Beranda Metropolis

Ajak Mahasiwa Jadi Pengembang Perumahan

BERBAGI
KOLABORASI: Bank BTN mengajak mahasiswa IPB untuk menjadi entrepeneur di bisnis perumahan.

Rata-rata kebutuhan rumah mencapai angka 800 ribu setiap tahunnya. Di sisi lain, pengembang perumahan di Indonesia hanya mampu menyediakan 400 ribu rumah. Pertanyaannya, siapa yang akan membangun rumah? Menjawab itu, Bank BTN bekerja sama dengan IPB menggelar ”Workshop Literasi Property 10.000 Entrepreneur in Property” , di gedung Andi Hakim Nasution, kemarin (26/10).

Dikatakannya, di Indonesia hanya 1,5 persen yang menjadi entrepreneur. Dan tidak seluruhnya bergerak di bidang properti. Padahal, di samping ada misi sosial membangun rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Namun dari sisi keuntungan sangat menjanjikan.

“Apa masalahnya? Ada empat pilar yang harus dikuasai,pertama adalah land (lahan).Kami ajarin nanti di situ bagaimana mengakuisisi lahan yang murah supaya harga jualnya masuk. Kemudian kapital, kami sediakan KPR,untuk konsumen membeli rumah yang dibangun,” katanya.

Kemudian juga konstruksiuntuk membangun rumah. Nah, yang tak kalah pentingnya adalah perizinan. Bagaimana mengurus izin mendirikanbangunan (IMB), sertifikat dan segala macam hingga akhirnya keterampilan menjadi pengembang muncul.

“Secara keseluruhan, se-Indonesia workshop literasi properti ini memecahkan rekor MURI sebagai peserta terbanyak, total 10.000. Dan tak terkecuali,animo peserta di IPB tinggi.Jadi, kita senang kalau mereka memiliki passion membangun negeri ini, langkah awal menjadi pengembang,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Delta Grup, Hari Endang Kawijaya, berkesempatan hadir membagikan ilmunya kepada para mahasiswa. Dia menguraikan, disebut bisnis properti karena saat mengolah tanah mentah menjadi kawasan perumahan yang bernilai lebih tinggi dari tanah aslinya.

“Sebagai pemula yang paling mudah adalah dengan menjadi agen atau broker,” katanya.

Bagi para pemula yang ingin mengenal dunia bisnis properti, diwajibkan terjun ke rumah bersubsidi dulu. Sebab, rumah subsidi banyak demand, karena didukung pemerintahseluruhnya.

“Tantangan dan kesulitan, mulai dari lahan, karena harga tanahmaksimal Rp200 ribu mulai sulit dengan tingkat akses memadai. Selain itu banyak lahan sengketa,belum lagi dengan perizinan yang banyak kekusutan,”imbuhnya. Terlepas dari itu,menurut Endang, berbisnis rumah subsidi ada faktor amal karena harus sesuai dengan pemerintah, meski tidak dibantu pemerintah di awal. (wil/c)

Komentar Anda