Beranda Ekonomi

Ritel Konvensional Berguguran, Lotus dan Debenhams Mulai Tutup Gerai

BERBAGI

JAKARTA–Gerai ritel yang ber­guguran pada akhir bulan ini mungkin terhitung jari. Namun, akumulasi dampak berlapis penghentian kegiatan operasional terhadap ekonomi nasional bisa jadi sulit terhitung secara kasatmata. Penutupan puluhan gerai 7-eleven menjadi pembuka sekaligus pengejut industri ritel fisik nasional. Disusul kemudian delapan gerai Ramayana, dan dua gerai Matahari Department Store.

Hingga akhirnya satu gerai De­benhams, dan akan menjelang tiga gerai Lotus milik PT Mitra Adi Perkasa Tbk. Belum lagi, beberapa gerai ritel lain yang tak terdeteksi karena skala usaha yang relatif minim. “Para toko ritel itu tak kuasa menahan beban operasional yang besar dan tak sebanding dengan pendapatannya.

Di sisi lain, gulung tikarnya toko ritel disebut karena adanya perubahan pola konsumsi ke toko online. Kondisi itu tentu bukan sesuatu yang menguntungkan bagi toko ritel konvensional,” ujar Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira.

Dia menuturkan, para toko ritel itu perlu menyesuaikan kemajuan teknologi. Sebab, perubahan pola bisnis akan terus terjadi seiring kemajuan zaman. ”Mereka harus adaptasi, harus inovasi ke online ya,” ujarnya.

Meski demikian, Bhima justru merasa tutupnya toko ritel konvensional lebih disebabkan oleh kondisi perpolitikan dalam negeri, serta daya beli yang memang tidak begitu bergairah. Bukan tanpa sebab pria asal Pamekasan, Madura itu mengatakan hal demikian. Pasalnya, toko-toko ritel di Inggris justru mampu bertahan lebih lama. Padahal, sebagian dari mereka juga telah membuat ritel online.

”Poin yang lainnya saya kira negara seperti di Inggris yang shifting online terjadi sudah cukup lama. Dia di Inggris itu juga masih ada ritel yang konvensional dan dia bisa bertahan sampai sekarang,” tuturnya. ”Jangan-jangan ritel yang berguguran sekarang momentumya salah. Karena memang daya beli masyarakat lagi ada penurunan, dan jelang tahun politik semua nahan konsumsi,” sambungnya.

Kendati demikian, Bhima menyebut kondisi itu tak akan berlangsung lama. Menurutnya, pada 2019 mendatang daya beli masyarakat akan kembali meningkat tajam. Hal itu tentu akan mendorong pertumbuhan perbaikan ekonomi bagi toko ritel. ”Setelah 2019 ada 260 juta penduduk dan 4 juta kelahiran bayi setiap tahunnya, itu tidak butuh popok? tidak butuh baju? dan porsi ritel online baru 1 persen ke bawah. Artinya kalau tahun 2019 Matahari, Lotus itu ekspansi lagi, saya kira walaupun yang offline itu bakal naik lagi, ini hanya temporer,” pungkasnya.

Sementara, Menteri Keuangan Sri Mulyani memastikan pemerintah tidak akan tinggal diam melihat gerai-gerai ritel berjatuhan. Sri Mulyani berjanji akan mencari tahu penyebab di balik tutupnya gerai Lotus Thamrin. “Alasan ritel modern menutup gerainya bisa saja disebabkan oleh rencana transformasi ke online. Hal itu menyusul perkembangan ekonomi digital,” ucapnya.(mer/*)

Komentar Anda