Beranda Berita Utama

Perayaan Hari Sumpah Pemuda di Istana Bogor, Jokowi Kepincut Jaket Rp550 Ribu

BERBAGI
KREATIF: Presiden Joko Widodo mencoba salah satu karya generasi muda pada peringatan Hari Sumpah Pemuda di Istana Kepresidenan Bogor, kemarin (28/10).

Sumpah Pemuda diperingati dengan cara yang tak biasa di Istana Kepresidenan Bogor, kemarin (28/10). Ratusan pemuda dari berbagai latar belakang tumpah ruah di belakang halaman istana yang juga menjadi tempat tinggal Presiden Joko Widodo itu. Mereka tidak mengadakan upacara bendera, tapi membuat semacam festival kebun berisi pameran aneka karya generasi muda.

Peringatan yang santai tersebut tetap tidak menghilangkan kesakralan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 itu. Tetap ada tafsir baru Sumpah Pemuda bagi generasi ’’zaman now’’.

Michael Jakarimilena yang membacakan rumusan final komitmen pemuda. Yakni, menjaga keragaman dan kekayaan tanah air, menjaga persatuan, menjunjung tinggi budaya dan bahasa Indonesia, serta bekerja sekuat tenaga. ’’Di atas segala perbedaan, kami bersyukur dan bersatu untuk menjaga keragaman dan kekayaan tanah air Indonesia,’’ ujar Michael di atas panggung di samping Presiden Jokowi. Musisi itu menuturkan, rumusan tersebut dibuat bersama belasan pemuda dari berbagai latar belakang dan asal-usul.

’’Ini komitmen bersama untuk gugah generasi milenial agar tidak baperan (terbawa perasaan, red) dan mudah terbawa arus,’’ tambah pria 34 tahun kelahiran Jayapura itu. Pada sesi diskusi antara Presiden Jokowi dan para pemuda, komitmen itu juga terlihat.

Co-founder Ruangguru, Adam Belva Syah Devara menyam­paikan keresahannya soal akses dunia pendidikan yang belum merata. Alumnus Harvard University itu menuturkan, salah seorang profesor yang mengajarnya memberi tahu bahwa Indonesia membutuhkan waktu 128 tahun untuk bisa mengejar negara-negara maju. ”Kami di Ruangguru percaya teknologi adalah jawabannya,’’ kata Belva.

Lain lagi halnya dengan Siti Soraya Cassandra, pemilik kebun belajar yang mengelola pendidikan pertanian untuk anak-anak di Tangerang Selatan. Dia menyatakan, hampir tidak ada anak yang belajar di tempatnya yang bercita-cita menjadi petani atau nelayan. ’’Jadi, ketertarikan mereka nihil banget dengan pertanian. Mereka tidak kenal tanah, tidak kenal asal-usul makanan mereka. Itu kan mengkha­watirkan,’’ ujar Sandra.

Jokowi pun merasakan keresahan serupa. Dia menuturkan, memang sudah terlalu lama pendidikan monoton. Kendalanya adalah luasnya daerah Indonesia dengan lebih dari 17 ribu pulau. Dia sepakat bahwa aplikasi sistem yang bagus bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan itu.

’’Tidak ubah secara total mungkin bener yang tadi dihitung Belva, 128 tahun, (mengejar ketertinggalan, red) itu pun di Jakarta,’’ ungkap mantan gubernur DKI Jakarta itu. Dia berjanji mengundang Belva ke Istana Negara untuk bertemu dengan menteri pendidikan dan kebudayaan.

’’Saya kira perubahan akan tampak kalau kita berani meng­guna­kan aplikasi sistem yang memang memudahkan anak-anak untuk belajar. Saya paling seneng kalau anak-anak kita ini tidak belajar di ruangan saja,’’ kata Jokowi. Dalam belajar, dia lebih senang 60 persen di ruangan dan 40 persen di luar ruangan.

Tentang pertanian, Jokowi melihat keresahan serupa. Sejauh ini, dia belum melihat kiprah petani muda yang tampil dengan inovasi teknologi. Padahal, sektor pertanian itu membutuhkan sentuhan cara-cara manajemen modern. ’’Saya kira pemikiran-pemikiran anak muda yang seperti ini yang kita tunggu. Dengan pertanian cara-cara modern kita bisa kuasai pangan. Karena anak-anak muda tertarik untuk masuk jadi petani modern,’’ ungkap Jokowi.

Sebelum dialog yang cukup serius itu, Jokowi berkeliling ke hampir sudut area festival anak-anak muda tersebut dari berbagai latar belakang. Mulai atlet, pebisnis, musisi, hingga seniman. Dia terlihat tertarik dengan jaket merek Rawtype Riot seharga Rp550 ribu buatan pebisnis muda Jakarta.(jun/c19/oki)

Komentar Anda