Beranda Ekonomi

Beban Pajak Capai 60% Harga Rokok

BERBAGI

JAKARTA–Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) menyesalkan kebijakan cukai yang hanya berfokus pada rokok. Koordinator Media Center AMTI Hananto Wibisono me­ngungkapkan, sebenarnya banyak industri lain yang bisa berkontribusi menambah pendapatan cukai.

”Kenapa negara tidak mencari objek lain yang bisa diandalkan,” katanya. Pemerintah menaikkan tarif cukai rokok 10,04 persen. Pemerintah, kata dia, seharusnya bijak dalam mencari keuntungan dari cukai.

“Kita lihat ekonomi melambat. Daya beli masyarakat turun serta diiringi kenaikan inflasi. Dampaknya, penjualan rokok terus turun dan itu akan memukul keberadaan sektor tembakau,” tambahnya. Bahkan, kini beban pajak mencapai 60 persen harga rokok.

Data AMTI menunjukkan, industri rokok terus menurun empat tahun terakhir. Pada 2013, industri rokok mencapai 346 miliar batang, pada 2014 memperoleh 345 miliar batang, pada 2015 naik mencapai 348 batang, dan 2016 turun menjadi 342 miliar. Per Juli 2017, industri batang rokok kembali turun menjadi 7 miliar batang.

Grafis keungan emiten rokok

Sebelumnya diberitakan rencana kenaikan cukai rokok sebesar 10,04 persen tahun depan akan membebani emiten rokok. Setiap tahun, kenaikan cukai biasanya membuat harga rokok naik. Meski kenaikan cukai rokok terus menurun, hal tersebut tetap akan memengaruhi produksi dan penjualan rokok. Pada 2016, cukai rokok naik 11,19 persen. Kemudian tahun ini cukai rokok naik 10,54 persen.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira Adhinegara me­ngatakan, rencana kenaikan cukai selalu memukul industri rokok, tak terkecuali perusahaan besar yang listing di bursa efek. “Laba mereka akan turun, otomatis. Jadi dalam tiga tahun terakhir, dengan kenaikan cukai rokok yang di atas 10 persen, volume produksi rokok bisa turun 2 persen,” katanya.

Analis OSO Sekuritas Riska Afriani mengungkapkan, emiten rokok biasanya membatasi kenaikan harga jual meski cukai terus naik. Hal itu dilakukan untuk menjaga pangsa pasarnya (market share). Dampaknya, margin yang didapat tumbuh kurang maksimal. “HMSP penurunannya cukup besar,” tuturnya.(car/c16/sof)

Komentar Anda

Baca Juga