Beranda Berita Utama

Presiden Jokowi Ingatkan Implementasi Bogor Goals

BERBAGI

FOTO BERSAMA: Presiden RI Joko Widodo bersama para pemimpin dunia foto bersama pada KTT APEC di Da Nang, Vietnam, kemarin (11/11). (Reuters)

DA NANG–Dua puluh tiga tahun la­lu, tepatnya 1994, 18 negara anggota APEC menyepakati sebuah deklarasi pen­ting di Bogor. Deklarasi yang dinamakan Bogor Goals itu memacu peningkatan hubungan antara negara-negara anggota APEC hingga saat ini.

Kemarin (11/11), Presiden Joko Wi­do­do kembali mengingatkan bahwa masih ada agenda Bogor Goals yang be­lum tuntas. Hal itu disampaikan pre­siden saat sesi Working Lunch APEC di Da Nang, Vietnam. Jokowi me­nyebut Bogor Goals sebagai unfi­nished business (pekerjaan yang belum tuntas). Mengingat, selama 23 tahun terakhir Bogor Goals telah mampu menjadi kekuatan pendorong kerja sama negara-negara anggota APEC.

’’Bogor Goals mencerminkan penting­nya perdagangan dan investasi bebas serta terbuka, dan juga perwujudan pertum­buhan ekonomi serta kemak­muran rakyat,’’ tutur presiden. Karena itu, dia mendorong negara-negara anggota APEC bisa mengimplementasikan Bogor Goals dalam menjalin hubungan antara sesama anggota APEC.

Mengutip situs resmi APEC, Bogor Goals merupakan kesepakatan 18 anggota APEC (saat ini 22) kala itu yang intinya adalah upaya mewujudkan perdagangan bebas dan terbuka di kawasan Asia Pasifik. Untuk mewujudkannya, perlu ada upaya untuk mengurangi hambatan perdagangan dan investasi, serta hambatan dalam mempromosikan barang, layanan, dan modal dari sisi ekonomi.

Inisiatif yang termasuk dalam Bogor Goals adalah perbaikan kebijakan dalam hal waktu dan biaya. Terutama bagi arus barang, orang, investasi, hingga layanan yang sifatnya lintas perbatasan. Contoh teknisnya adalah merampingkan prosedur kepabeanan dan mengurangi tarif. Juga, meningkatkan iklim bisnis di masing-masing negara anggota.

Meski terkesan liberal, namun menurut Jokowi ada cara untuk membuatnya lebih bermanfaat bagi perekonomian rakyat. ’’Keseimbangan pilar liberalisasi dan fasilitasi perdagangan dan investasi serta kerja sama ekonomi dan teknik semakin menjadi kunci keberhasilan,’’ tuturnya.

Jokowi menuturkan, sejumlah hal harus menjadi agenda wajib masing-masing anggota APEC bila ingin mereduksi ketimpa­ngan pembangunan. Di anta­ranya, Mendorong integrasi eko­nomi regional, melanjutkan reformasi struktural, menye­lesaikan hambatan regulasi, dan menerapkan strategi per­tumbuhan yang produktif. ’’Selain itu, perlu juga mewu­judkan pembangunan yang berkelanjutan dan merata, serta mengurangi kesenjangan ekonomi,’’ lanjut Jokowi.

Mengenai potensi ekonomi, saat sesi leaders meeting, man­tan gubernur DKI Jakarta itu menyampaikan bahwa peluang besar ada pada ekonomi digital. Indonesia sendiri berpotensi menjadi kekuatan terbesar di Asia Tenggara dalam hal eko­nomi Digital pada 2020. Saat ini pengguna internet aktif di Indonesia mencapai 132,7 juta, di mana 92 juta di antaranya meru­pakan pengguna gadget.

Ekonomi digital, tutur Jokowi, dapat mendatangkan kesem­patan baru bagi masyarakat yang tidak terjangkau oleh pola bisnis sebelumnya, juga kesem­patan bagi usaha kecil menengah (UKM). Meskipun demikian, di sisi lain ekonomi digital juga berpotensi membawa dampak disruptif (gangguan) terhadap kondisi mapan yang sudah ada.

Pemerintah harus mengambil posisi yang tepat dalam memfa­silitasi transformasi yang tidak selalu mulus. ’’Tentunya dengan tetap memprioritaskan pemba­ngunan inklusif, berkelanjutan, dan penciptaan kesempatan kerja yang produktif,’’ tambahnya.

PM Selandia Baru Jacinda Ardern mengemukakan panda­ngan yang hampir sama. Hanya, dia lebih fokus pada ekonomi yang inklusif. ’’Pertumbuhan ekonomi harus bisa mendata­ngkan keuntungan bagi rakyat,’’ ujarnya. Karena itu, inklusi eko­no­mi dan sosial menjadi hal yang tdiak bisa ditinggalkan.

Sementara, PM Kanada Justin Trudeau cenderung fokus pada kepentingan perempuan dan anak. ’’Yang juga perlu mendapat tempat adalah perhatian terhadap perempuan dan anak,’’ tuturnya. mengingat, perempuan dan anak akan menerima dampak langsung bila pereko­nomian goyah.

Di sisi lain, pada forum APEC tersebut, Presiden Jokowi dan ibu Negara Iriana Jokowi sempat bertemu dengan Presiden AS Donald Trump. Mereka juga duduk bersebelahan saat sesi makan malam. Iriana berada di tengah-tengah antara Presi­den Jokowi dan Trump. Foto-foto momen antara ketiganya pun menyebar di dunia maya.

Sebenarnya, makan malam merupakan momen biasa dalam forum semacam APEC. Yang tidak biasa adalah tatapan dan raut muka Jokowi ketika Trump berbincang dengan Iriana. Momen yang terekam dalam foto itu memunculkan kesan Jokowi tidak nyaman saat Suami Melania itu mengobrol dengan istrinya.

Foto yang diounggah di twitter Kementerian Sekretariat negara itu pun ramai dibicarakan. Salah seorang netizen berkomentar bahwa Jokowi cemburu melihat keakraban Trump dan Iriana. Meme terkait foto-foto itu juga mulai bermunculan.(byu)

Komentar Anda

Baca Juga