang di luar batas. Lalu pelaku menggunakan ini (obat nyamuk semprot) untuk mendiamkan korban.

Korban disemprot (obat nyamuk) supaya diam. Padahal ini racun. Apakah ini penyebab kematiannya? ataukah plastik yang di ikatkan pada kepala korban yang mengakibatkan kematian korban. Ini masih yang akan kami kaji lagi,” terang Roycke di Mapolres Jakarta Barat, Minggu (12/11).

Bukan hanya itu, dari hasil penyidikan terungkap kalau pelaku kerap mengikat anaknya dengan tali plastik rafia warna merah, serta menutup kepala korban dengan kantong plastik kresek warna hitam. Hal tersebut sinkron dengan keterangan Novi dan sesuai dengan kondisi di lokasi kejadian.

”Tali rafia (untuk) ikat tangan dankaki. Kami menemukan (tali rafia) di TKP (tempat kejadian perkara),jadi semuanya sinkron dengan keterangan pelaku. Jadi, korban ini diikat pada kaki dan tangannya,laludisemprotdengan obat nyamuk, kemudian (kepalanya) ditutup oleh plastik kresek,” tutur dia.

Ia melanjutkan, dari keterangan saksi mata saat kejadian, ketika tahu anaknya sudah lemas tak berdaya, pelaku lantas keluar dari dalam kamar kos-nya yang berada di lantai dua lalu turun. Sebelumnya, pelaku memesan ojek online menggunakan ponselnya.

Selanjutnya, pelaku dan korban menumpang ojek online yang dikemudikan Waryono, 40, menuju RS GrahaKedoya. Namun setiba di rumah sakit tersebut, dokter rumah sakit yang memeriksa kondisi korban memastikan kalau korban sudah dalam keadaanmeninggal dunia.

”Dari keterangan dokter,sesampai di rumah sakit korban sudah meninggal,” imbuh Roycke. Roycke menambahkan, penangkapan terhadap Novidilakukan setelah pihaknya mendapat informasi dari pengojek online yang bernama Waryono, yang memberitahukan adanya anak yang meninggal akibat penyiksaan yang diduga dilakukan ibu kandungnya sendiri.

Begitu menerima informasi, polisi langsung mengecek kondisi jenazah di rumah sakit tersebut, selanjutnya meluncur ke kamar kos pelaku untuk menangkap pelaku, yakni ibu kandung korban sendiri. Halsenada disampaikanKasat Reskrim Polres Jakarta Barat AKBP Edi Suranta Sitepu. Ia mengatakan, penangkapan dilakukan hanya sekitar dua jam setelah korban bersama ibunya tiba di RS Graha Kedoya.

Menurut dia, dari hasil visum terlihat luka lebam pada sekujur tubuh korban hingga ke kuping, serta bekas ikatan tali plastik pada kedua pergelangan tangan dan pergelangan kaki. ”Saat ini pelaku masih menjalani pemeriksaan intensif tim penyidik,” kata dia.

Kepada penyidik, Novi mengatakan kalaudirinya kerap memukulianaknya menggunakan tangan kosong dan sapu lidi. ”Beberapa saksi mata termasuk pengojek onlinejugasudah kami periksa,” lontar Edi. Kepada polisi, Waryono mengatakan kalau ada seorang wanita yang merupakan ibu korban yang memintanya segera diantar ke RS Graha Kedoya. Saat itu korban yang terlihat babak belur digendong ibunya.

”Nah, saat dibawa ke rumah sakit, balita laki-laki itu terluka di sekujur tubuhnya, ada luka memar di kaki, tangan kiri dan kanan, serta ada bekas ikatan tali di tangan dan kaki. Kuat dugaan korban tewas karena penyiksaan yang dilakukan ibunya. Karena, balita ini pun tewas saat diperiksa oleh dokter di rumah sakit,” papar Edi.

Salah seorang tetanggakorban yangbernama Adam mengatakan, Novi dikenal tertutup. ”Novi ini tinggal di kamarkos203,orangnya radatertutup. Dia enggan berkomunikasi dengan penghuni kos lain. Noviitu kerjaanhanya nganter anaknya ke sekolah setiap pagi. Itu yang saya tahu,” terang dia. Sedangkan seorang penjaga rumah kosan itu, Rahman, 36, mengaku bersama penghuni lain dan pemilik kontrakan sempat mengusir Novi lantaran kerap memergoki pelaku menyiksa anaknya.

”Kami sering dengar teriakan anaknya dari dalamkamar kosan, ’ampunmama…ampun mama… sakit mama’. Makanya kita usir, tapi Novi-nya belum pindah juga. Dia juga tinggal di sini hanya berdua dengan anaknya, gak kerja juga dia itu. Gak tahu suaminya di mana. Setahu saya yang ngasih uang setiap bulan dapat kirimanuangdari ibunya,” pungkas Rahman.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) ikut miris dengan fakta masih ada ibu kandungyangtega membunuh buah hatinya sendiri. KetuaKPAI Susanto akan bekerja sama dengan kepolisian berkoordinasi untuk mendalami kasus-kasus kekerasan terhadap anak seperti yang dialami balita GW. “Seyogianya RT dan RW bisa menjadi sentra dan ujungtombakperlindungan anak.PeranRT dan RWtidakhanya memberikan pelayanan administratif,tetapi juga menjadi pelopor pencegahan kekerasan terhadap anak,” kata dia.

KPAI sebelumnya mengungkapkan penyebab mengapa orang tua tega melakukan kekerasan terhadap anak-anak. Tak hanya menyiksa, para orangtua itu tak segan-segan membunuh bahkan memerkosa anak kandungnya sendiri.

Kekerasan terhadap anak ini disebabkan adanya konsep berpikir yang salah dari orang tua. Orang tua kerap menganggap anak sebagai benda di mana anak tidak punya hak karena semua kendali ada di orang tua. Konsep yang salah ini yang membuat mereka salah dalam mendidik dan berelasi dengan anak.

Kekerasan terhadap anak bukan lagidisebabkanmasalah ekonomi. Faktor lain yang cukup dominan, misalnya, adanya kesalahan pemahaman sehingga mengaki-batkan polaasuhyang salah dan gaya hidup dari orang tua itu sendiri. Semisal, lifestyle dari orang tua yang di bawah pengaruh narkoba dan minuman keras.

Untuk itu, KPAI menilai bahwa pemerintahharus punyainstrumen bagaimanacara meng awasiorang tuamengasuh anak. Tujuannya, agar kejahatan seksual dan pembunuhan kepadaanaktidak terjadi.(ind/jpg/ric/net)

Komentar Anda

Konten ini Hanya Bisa diakses Pelanggan

Login Untuk Membuka Konten