Beranda Berita Utama

Memaknai 89 Tahun Sumpah pemuda zaman now : Hujani Anak Dengan Pendidikan

BERBAGI
Aksi komunitas terminal hujan bersama anak-anak putus sekolah.

Komunitas yang satu ini adalah contoh generasi pemuda yang peduli terhadap pendidikan. Namanya Terminal Hujan. Berawal dari kekhawatiran atas nasib anak-anak putus sekolah di bantaran sungai, sekitar terminal bus Baranangsiang. Anggun Pesona Intan Puspita, mendirikan Terminal Hujan pada 2011 silam.

“Masih banyak anak-anak di sekitar kampung yang sulit membaca, berhitung, kebiasaan malas belajar, dan tempat tinggal mereka kan tepat di sekitar terminal Baranangsiang,” kata Anggun kepada Radar Bogor.

Menurut Anggun, kemampuan membaca, menulis, dan menghitung anak-anak menjadi hal yang harus segera diajarkan kepada mereka. Dia lalu menjalin kerja sama dengan dua sahabatnya, Sela dan Mario.

Awalnya Anggun juga bertemu dengan drg Wan Aisyah. Wanita yang disapa Ibu Umi itu merupakan mantan ketua Dinkes Kota Bogor. “Kami lalu menyusun kurikulum bagi mereka,” terang wanita yang kini berprofesi sebagai dosen di Universitas Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (PPM) itu.

Anggun mengungkapkan bahwa seiring berjalannya waktu, antusiasme anak-anak di sekitar Terminal Baranangsiang, khusus­nya Kampung Kebon Jukut, semakin meningkat hingga sekitar 100 anak didik saat ini, mulai dari tingkat TK hingga SMP.

“Sehingga kami merekrut relawan lagi. Awalnya sebatas sahabat-sahabat saya, Sela dan Mario, tapi sekarang sudah semakin banyak, bahkan ada yang dari Jakarta Timur sampai Cikarang,” kata Anggun.

Banyak kegiatan yang dilakukan relawan pendidik serta anak-anak selain hanya belajar atau pendampingan sekolah. “Kami buat agar menyenangkan bagi anak-anak, maka kami adakan kegiatan berkarya dan crafting dari barang bekas, outing dengan permainan edukatif yang mampu melatih soft skill dan pengalaman, serta memberikan beasiswa bagi mereka untuk memotivasi mereka tetap bersekolah,” jelasnya.

Anggun mengatakan, Yayasan Terminal Hujan saat ini tidak hanya fokus pada pendidikan anak-anak saja, tetapi merambah ke pember­dayaan ekonomi ibu-ibu Kampung Kebon Jukut dengan membuat pelatihan telur asin dan mem­budayakan menabung di setiap minggunya. Alhasil, setiap minggu ibu-ibu Kampung Kebon Jukut memproduksi 300–400 butir telur asin yang mereka jual sendiri.

Wanita yang pernah mem­peroleh penghargaan “Inspiring Youth” dari Radar Bogor ini menambahkan, Yayasan Terminal Hujan sempat beberapa kali mendapatkan kunjungan. “Penghujung tahun 2016 kami kedatangan staf khusus Barack Obama, Immatul Maesaroh dan Shandra Woworuntu, mereka memberikan penyuluhan tentang perdagangan orang kepada anak-anak,” kata Anggun.

Dia menyebutkan berbagai prestasi dan penghargaan telah diraih oleh yayasan ini, salah satunya adalah belasan murid Yayasan Terminal Hijau lolos ke semifinal Olimpiade Sains Kuark 2014. “Itu salah satu kebanggaan kami, tapi kami tidak ingin cepat berpuas diri, kami terus meningkatkan kualitas kami dan akan terus memberikan yang terbaik bagi anak-anak,” tandasnya. (cr1/c)

Komentar Anda